PAUD Jadi Fondasi Pendidikan, Anak Diarahkan Tumbuh Jadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Kemendikdasmen menegaskan PAUD sebagai fondasi pendidikan nasional untuk membentuk anak menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat menutup kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Revitalisasi PAUD Angkatan ke-62 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (11/8/2026).

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat menutup kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Revitalisasi PAUD Angkatan ke-62 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (11/8/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, BATAM — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD). Langkah ini sebagai fondasi dalam membangun sistem pendidikan nasional.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menyampaikan hal tersebut saat menutup kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Revitalisasi PAUD Angkatan ke-62 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (11/8/2026).

Menurut Fajar, revitalisasi PAUD tidak cukup hanya memperbaiki bangunan dan fasilitas pendidikan. Pemerintah juga ingin membangun apa yang ia sebut sebagai “infrastruktur kognitif” anak sejak usia dini.

Konsep tersebut berkaitan dengan upaya menumbuhkan rasa ingin tahu, motivasi belajar, serta pola pikir anak agar mereka memiliki kemauan untuk terus belajar hingga dewasa.

“Bagaimana kita bisa membangun pola pikir, mental putra-putri kita sejak usia dini untuk menjadi seorang pembelajar. Untuk menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat,” ujar Fajar.

Fajar menjelaskan, PAUD memiliki posisi penting dalam membentuk motivasi intrinsik anak. Lingkungan belajar pada usia tersebut perlu mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu sekaligus keberanian bertanya.

“Pertama membangun rasa ingin belajar. Motivasi intrinsik untuk belajar harus tumbuh dari anak-anak kita. Yang kedua adalah membangun budaya bertanya. Itu dari curiosity sebenarnya,” kata Fajar.

Fondasi Sistem Pendidikan Nasional

Kemendikdasmen, lanjut Fajar, ingin menempatkan PAUD sebagai bagian yang terintegrasi dalam ekosistem pendidikan nasional. Posisi tersebut membuat pengembangan PAUD tidak hanya berfokus pada kebutuhan pendidikan anak saat ini, tetapi juga menjadi dasar bagi jenjang pendidikan berikutnya.

“Yang pada intinya kami ingin meletakkan PAUD itu sebagai fondasi untuk sistem pendidikan nasional. Dan itu nanti akan terintegrasi dengan ekosistem pendidikan nasional,” tegasnya.

Karena itu, Fajar meminta proses revitalisasi berjalan dengan perencanaan dan pelaksanaan yang baik. Pemerintah daerah, terutama dinas pendidikan, juga perlu ikut mengawal pembangunan satuan PAUD penerima bantuan.

“Harapannya dan tentu tujuannya supaya proses pembangunan revitalisasi nanti betul-betul aman, lancar, amanah, dan dengan kualitas bangunan yang terstandar,” jelas Fajar.

Selain aspek fisik, kualitas lingkungan belajar juga menjadi perhatian. Fajar menyebut PAUD berperan dalam mendukung pertumbuhan fisik dan motorik, perkembangan kognitif, serta kemampuan sosial emosional anak. “Pendidikan pada level usia dini harus membentuk pertama, mendorong pertumbuhan fisik, motorik, kedua pertumbuhan kognitif, ketiga pertumbuhan sosial emosional.”

PAUD sebagai Rumah Kedua Anak

Fajar juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan PAUD yang aman dan nyaman. Menurut dia, suasana belajar yang positif akan membantu anak mengeksplorasi kemampuan dan potensinya secara optimal.

“Sekolah atau PAUD adalah rumah kedua buat anak-anak kita. Dengan suasana yang nyaman, aman, maka anak akan punya totalitas untuk belajar. Anak punya totalitas untuk mengaktualkan siapa dirinya, apa potensinya,” ujar Fajar.

Sementara itu, Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kepulauan Riau Warsita melaporkan sebanyak 259 kepala satuan PAUD mendapat undangan dalam kegiatan tersebut.

Dari jumlah itu, 255 satuan pendidikan hadir dan seluruhnya menyelesaikan finalisasi Rencana Anggaran dan Pelaksanaan (RAP). Adapun empat satuan pendidikan tidak hadir sehingga batal mengikuti kegiatan.

Kegiatan finalisasi tersebut menjadi tahap lanjutan setelah peserta mendapatkan pembekalan dan pendampingan mengenai penyusunan perencanaan program serta anggaran revitalisasi.

Peserta juga mempelajari kebijakan revitalisasi, menu revitalisasi, mekanisme belanja barang dan jasa, penggunaan aplikasi Sistem Informasi Layanan Bantuan (SiLaB) PAUD, pengelolaan dokumen, keuangan dan perpajakan, hingga mekanisme pengawasan dan pengendalian program.

Fajar berharap seluruh satuan pendidikan penerima program menjalankan revitalisasi sesuai ketentuan. Ia juga mendorong peserta membagikan praktik baik agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.

“Bapak Ibu adalah orang yang paling penting yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan,” kata Fajar menandaskan.

(Sumber: Kemendikdasmen)