Skor TKA SMA 200–800 Bukan Persentase Nilai, Ini Penjelasannya

siswa sma tka

Tes Kemampuan Akademik di jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat. (Foto ilustrasi: Ibar Warsita/BKHM Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan penggunaan skala skor 200–800 dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat pada 2026. Skala baru tersebut bukan menunjukkan persentase jawaban benar, melainkan cara menyajikan estimasi kemampuan akademik murid berdasarkan sistem pengukuran terstandar.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengatakan hasil TKA perlu dipahami sebagai gambaran kemampuan akademik, bukan sekadar hitungan jawaban benar. Informasi tersebut diharapkan membantu murid mengenali capaian belajarnya, sekolah memperbaiki pembelajaran, serta perguruan tinggi memperoleh data pendukung untuk seleksi akademik.

“Angka 200–800 akan bermakna apabila membantu kita membaca capaian murid dan memperbaiki pembelajaran,” kata Toni di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Perubahan ini berkaitan dengan metode pengukuran yang memperhitungkan karakteristik setiap soal. Kemendikdasmen menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT) dengan model dua parameter atau IRT 2PL. Metode tersebut mempertimbangkan tingkat kesulitan dan daya pembeda soal untuk memperkirakan kemampuan peserta.

Sebagai ilustrasi, dua murid mungkin sama-sama menjawab delapan dari sepuluh soal dengan benar. Namun, jumlah jawaban benar yang sama belum tentu menunjukkan tingkat kemampuan yang setara apabila keduanya mengerjakan paket soal dengan karakteristik berbeda.

Karena itu, skor TKA tidak bisa dibaca seperti nilai ujian konvensional. Skor 600, misalnya, tidak berarti murid menjawab benar 60 persen soal. Rentang 200–800 merupakan skala pelaporan hasil pengukuran, bukan persentase maupun batas mutlak kemampuan seseorang.

Kemendikdasmen juga menegaskan bahwa perubahan skala tidak berarti soal TKA menjadi lebih sulit. Metode pengukuran dan skala pelaporan merupakan dua hal berbeda. Hasil dari skala baru pun tidak dapat dikonversi ke skala lama hanya dengan perkalian atau pembagian sederhana.

Untuk membandingkan hasil antartahun, penyelenggara melakukan penyetaraan melalui estimasi kemampuan menggunakan IRT. Meski demikian, selisih skor yang kecil tetap perlu ditafsirkan secara hati-hati dengan memperhitungkan galat pengukuran.

Hasil TKA dapat digunakan sekolah bersama nilai rapor, penilaian kelas, dan hasil pekerjaan murid untuk menentukan kebutuhan pendampingan belajar. Orang tua juga bisa memanfaatkannya untuk memahami bidang yang perlu diperkuat.

Sementara itu, perguruan tinggi dapat menggunakan hasil TKA sebagai informasi pendukung dalam seleksi jalur prestasi sesuai ketentuan yang berlaku. Hasil tersebut perlu dibaca bersama informasi akademik lain agar memberikan gambaran yang lebih utuh.

Melalui penjelasan ini, Kemendikdasmen mendorong sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi memahami skor TKA secara tepat. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan angka, melainkan membantu memetakan kemampuan murid dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID