Semarak HUT Ke-81 RI, Kementerian Kebudayaan Ajak Warga Rasakan Keragaman Nusantara
Kementerian Kebudayaan RI mengajak masyarakat menikmati kekayaan budaya Nusantara melalui Cultural Fair Day (CFD) bertajuk “Pasar Pagi Nusantara”. Kegiatan tersebut digelar di halaman Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Minggu (16/8/2026). (Foto: Kemenbud RI)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID, JAKARTA — Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tidak hanya berlangsung lewat upacara dan berbagai kegiatan seremonial. Kementerian Kebudayaan RI mengajak masyarakat menikmati kekayaan budaya Nusantara melalui Cultural Fair Day (CFD) bertajuk “Pasar Pagi Nusantara”.
Kegiatan tersebut digelar di halaman Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Minggu (16/8/2026), bersamaan dengan aktivitas Car Free Day. Masyarakat yang datang mendapat kesempatan untuk mengenal, menikmati, sekaligus berinteraksi langsung dengan berbagai bentuk budaya Indonesia.
Mengusung semangat “Singgah Sejenak, Rasakan Nusantara”, Pasar Pagi Nusantara dirancang sebagai ruang perjumpaan budaya yang terbuka dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kementerian Kebudayaan ingin mengubah kesan bahwa budaya hanya hadir dalam ruang formal. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat melihat, mendengar, memainkan, mencicipi, mempelajari, hingga merayakan kekayaan budaya secara langsung.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI serta sarana mempertemukan aktivitas olahraga dengan apresiasi terhadap kebudayaan.
“Kegiatan Pasar Pagi Nusantara Cultural Fair Day ini kita selenggarakan untuk memeriahkan HUT Proklamasi yang ke-81, mudah-mudahan bisa menjadi bagian dari kegiatan olahraga sekaligus apresiasi terhadap kebudayaan,” ujar Fadli Zon.
Beragam pengalaman budaya tersaji dalam sejumlah zona. Pengunjung dapat menjelajahi Nusantara Digital, Arena Main Nusantara, Sanggar Karya Betawi, Pasar Rasa Nusantara, Galeri Pusaka, Aroma Nusantara, Galeri Tempo Dulu, hingga Panggung Budaya.
Tidak hanya melihat pameran, masyarakat juga bisa mengikuti aktivitas interaktif. Kegiatan tersebut antara lain permainan budaya berbasis teknologi, lokakarya membatik, membuat ondel-ondel, mencicipi kuliner tradisional dan jamu, serta melihat koleksi keris, piringan hitam, buku lama, dan artefak budaya.
Produk budaya yang tampil juga telah melalui proses kurasi. Di antaranya barang antik, buku-buku tua, keris, kriya, serta makanan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTB).
Panggung budaya turut memeriahkan acara dengan penampilan Congrock, bentuk akulturasi musik keroncong dan rock dari Semarang. Selain itu, ada pertunjukan tari oleh Happy Salma dan Rosmala Dewi serta tari dan flashmob generasi muda yang dibawakan Belantara Budaya Indonesia.
Menurut Fadli Zon, antusiasme masyarakat memperlihatkan bahwa ruang publik dapat menjadi sarana efektif untuk mendekatkan kebudayaan kepada masyarakat. Karena itu, ia membuka kemungkinan agar Cultural Fair Day berlangsung secara rutin.
“Kita berharap nanti Cultural Fair Day ini bisa kita lakukan agak rutin, mungkin satu bulan sekali pas hari Minggu. Untuk memberi kesempatan juga pada UMKM, terutama yang terkait dengan budaya,” kata Fadli Zon.
Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi budaya. Pelaku budaya dan UMKM mendapat ruang untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk kepada masyarakat.
Dengan konsep itu, masyarakat bisa menikmati pengalaman budaya secara langsung sambil berolahraga dan menghabiskan waktu akhir pekan. Kementerian Kebudayaan juga menempatkan Pasar Pagi Nusantara sebagai langkah untuk membangun kegiatan budaya publik yang berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Sekretaris Jenderal Bambang Wibawarta, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta sejumlah pejabat dan staf khusus Kementerian Kebudayaan.
(Sumber: Kementerian Kebudayaan RI)
