Tauhid dan Siyasah dalam Perayaan 100 Tahun Gontor
Novriantoni Kahar, Alumni Emas Gontor 1996. (Foto: Dok.Pribadi)
Oleh Novriantoni Kahar
(Alumni Emas Gontor 1996)
Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor pada 1996, ditambah bonus setahun dimahasiswakan di Institut Studi Islam Darussalam (ISID), yang kini telah berkembang menjadi kampus megah Universitas Darussalam (UNIDA), saya masih saja sering dibuat kesal oleh almarhum bapak.
Pasalnya, dalam berbagai perbincangan di meja makan maupun percakapan umum tentang kehidupan, saya masih sering dituduh kurang bertauhid. Bahkan ketika telah selesai belajar akidah dan filsafat di Universitas Al-Azhar, Kairo, almarhum bapak masih saja menuduh saya kurang bertauhid.
Ini penting saya ingat-ingat lagi karena perayaan dan kesyukuran 100 tahun atau satu abad berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo pada 18-20 September 2026 lalu memberi saya kesempatan untuk kembali merenungkan makna terdalam konsep bertauhid.
Di Atas Hanya Allah, di Bawah Hanya Tanah
Kalimat paling kuat yang saya dengar selama kembali menjejakkan kaki di Gontor akhir pekan lalu adalah ungkapan Pimpinan Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, yang tertera di atas. Di hadapan Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto beserta jajaran menteri dan pejabat NKRI, Ustad atau Pak Hasan, begitu kami biasa menyapa beliau, dengan mantap dan lantang mengucapkan: di atas kita hanya Allah, di bawah kita hanya tanah.
Terlepas dari banyaknya kutipan yang dapat diambil dari pidato Pak Hasan di hadapan Presiden RI, saya menganggap itulah ungkapan paling bertenaga sekaligus paling berbahaya yang selama ini telah membangun karakter dan jiwa santri-santri serta alumni Gontor.
Bagi saya, kalimat Pak Hasan itu adalah esensi bertauhid paling dalam dengan formulasi bahasa yang paling mudah. Atau katakanlah semacam cara lain untuk mengucapkan kalimat tauhid: tiada Tuhan selain Allah atau la ilaha illallah.
Ungkapan itu memiliki bobot dahsyat dan sangat bertenaga, sekaligus tidak mudah diucapkan dan diamalkan oleh sembarang orang.
Implikasi Tauhid: Bertenaga Sekaligus Berbahaya
Implikasi kalimat tauhid di atas, baik versi resmi maupun versi Pak Hasan, sungguh-sungguh bertenaga sekaligus berbahaya.
Saya menyebutnya bertenaga karena kalimat itu memberi energi dan piranti spiritual kepada orang-orang yang benar-benar menghayati dan mengamalkannya. Mengatakan di atas hanya Allah menandakan bahwa sang penutur sudah selesai dengan ketakjuban dan penghormatan berlebihan kepada sosok selain Allah. Dia tidak lagi punya atasan selain Allah.
Mengatakan di bawah hanya tanah menandakan bahwa sang penutur hanya siap bersujud kepada Allah sebagai kekuasaan tertinggi. Atau, kalaupun dipaksa, dia lebih baik kembali (rajiun) kepada Zat yang telah memberinya kesempatan hidup (hawla) dan kekuatan (quwwata) dalam menghadapi problem, rintangan, cabaran, cobaan, bahkan ancaman-ancaman kehidupan.
Mengatakan dan mengamalkan filosofi hidup seperti itu sungguh tidak mudah. Sebab, di dunia yang fana ini, kita tidak hanya hidup dengan sesama manusia, tetapi tak jarang menemukan tiran-tiran dan tuhan-tuhan kecil (ilah) yang tidak rela membiarkan kita bertauhid secara leluasa. Bahkan, mereka dapat menuntun dan menuntut kita untuk takluk dan tunduk di hadapan kekuasaan dan kewenangannya.
Di situlah letak bahayanya. Karena selain Tuhan, selalu ada tiran (thughyan).
Karena itu, menjalani hidup sebagai Muslim sejati adalah mengalami tarik-menarik yang konstan antara kepasrahan total kepada kekuasaan yang sakral, transendental, dan baka, dengan penyikapan yang tepat serta tidak berlebihan terhadap kekuasaan-kekuasaan yang profan, imanen, dan fana.
Siyasah atau Seni Menjaga Keseimbangan
Ketidakmampuan bersiasat dalam bertauhid atau ketidakpiawaian menjaga keseimbangan antara kepasrahan total kepada Tuhan dan penghormatan yang tidak berlebihan kepada tuan-tuan dan tuhan-tuhan kecil ini bisa sangat berbahaya dan berdampak fatal.
Tanpa siyasah yang tepat atau seni menempatkan diri, seorang yang mengaku bertauhid hanya akan menjadi sosok keras kepala yang naif. Seseorang boleh saja hakkul yakin bahwa hanya Allah yang memberinya hidup, namun kehidupan yang tidak berpihak bisa saja membuatnya lemah dan goyah.
Secara empiris, yang sosiologis tak jarang pula mengatasi yang teologis dan membuat seseorang lemah serta tak berdaya.
Namun, pada Ustad Hasan, kita menemukan teladan tentang sikap bertauhid yang kokoh dan berdaya, sekaligus dianugerahi kemampuan bersiyasah dalam menghormati manusia, apa pun pangkat dan jabatannya, secara sewajarnya saja.
Bahkan, beliau berkelakar kalau dirinya sering pula dicap Aswabi, kombinasi antara penganut Ahlus Sunnah wal Jamaah yang moderat dan penganut Wahabisme ala Saudi yang, antara lain, keras kepala dalam bertauhid.
Kemampuan bersiyasah dalam bertauhid itulah yang beliau tunjukkan secara matang dan elegan di hadapan Presiden RI serta para santri dan alumni Gontor, baik yang sempat hadir maupun yang hanya menyaksikan tayangan atau merasakan setruman pidatonya dari jarak jauh.
Kemampuan memadukan sikap yang kokoh (izzah) dalam bertauhid, keengganan membungkuk dan meminta-minta kepada kekuasaan (dzullah), serta seni bersiyasah yang membuat Presiden RI tidak tersinggung bahkan tersanjung, itulah yang tidak dipunyai semua ulama, apalagi sosok Muslim pada umumnya.
Ketika keseimbangan itu ditunjukkan secara elegan, Presiden RI pun merasa nyaman walau tidak dipertuan sebagaimana laiknya, dan bahkan bersedia berlama-lama berbincang dengan pimpinan Gontor setelah selesainya acara resmi.
Saya kira, itulah tontonan paling menakjubkan sekaligus tuntunan paling mengesankan dalam perhelatan satu abad Gontor.
Walau disebut tuntunan, tulisan ini tidak menyarankan agar sikap serupa dicontoh ataupun diterapkan orang lain karena itu membutuhkan jam terbang dan keahlian tingkat tinggi. Ketidakpiawaian mempraktikkannya dapat mendatangkan risiko dan konsekuensi yang belum tentu dapat ditanggung serta ditanggulangi semua orang.
Namun, yang pasti dapat kita kongsi sebagai santri dan sesama alumni adalah rasa haru dan bangga melihat serta menyaksikan perjalanan satu abad Gontor yang masih tetap kokoh memelihara nilai-nilai luhurnya dan tidak gampang tunduk serta takluk dalam dekapan kepentingan dan pragmatisme duniawi.
All the best, Gontor, Rabbuna yahfaz wa yahmiina!
Jakarta, 20 September 2026.
