Pochettino Bingung Hukuman Apa yang Pantas untuk Manchester City
Pelatih Timnas Amerika Serikat (AS) Mauricio Pochettino. (Foto: AFP)
GEBRAK.ID — Mauricio Pochettino ikut angkat suara setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran aturan keuangan Premier League. Pelatih Timnas Amerika Serikat (AS) itu mengaku kesulitan menentukan hukuman yang dianggap adil untuk klub tersebut.
Putusan terhadap Manchester City menjadi salah satu kasus disiplin terbesar dalam sejarah Premier League. Dakwaan yang diajukan mencakup dugaan pelanggaran aturan keuangan dalam rentang 2009-10 hingga 2022-23. Dalam periode tersebut, City meraih tujuh gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions.
Pochettino menilai persoalan tersebut tidak sekadar menyangkut besaran hukuman. Menurutnya, dampak terhadap klub-klub lain yang selama ini bersaing dengan Manchester City juga perlu diperhitungkan.
“Sangat sulit menentukan hukuman yang adil ketika dari 115 dakwaan, Anda dinyatakan bersalah atas 114 di antaranya. Ada klub seperti Nottingham Forest atau Everton yang melanggar aturan dan menerima sanksi berbeda, baik pengurangan poin maupun denda,” kata Pochettino, seperti dikutip The Guardian, Selasa (29/9/2026).
Everton sebelumnya mendapat pengurangan total delapan poin pada musim 2023-24 akibat dua pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR), sedangkan Nottingham Forest terkena pengurangan empat poin.
Pochettino juga mempertanyakan bagaimana pengawasan Premier League bisa berjalan selama bertahun-tahun. Ia teringat pengalamannya ketika menangani Tottenham Hotspur pada masa pembangunan stadion baru.
Menurut Pochettino, Tottenham pernah menjalani sekitar 18 bulan tanpa mendatangkan pemain karena harus menyesuaikan kondisi finansial klub dengan aturan Premier League. Padahal, saat itu Spurs tetap bersaing di papan atas dan mencapai final Liga Champions 2019.
“Mengapa pengawasan terhadap kami begitu ketat, sementara terhadap tim lain tidak seketat itu? Itulah mengapa saya mengatakan semuanya sangat aneh,” ujar Pochettino.
Pochettino bahkan menilai persoalan tersebut telah memunculkan pertanyaan lebih besar mengenai keadilan olahraga. Ia mengatakan sulit memperbaiki dampak yang sudah terjadi apabila pelanggaran yang diputuskan tersebut benar-benar memengaruhi persaingan di masa lalu.
“Pada akhirnya, kita berada dalam situasi ketika apa yang dirayakan mungkin tidak sepenuhnya nyata. Kami telah melewati periode ketika keadilan olahraga tidak ada. Bagaimana cara memperbaiki semua kerusakan yang terjadi?” katanya.
Pochettino sebelumnya juga menyinggung kasus Chelsea. Saat masih menangani Tottenham, ia merasa timnya dirugikan dalam persaingan perebutan gelar Premier League 2016-2017. Tottenham finis sebagai runner-up di bawah Chelsea.
“Saya pernah mengatakan mengenai situasi Chelsea, ketika kami bersaing memperebutkan gelar bersama mereka saat saya masih di Tottenham. Mereka lebih baik karena meraih lebih banyak poin, tetapi kemudian ada pelanggaran aturan. Bagaimana cara memperbaikinya?” ujar Pochettino.
Adapun Manchester City tetap mempertahankan sikap bahwa mereka tidak bersalah dan diperkirakan akan mengajukan banding. Ketua klub Khaldoon Al Mubarak menegaskan keyakinan City untuk membuktikan posisi mereka dalam proses hukum berikutnya.
Hingga kini, bentuk sanksi akhir terhadap Manchester City belum diumumkan. Proses banding juga berpotensi membuat penyelesaian kasus berlangsung panjang.
(A. Rayyan K/Sumber: The Guardian)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID