Indonesia Jadi Negara Paling Banyak Gunakan AI untuk Belajar, AS dan China Kalah
Indonesia tercatat sebagai negara dengan proporsi penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan dan pembelajaran pribadi tertinggi dalam survei yang dilakukan Statista Consumer Insights. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID — Indonesia tercatat sebagai negara dengan proporsi penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan dan pembelajaran pribadi tertinggi dalam survei yang dilakukan Statista Consumer Insights. Namun, tingginya penggunaan AI ini juga membawa tantangan besar bagi kemampuan berpikir kritis siswa.
Data Statista dikutip pada Jumat (11/9/2026) menunjukkan 61 persen responden di Indonesia mengaku menggunakan perangkat AI untuk kebutuhan pendidikan dan belajar dalam kehidupan pribadi. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara 10 negara yang disurvei.
India berada di posisi kedua dengan 57 persen, disusul Afrika Selatan 56 persen. Brasil mencatat 44 persen, China 42 persen, Spanyol 30 persen, Australia 26 persen, Jerman 25 persen, Amerika Serikat (AS) 22 persen, dan Belanda 14 persen.
Survei tersebut dilakukan terhadap responden berusia 18-64 tahun pada Januari hingga Juni 2026. Statista menyebut pendidikan dan pembelajaran termasuk tiga besar penggunaan AI untuk kebutuhan pribadi di sebagian besar negara yang diteliti.
Di AS dan Jerman, pendidikan bahkan menjadi penggunaan AI pribadi paling populer kedua setelah riset atau pencarian informasi daring.
Meski begitu, tingginya penggunaan AI tidak otomatis berarti proses belajar menjadi lebih baik. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) justru mengingatkan pentingnya cara siswa menggunakan teknologi tersebut.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD sekaligus Kepala Program for International Student Assessment (PISA), Andreas Schleicher, mengatakan AI dapat memperkuat pembelajaran jika siswa memiliki kemampuan kognitif dan metakognitif untuk menggunakannya secara bijak.
“AI seharusnya membantu proses berpikir, bukan menggantikannya,” menjadi salah satu pesan utama OECD dalam pembahasan hasil PISA 2025. Siswa perlu mampu memeriksa bukti, membandingkan informasi, serta menilai apakah jawaban yang diberikan AI benar atau menyesatkan.
Peringatan tersebut menjadi semakin penting karena hasil PISA 2025 menunjukkan kemampuan membaca rata-rata di negara-negara OECD turun 28 poin dibandingkan 2015. OECD menilai kemampuan membaca sangat penting di era AI, terutama untuk mengevaluasi informasi, membedakan fakta dan opini, serta menghadapi informasi yang ambigu.
Menariknya, PISA 2025 juga menemukan hubungan yang tidak sederhana antara penggunaan AI dan prestasi belajar. Siswa yang tidak menggunakan AI untuk mengerjakan teks tugas sekolah cenderung memiliki prestasi lebih baik dibandingkan mereka yang menggunakannya.
Namun, di antara pengguna AI secara rutin, siswa yang memanfaatkannya untuk belajar dan mendapat bimbingan dalam menilai kualitas informasi dari AI justru cenderung memiliki hasil belajar lebih baik dibandingkan siswa yang tidak memperoleh bimbingan tersebut.
Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menegaskan teknologi dan AI dapat membantu mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan, tetapi penggunaannya harus memiliki tujuan yang jelas.
Dengan posisi Indonesia sebagai negara dengan tingkat penggunaan AI untuk pendidikan tertinggi dalam survei Statista, tantangannya bukan lagi sekadar mendorong siswa mengenal AI. Yang lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut dipakai untuk memperdalam pemahaman, bukan sekadar menghasilkan jawaban instan.
(Devona R/Sumber: Statista Consumer Insights)
