Studi Terbaru: Kuasai Banyak Bahasa, Penuaan Otak Bisa Lebih Lambat hingga 13 Tahun
Penelitian terbaru menunjukkan, kemampuan menggunakan banyak bahasa berkaitan dengan pola aktivitas otak yang tampak lebih muda dibandingkan usia sebenarnya. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID — Menguasai lebih dari satu bahasa ternyata tidak hanya membantu seseorang berkomunikasi dengan lebih banyak orang. Penelitian terbaru menunjukkan, kemampuan menggunakan banyak bahasa berkaitan dengan pola aktivitas otak yang tampak lebih muda dibandingkan usia sebenarnya.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang melibatkan masyarakat di wilayah Basque, Spanyol. Para peneliti menganalisis pengalaman berbahasa dari peserta yang menggunakan satu hingga empat bahasa untuk melihat kaitannya dengan proses penuaan otak.
Mengutip laman Real Simple pada Jumat (18/9/2026), dalam penelitian yang dipresentasikan pada Federation of European Neuroscience Societies (FENS) Forum 2026, tim peneliti menggunakan magnetoensefalografi atau MEG untuk merekam aktivitas otak. Data tersebut kemudian digunakan bersama kecerdasan buatan untuk membangun model yang memperkirakan usia otak berdasarkan pola konektivitas dan aktivitas saraf.
Hasilnya cukup menarik. Orang yang menguasai dua bahasa memiliki estimasi usia otak sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan kelompok yang hanya menggunakan satu bahasa. Pada mereka yang menguasai tiga bahasa, selisihnya sekitar tujuh tahun.
Sementara itu, peserta yang menggunakan empat bahasa menunjukkan pola aktivitas otak yang diperkirakan setara dengan usia otak sekitar 13 tahun lebih muda dibandingkan kelompok monolingual. Namun, angka tersebut merupakan hasil estimasi model “brain age”, bukan berarti penuaan biologis otak seseorang benar-benar mundur 13 tahun.
Penelitian itu melibatkan 728 orang untuk membangun “jam penuaan otak”, kemudian model tersebut diterapkan pada kelompok lain yang berjumlah 144 orang. Peserta berasal dari wilayah Basque yang memiliki lingkungan multibahasa, dengan bahasa seperti Spanyol, Basque, Prancis, dan Inggris.
Lucia Amoruso dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián menjadi salah satu peneliti utama. Timnya menemukan bahwa jumlah bahasa bukan satu-satunya hal yang berkaitan dengan usia otak.
Kemampuan menggunakan bahasa dengan baik serta usia ketika seseorang mulai mempelajari bahasa kedua juga memiliki kaitan dengan hasil tersebut. Dengan kata lain, pengalaman berbahasa tampaknya tidak sekadar soal berapa banyak bahasa yang diketahui, tetapi juga seberapa lama dan seberapa baik bahasa tersebut digunakan.
Temuan ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang diterbitkan di Nature Aging pada 2025. Studi tersebut menganalisis data dari 27 negara Eropa dan melaporkan adanya hubungan antara kemampuan multibahasa dan perlambatan penuaan yang dipercepat.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan agar hasil penelitian tidak ditafsirkan sebagai bukti bahwa belajar bahasa secara langsung menyebabkan otak menua lebih lambat. Gaya hidup, tingkat pendidikan, aktivitas sosial, dan berbagai faktor lain juga dapat memengaruhi kesehatan otak.
Penelitian lanjutan kini diperlukan untuk mengetahui apakah kombinasi bahasa tertentu memberikan pengaruh berbeda terhadap aktivitas otak. Para peneliti juga ingin memahami lebih jauh hubungan antara kemampuan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dengan fungsi otak.
Bagi masyarakat, temuan tersebut memberikan alasan tambahan untuk melihat belajar bahasa sebagai aktivitas yang tidak hanya bermanfaat untuk pendidikan, pekerjaan, dan hubungan sosial, tetapi juga menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan otak sepanjang kehidupan.
(Devona R/Sumber: Real Simple)
