Trauma tak Selalu Menentukan Masa Depan: Mengapa Manusia Punya Kemampuan Alami untuk Pulih?

Trauma Tidak Selalu Menentukan Masa Depan: Mengapa Manusia Punya Kemampuan Alami untuk Pulih. (Foto: Psychology Today).

Trauma Tidak Selalu Menentukan Masa Depan: Mengapa Manusia Punya Kemampuan Alami untuk Pulih. (Foto: Psychology Today)

Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID– Pengalaman traumatis sering kali digambarkan sebagai luka seumur hidup yang membutuhkan berbagai bentuk intervensi untuk dapat dipulihkan. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan penelitian selama beberapa dekade yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan resiliensi yang jauh lebih kuat daripada yang selama ini kita bayangkan.

Menurut Karla McLaren M.Ed. dalam artikelnya di Psychology Today.com. dengan melihat pengalaman yang berpotensi menimbulkan trauma melalui perspektif penelitian resiliensi terbaru, kita dapat memiliki cara pandang yang lebih seimbang terhadap proses pemulihan.

Trauma dan Industri Penyembuhan yang Semakin Populer

Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai penyembuhan trauma semakin sering muncul di media sosial, buku-buku psikologi populer, hingga berbagai program pelatihan. Istilah seperti triggered, respons fight or flight, regulasi sistem saraf, hingga pendekatan trauma-informed kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Meningkatnya perhatian terhadap trauma tentu dapat dipandang sebagai perkembangan positif. Namun, ada persoalan ketika seluruh pengalaman sulit mulai dipandang seolah-olah pasti meninggalkan kerusakan jangka panjang.

Penelitian tentang resiliensi justru memberikan gambaran yang lebih kompleks. Salah satu temuan yang banyak dibahas dalam penelitian George Bonanno menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga orang dapat kembali mencapai kondisi psikologis yang stabil setelah mengalami peristiwa yang berpotensi traumatis, tanpa harus selalu menjalani intervensi khusus.

Hal ini bukan berarti terapi atau bantuan profesional tidak diperlukan. Sebagian orang memang mengalami kesulitan berkepanjangan dan membutuhkan dukungan yang tepat. Namun, kemampuan untuk pulih secara alami juga merupakan bagian penting dari respons manusia terhadap kesulitan.

Kekuatan Flexibility Mindset

Dalam bukunya The End of Trauma, peneliti George Bonanno menjelaskan bahwa manusia merupakan spesies yang memiliki tingkat resiliensi yang luar biasa. Salah satu konsep penting yang ia bahas adalah flexibility mindset atau pola pikir fleksibel.

Pola pikir ini memiliki tiga unsur utama:

  • Optimisme terhadap masa depan
  • Keyakinan terhadap kemampuan diri untuk menghadapi kesulitan
  • Kesediaan melihat ancaman sebagai tantangan yang dapat dihadapi

Ketiga hal tersebut dapat membantu seseorang beradaptasi ketika menghadapi situasi sulit.

Masalahnya, narasi mengenai trauma yang terlalu menekankan dampak buruk justru berpotensi mengikis ketiganya. Alih-alih memberikan harapan, seseorang dapat terus-menerus dibuat khawatir bahwa pengalaman masa lalu akan menghantuinya selama bertahun-tahun atau bahkan lintas generasi.

Demikian pula, jika seseorang terus diberi daftar panjang mengenai berbagai kemungkinan dampak buruk trauma, rasa percaya terhadap kemampuan dirinya untuk pulih dapat berkurang.

Padahal, berdasarkan penelitian mengenai resiliensi, seseorang memiliki peluang yang cukup besar untuk kembali stabil setelah mengalami peristiwa sulit.

Peristiwa Traumatis Tidak Selalu Menghasilkan Dampak yang Sama

Salah satu gagasan penting dari pendekatan Bonanno adalah penggunaan istilah “potentially traumatic events”, atau peristiwa yang berpotensi menimbulkan trauma.

Istilah tersebut penting karena pengalaman traumatis tidak secara otomatis menghasilkan dampak psikologis yang sama pada setiap orang.

Dua orang dapat mengalami kejadian yang serupa, tetapi menunjukkan respons yang sangat berbeda. Seseorang mungkin mengalami gangguan berkepanjangan, sementara orang lain dapat beradaptasi dan kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Ada pula yang membutuhkan waktu untuk memulihkan diri sebelum akhirnya kembali stabil.

Dengan kata lain, sebuah peristiwa sulit tidak serta-merta menentukan hasil akhir kehidupan seseorang.

Faktor individu, lingkungan, dukungan sosial, pengalaman sebelumnya, serta kemampuan beradaptasi semuanya dapat berperan dalam proses tersebut.

Karena itu, seseorang yang pernah mengalami peristiwa traumatis tidak seharusnya langsung diposisikan sebagai individu yang “rusak” atau tidak berdaya. Manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri, menghadapi perubahan, dan membangun kembali kestabilan setelah mengalami kesulitan. (*)