STEM tak Harus Rumit, Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Guru dengan Prinsip 5M
Penerapan Program Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) di sekolah perlu didukung dengan meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran STEM yang sesuai prinsip Pembelajaran Mendalam serta prinsip 5M. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, KUDUS — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) di sekolah. Pendekatan ini diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan inovatif peserta didik melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kemendikdasmen mengenalkan penerapan STEM melalui prinsip 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Konsep tersebut menegaskan bahwa pembelajaran STEM tidak harus menggunakan peralatan mahal atau metode yang rumit.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam penerapan Program STEM Nasional. Guru tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga kemampuan menciptakan pengalaman belajar yang relevan, inspiratif, dan memberi dampak bagi peserta didik.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan penguatan STEM menjadi bagian dari program prioritas kementeriannya. Sebanyak 3.272 guru ditargetkan menjadi sasaran pengimbasan melalui fasilitator daerah.
“Dengan implementasi terarah, pembelajaran STEM dengan prinsip 5M yang erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” kata Nunuk di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (3/9/2026).
Kemendikdasmen juga telah membentuk 155 Fasilitator Nasional melalui pelatihan yang menggandeng Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education. Penguatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan teknis, micro-credential, serta lokakarya lintas jenjang.
Nunuk menilai dukungan pemerintah daerah dan berbagai mitra menjadi faktor penting agar program tersebut memberi dampak nyata.
“Sebagai wujud partisipasi semesta, dukungan Bupati Kudus beserta seluruh jajaran pemerintahan, para kepala dinas pendidikan, dan tentunya seluruh mitra pembangunan, termasuk Pusat Belajar Guru menjadi kunci Program STEM ini dapat berjalan dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia,” tegas Nunuk.
Guru RA Miftahul Falah Dawe, Fitri Anggraeni, mengajak para pendidik terus meningkatkan kemampuan dan berbagi pengalaman.
“Mari kita terus semangat belajar mengasah kemampuan dan saling menginspirasi bertukar pengalaman mengajar untuk memperkaya wawasan dan mencetak generasi unggul,” pesannya.
Guru TKIT Umar bin Khatab, Annisa, berharap program tersebut mendorong guru menciptakan pembelajaran kreatif untuk menumbuhkan pola pikir kritis anak sejak dini.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus Anggun Nugroho menyatakan pihaknya akan menerapkan program secara bertahap.
“Kami akan mengimplementasikan program ini secara bertahap di semua jenjang. Mungkin akan ada piloting satu atau dua sekolah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan secara menyeluruh di Kudus,” ujar Anggun.
Sementara itu, Kepala Disdikpora Kabupaten Jepara Adi Hananto mengatakan pihaknya akan mendukung program melalui komunitas belajar guru agar penerapan STEM dapat menyebar ke lebih banyak pendidik.
Pendekatan STEM mendorong anak belajar dari persoalan nyata di lingkungan sekitar, bukan sekadar menghafal rumus. Melalui prinsip 5M dan semangat “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta”, guru dapat mengenalkan STEM secara sederhana di sekolah mana pun.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
