Houthi Serang Istana Presiden Yaman dengan Rudal Balistik, 5 Orang Tewas dan 16 Terluka
Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal balistik ke kompleks Istana Kepresidenan Al-Maashiq di Aden, ibu kota sementara Yaman, pada Kamis (15/10/2026). Menurut Menteri Kesehatan Yaman Qassem Buhaibeh, serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID — Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal balistik ke kompleks Istana Kepresidenan Al-Maashiq di Aden, ibu kota sementara Yaman, pada Kamis (15/10/2026). Menurut Menteri Kesehatan Yaman Qassem Buhaibeh, serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya.
Seorang sumber pemerintah yang dikutip Anadolu menyebut serangan itu melibatkan lima rudal balistik. Sejumlah pejabat pemerintahan dilaporkan berada di dalam kompleks istana ketika serangan terjadi.
Buhaibeh mengatakan korban meninggal terdiri atas petugas keamanan dan pegawai sipil yang bekerja di kompleks kepresidenan. Ia menyamakan insiden tersebut dengan serangan terhadap pemerintah Yaman di Bandara Aden pada Desember 2020.
Meski serangan menimbulkan korban jiwa, Perdana Menteri Yaman Shaya al-Zindani dan anggota kabinet dilaporkan selamat. Kementerian Penerangan Yaman memastikan para pejabat pemerintahan dalam kondisi aman setelah serangan berlangsung.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan asap membubung dari kompleks Istana Al-Maashiq. Serangan itu menjadi eskalasi serius karena menyasar kompleks yang digunakan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
Baca Juga
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, membenarkan serangan tersebut. Ia menyebut sasaran operasi mereka sebagai “markas operasi perang Arab Saudi” di Aden dan menegaskan bahwa keberadaan militer Arab Saudi merupakan sasaran yang dianggap sah oleh kelompoknya.
Di luar Aden, kantor berita Saba yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman juga melaporkan serangan rudal Houthi terhadap kawasan permukiman di Kota Marib. Rumah-rumah warga sipil di sekitar kompleks kepresidenan Aden turut dilaporkan terdampak. Informasi mengenai kerusakan dan korban di lokasi lain masih memerlukan perkembangan lebih lanjut.
Konflik Yaman telah berlangsung sejak kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa pada 2014. Peristiwa itu mendorong pemerintah yang diakui secara internasional meninggalkan kota tersebut. Setahun kemudian, koalisi militer pimpinan Arab Saudi turun tangan untuk mendukung pemerintah Yaman.
Situasi keamanan kembali memburuk pada 2026 setelah ketegangan dan pertempuran meningkat di sejumlah wilayah. Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yaman, Hans Grundberg, sebelumnya memperingatkan bahwa negara itu menghadapi risiko kembali terjerumus ke dalam konflik berskala besar.
Serangan terhadap kompleks kepresidenan memperlihatkan semakin tingginya risiko bagi lembaga pemerintahan dan masyarakat sipil. Di tengah eskalasi tersebut, perlindungan warga serta upaya meredakan pertempuran menjadi tantangan mendesak bagi pihak-pihak yang terlibat.
(A. Rayyan K/Sumber: Anadolu)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID