IHSG Anjlok 11% Usai Tranding Halt, Level Terendah Sejak 2020
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan jual tajam setelah penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit dicabut pada Jumat (16/10/2026). IHSG merosot hingga 11,2% ke level 5.199,13, menjadikannya posisi terendah sejak 2020 atau dalam lebih dari enam tahun terakhir. Pada perdagangan Jumat pagi, IHSG terus bergerak di zona merah seiring meningkatnya tekanan jual. Indeks sempat bergerak dalam rentang 5.404,5 hingga menyentuh level terendah 5.193,22.
Aktivitas perdagangan didominasi oleh aksi jual. Volume transaksi tercatat mencapai 8,61 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp3,17 triliun. Sementara itu, frekuensi transaksi mencapai 244 ribu kali. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 18 saham yang berhasil menguat. Sebaliknya, sebanyak 675 saham melemah, sedangkan 30 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Ancaman Perubahan Status Pasar oleh MSCI
Penurunan tajam IHSG dipengaruhi sentimen negatif menyusul pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kelayakan Indonesia untuk mempertahankan status sebagai pasar berkembang (Emerging Market).
MSCI saat ini disebut tengah melakukan konsultasi atas usulan untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia menjadi pasar mandiri (Standalone Market). Usulan tersebut didasarkan pada kekhawatiran mengenai disfungsi pasar serta minimnya bukti penegakan aturan yang efektif. Jika perubahan klasifikasi tersebut diterapkan, pasar saham Indonesia berpotensi menghadapi tekanan tambahan akibat aksi jual investor yang menyesuaikan portofolionya terhadap perubahan status tersebut.
Gejolak pasar saham juga tercermin dari arus keluar dana investor asing. Sepanjang Oktober atau secara month-to-date (MTD), investor tercatat melepas kepemilikan saham di pasar Indonesia senilai US$212,5 juta. Sementara itu, secara year-to-date (YTD), nilai pelepasan saham mencapai US$4,87 miliar.
Baca Juga
Rupiah Justru Melemah
Tekanan di pasar keuangan turut membayangi nilai tukar rupiah yang melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) Sepanjang 2025, rupiah tercatat melemah 7,6% terhadap dolar AS dan sempat berada di atas level Rp18.100 per dolar AS. Pada perdagangan pagi Jumat (16/10/2026), nilai tukar dolar AS setara dengan Rp18.063.
Pelemahan rupiah turut dipengaruhi pengumuman MSCI yang mempertimbangkan perubahan status pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market. Ancaman perubahan status tersebut dinilai lebih serius dibandingkan kemungkinan penurunan klasifikasi ke Frontier Market atau pasar perbatasan, yang sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan MSCI.
Di luar sentimen MSCI, rupiah juga menghadapi tekanan dari tingginya harga minyak dunia yang masih bertahan di atas US$105 per barel. Tekanan tersebut diperkuat oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) setidaknya satu kali pada bulan ini. Kombinasi tekanan di pasar saham, potensi perubahan klasifikasi pasar oleh MSCI, pelemahan rupiah, dan tingginya harga minyak dunia menjadi tantangan bagi pasar keuangan Indonesia. (*)
(Zaky Al Hamzah/bloombergtechnoz)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID