Sutradara Giant Ojō-sama Ungkap Tantangan Menghidupkan Karakter Raksasa di Dunia Anime

Sutradara Giant Ojō-sama Ungkap Tantangan Menghidupkan Karakter Raksasa di Dunia Anime.. (Foto: Anime News Network).

Sutradara Giant Ojō-sama Ungkap Tantangan Menghidupkan Karakter Raksasa di Dunia Anime.. (Foto: Anime News Network).

GEBRAK.ID– Anime Giant Ojō-sama akan menghadirkan konsep yang tidak biasa: seorang gadis bangsawan berukuran raksasa yang bergerak di tengah kota. Menjelang penayangannya pada Januari 2027, sutradara Hiroshi Ikehata membagikan sejumlah cerita mengenai proses produksi anime tersebut, termasuk tantangan dalam menggambarkan skala tubuh sang karakter, menjaga nuansa komedi, hingga bekerja sama langsung dengan pencipta manganya, Nikumura Q.

Hiroshi Ikehata sendiri merupakan sutradara veteran yang telah lama berkecimpung di industri anime. Ia pernah menangani berbagai judul dengan genre dan gaya berbeda, termasuk Robot Girls Z, Kiratto Pri Chan, dan Witch Watch. Pengalamannya tersebut kini dimanfaatkan untuk membawa Giant Ojō-sama dari halaman manga ke layar televisi.

Mengenal Giant Ojō-sama Sebelum Adaptasi Anime

Ikehata mengaku sudah mengetahui Giant Ojō-sama sebelum dirinya terlibat dalam proyek anime. Ketika versi pilot manga tersebut pertama kali beredar, karya itu sempat mendapat perhatian di komunitas daring yang menyukai tema karakter perempuan raksasa.

Ia memang tidak membaca setiap bab manga, tetapi sesekali mengikuti karya tersebut secara daring. Menurutnya, perpaduan konsep “giantess” dengan karakter ojō-sama, atau putri pewaris keluarga kaya, merupakan kombinasi yang terasa segar dan menarik.

Tantangan Mengadaptasi Dunia Manga ke Anime

Salah satu fokus utama Ikehata adalah memastikan dunia dalam manga tetap terasa autentik ketika diubah menjadi animasi. Namun, ia tidak hanya ingin mempertahankan tampilan visualnya.

Menurut sang sutradara, hubungan antarkarakter dan rasa realisme yang menjadi bagian penting dari cerita juga harus dipertahankan. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan utama selama produksi.

Manga karya Nikumura Q juga memiliki banyak detail kecil yang mungkin luput ketika dibaca sekilas. Detail-detail tersebut ternyata memiliki maksud tertentu dan mencerminkan perhatian sang mangaka terhadap dunianya. Tim produksi berusaha memasukkan elemen-elemen tersebut ke dalam anime.

Ada pula bagian manga yang sengaja digambar dengan gaya kasar. Bagi Ikehata, gaya tersebut justru memiliki daya tarik tersendiri karena digunakan untuk menciptakan efek komedi. Tantangannya adalah menerjemahkan “kekasaran” tersebut ke animasi sehingga penonton memahami bahwa tampilannya memang sengaja dibuat demikian, bukan sekadar hasil gambar yang belum selesai.

Merancang Oriko untuk Versi Anime

Oriko tentu menjadi pusat perhatian dalam Giant Ojō-sama. Selain ukuran tubuhnya yang luar biasa besar, penampilannya juga merupakan elemen penting dari daya tarik karakter tersebut.

Ikehata meminta desainer karakter Hajime Mitsuda agar Oriko tetap memiliki sisi yang sedikit ceroboh dan dekat dengan penonton meskipun dirinya adalah seorang pewaris keluarga kaya. Tim produksi berusaha menemukan keseimbangan agar sisi “putri bangsawan” maupun sifat kasual Oriko tidak terasa berlebihan.

Mereka juga mendiskusikan periode gaya gambar manga yang paling cocok dijadikan dasar untuk desain anime. Hal ini menjadi pertimbangan karena ilustrasi manga mengalami perkembangan dan menjadi semakin detail seiring berjalannya seri.

Salah satu bagian yang cukup menyulitkan adalah warna rambut Oriko. Tim bahkan menggunakan teknik gradasi dua lap

(Damar Pratama/ Anime News Network 15 September 2026).