Dari “Buta Kata” ke Dyslexia: Bagaimana Dunia Medis Memahami Disleksia
Dari “Buta Kata” ke Dyslexia: Bagaimana Dunia Medis Memahami Disleksia. (Foto; Psychology Today).
GEBRAK.ID– Pada abad ke-19, sejumlah dokter mulai mendokumentasikan kasus orang yang mampu memahami bahasa secara normal tetapi mengalami kesulitan membaca.
Pada dekade 1870-an, dokter asal Jerman, Adolf Kussmaul, menggunakan istilah Wortblindheit, yang secara harfiah berarti “buta kata” (word blindness). Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang tampak mampu melihat tulisan, tetapi tidak dapat memprosesnya menjadi sesuatu yang bermakna.
Menurut Karen Stollznow Ph.D. dalam Psychology Today, istilah itu ternyata kurang tepat.
Orang-orang tersebut sebenarnya tidak mengalami kebutaan. Penglihatan mereka dapat berfungsi secara normal. Persoalannya terletak pada kemampuan otak dalam memahami simbol-simbol tertulis.
Pengamatan Kussmaul kemudian memengaruhi Rudolf Berlin, seorang dokter mata asal Jerman. Pada 1877, Berlin memperkenalkan istilah dyslexia, yang berasal dari bahasa Yunani dan berkaitan dengan kesulitan terhadap kata-kata.
Perubahan istilah ini penting karena perhatian mulai bergeser: dari persoalan mata menuju hubungan antara otak dan bahasa tertulis.
Kisah Percy: Anak Cerdas yang Kesulitan Membaca
Salah satu kasus bersejarah yang sering dibahas dalam perkembangan pemahaman tentang disleksia adalah kisah seorang anak laki-laki Inggris berusia 14 tahun bernama Percy.
Pada 1896, dokter William Pringle Morgan menggambarkan Percy sebagai anak yang cerdas, cepat dalam berbagai permainan, dan tidak menunjukkan kemampuan yang lebih rendah dibandingkan teman-teman seusianya.
Namun, ada satu hal yang sangat sulit baginya: membaca.
Kesulitannya juga terlihat dalam mengeja. Percy menulis berbagai kata dengan cara yang tidak lazim, termasuk kesalahan pada kata-kata sederhana. Bahkan, ia pernah mengeja namanya sendiri secara keliru.
Bagi Morgan, kasus Percy menunjukkan sesuatu yang penting. Kesulitan membaca tidak selalu berkaitan dengan kurangnya kecerdasan, kemauan, atau usaha.
Masalahnya tampak lebih spesifik: Percy mengalami kesulitan dalam memahami bahasa yang disajikan dalam bentuk tulisan.
Saat ini, kita mengenal kondisi seperti ini sebagai disleksia perkembangan (developmental dyslexia). Kondisi ini biasanya muncul sejak masa kanak-kanak dan memiliki komponen genetik yang kuat. Disleksia juga dapat muncul dalam keluarga, meskipun memiliki orang tua dengan disleksia tidak berarti seorang anak pasti akan mengalaminya.
Disleksia Bukan Ukuran Kecerdasan
Salah satu kesalahpahaman yang paling penting untuk diluruskan adalah anggapan bahwa disleksia berkaitan dengan rendahnya kecerdasan.
Disleksia terutama berkaitan dengan kesulitan dalam membaca dan memproses bahasa tertulis. Seseorang dengan disleksia dapat memiliki kemampuan intelektual dan berbagai bakat lain yang berkembang dengan baik.
Kesulitan membaca juga bukan berarti seseorang tidak memahami bahasa.
Dalam banyak situasi, seseorang dengan disleksia justru dapat memahami dan mengingat informasi dengan lebih mudah ketika informasi tersebut disampaikan melalui suara dibandingkan dalam bentuk teks.
Itulah sebabnya teknologi seperti audiobook, text-to-speech, dan berbagai alat bantu pembelajaran dapat memberikan manfaat besar bagi sebagian orang dengan disleksia.
Apa yang Terjadi di Otak Saat Seseorang Membaca?
Pemahaman modern tentang disleksia menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas melihat huruf.
Ketika seseorang membaca, otak perlu menghubungkan berbagai informasi: bentuk huruf, suara bahasa, susunan kata, dan makna.
Salah satu aspek yang sering menjadi tantangan pada disleksia adalah kesadaran fonologis (phonological awareness), yaitu kemampuan untuk mengenali, memisahkan, dan memanipulasi bunyi-bunyi yang membentuk kata serta menghubungkannya dengan huruf.
Akibatnya, aktivitas membaca yang tampak sederhana bagi sebagian orang dapat membutuhkan usaha yang jauh lebih besar bagi orang dengan disleksia.
Beberapa orang mungkin:
- membaca dengan lebih lambat;
- sering keliru mengenali atau mengucapkan kata;
- mengalami kesulitan mengeja;
- kesulitan menghubungkan huruf dengan bunyinya;
- membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami teks tertulis.
Pengalaman setiap orang tentu berbeda. Disleksia bukan kondisi yang identik pada semua individu.
Perbedaan Cara Otak Memproses Bacaan
Penelitian menggunakan pencitraan otak juga menemukan adanya perbedaan dalam aktivitas dan konektivitas jaringan saraf yang terlibat dalam proses membaca pada orang dengan disleksia.
Pembaca pada umumnya banyak menggunakan jaringan yang berkaitan dengan bahasa, terutama di bagian kiri otak. Pada orang dengan disleksia, jaringan tersebut dapat menunjukkan pola aktivitas dan konektivitas yang berbeda.
Perbedaan tersebut tidak berarti otak seseorang dengan disleksia “rusak”. Sebaliknya, temuan tersebut membantu para peneliti memahami bahwa membaca merupakan proses neurologis yang kompleks dan dapat berlangsung dengan cara yang berbeda pada setiap orang.
Seberapa Umum Disleksia?
Disleksia ternyata cukup umum.
Angka prevalensinya berbeda-beda bergantung pada definisi, metode diagnosis, usia, dan populasi yang diteliti. Salah satu penelitian yang menggabungkan hasil berbagai studi pada anak-anak sekolah dasar memperkirakan prevalensi disleksia sekitar 7 persen secara global.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa tidak selalu mudah menentukan berapa banyak orang yang mengalami disleksia. Cara suatu penelitian mendefinisikan dan mengidentifikasi disleksia sangat memengaruhi hasilnya.
Dari “Buta Kata” ke Pemahaman tentang Otak
Menariknya, istilah “buta kata” memiliki sejarah yang lebih panjang.
Istilah tersebut pernah digunakan untuk menggambarkan kesulitan membaca yang muncul setelah seseorang mengalami kerusakan otak. Dalam konteks medis modern, kondisi yang menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan membaca setelah sebelumnya dapat membaca dikenal sebagai alexia.
Sementara itu, disleksia perkembangan merupakan kondisi yang biasanya sudah muncul sejak masa kanak-kanak.
Meski istilah “buta kata” kini dianggap kurang tepat untuk menggambarkan disleksia, istilah lama tersebut tetap menyimpan satu gambaran penting: melihat tulisan tidak sama dengan membaca tulisan.
Mata dapat menangkap huruf-huruf di halaman, tetapi otak masih harus mengolah simbol tersebut, menghubungkannya dengan bunyi dan bahasa, lalu memberikan makna.
Membaca dengan Cara yang Berbeda
Sejarah disleksia memperlihatkan betapa panjang perjalanan manusia dalam memahami proses membaca.
Dulu, kesulitan membaca pada seseorang dengan penglihatan normal tampak seperti sebuah misteri. Kini, penelitian menunjukkan bahwa membaca melibatkan jaringan otak yang kompleks dan bahwa proses tersebut dapat berlangsung secara berbeda pada setiap individu.
Karena itu, disleksia sebaiknya tidak dipandang sebagai ukuran kecerdasan atau kemampuan seseorang secara keseluruhan.
Seseorang mungkin mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan halaman penuh tulisan, tetapi dapat menunjukkan kemampuan yang kuat dalam bidang lain atau memahami informasi dengan lebih baik melalui suara, gambar, praktik langsung, atau pendekatan pembelajaran yang berbeda.
Pada akhirnya, sejarah disleksia mengajarkan satu hal sederhana tetapi penting: satu halaman yang sama tidak selalu memberikan pengalaman yang sama bagi setiap otak.
Memahami perbedaan tersebut bukan hanya membantu kita memahami disleksia, tetapi juga memperluas pemahaman tentang bagaimana manusia membaca, belajar, dan memproses bahasa.
(Damar Pratama/ Sumber: Psychology Today 1 Oktober 2026)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID