UNESCO Ungkap 97 Persen Penduduk RI Melek Huruf, tapi Kemampuan Membaca Masih Jadi Tantangan

1788852618656

Tingkat melek huruf penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mencapai hampir 97 persen pada 2024. Namun, capaian PISA menunjukkan kemampuan membaca siswa masih berada di bawah rata-rata OECD. (Foto: youtube kemendikdasmen)

GEBRAK. ID, JAKARTA –Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam kemampuan melek huruf dasar. UNESCO menyebut hampir 97 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas telah melek huruf pada 2024. Hal tersebut disampaikan Chief of Education UNESCO Regional Office for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, the Philippines and Timor-Leste, serta Liaison to ASEAN, Santosh Khatri, dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Selasa (8/9/2026).

“Menurut statistik di Indonesia, hampir 97% dari penduduk berusia 15 tahun ke atas melek huruf pada 2024,” kata Santosh. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan Indonesia dalam memperluas kemampuan baca-tulis dasar di kalangan penduduk.

Data UNESCO Institute for Statistics (UIS) juga menunjukkan tingkat literasi penduduk dewasa Indonesia berada pada level tinggi. Profil pendidikan UNESCO mencatat tingkat literasi penduduk usia 25-64 tahun sebesar 97 persen berdasarkan data yang tersedia.

Kemampuan membaca masih menjadi tantangan

Meski tingkat melek huruf dasar sudah tinggi, kemampuan membaca dalam konteks yang lebih kompleks masih menjadi tantangan bagi pendidikan Indonesia. Hal tersebut tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Dalam PISA 2022, Indonesia memperoleh skor rata-rata 359 poin untuk membaca.Angka tersebut berada di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 476 poin. Dalam kemampuan matematika, Indonesia memperoleh skor rata-rata 366 poin, sedangkan rata-rata OECD mencapai 472 poin. Sementara untuk sains, skor Indonesia berada di angka 383 poin, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 485 poin.

OECD juga mencatat hasil PISA 2022 Indonesia mengalami penurunan dibandingkan 2018 pada matematika, membaca, dan sains. Hanya seperempat siswa mencapai level minimum membaca

Data PISA menunjukkan kesenjangan antara kemampuan melek huruf dasar dan kemampuan memahami bacaan pada tingkat yang diukur melalui asesmen internasional. OECD mencatat sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam kemampuan membaca.

Rata-rata negara OECD untuk capaian yang sama mencapai 74 persen.

Pada Level 2, siswa setidaknya mampu mengidentifikasi gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika mendapat arahan. Sebaliknya, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih tinggi dalam kemampuan membaca. Pada kelompok negara OECD, rata-rata siswa yang mencapai level tersebut mencapai 7 persen.

Literasi tidak hanya soal bisa membaca dan menulis

Data tersebut memperlihatkan bahwa pengukuran literasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan mengenali huruf, membaca kata, dan menulis. Dalam PISA, kemampuan membaca mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, serta berinteraksi dengan teks untuk mencapai tujuan tertentu dan mengembangkan pengetahuan.

Karena itu, tingginya angka melek huruf dasar tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh siswa telah memiliki kemampuan literasi membaca pada tingkat yang diharapkan dalam asesmen PISA. UNESCO sendiri terus menempatkan literasi sebagai bagian penting dari agenda pendidikan global.

Dalam pembaruan data pendidikan 2026, UNESCO Institute for Statistics menyebut literasi global berada pada sekitar 93 persen untuk kelompok usia muda dan 88 persen untuk orang dewasa.

Indonesia terus menghadapi tantangan peningkatan kualitas pendidikan

Hasil PISA 2022 juga menunjukkan masih besarnya proporsi siswa Indonesia yang belum mencapai tingkat kompetensi minimum. Untuk matematika, hanya 18 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 69 persen. Sementara pada sains, sekitar 34 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 76 persen.

Dengan demikian, capaian hampir 97 persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang melek huruf menjadi salah satu indikator kemajuan pendidikan dasar Indonesia. Namun, data PISA menunjukkan tantangan berikutnya adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan menggunakan informasi dari bacaan serta menerapkan pengetahuan untuk memecahkan persoalan.

(Devona R/ YouTube)