Belajar Gizi tak Cukup di Kelas, NGTS Dorong Sekolah Ubah Pengetahuan Jadi Kebiasaan
Melalui program Nutrition Goes to School (NGTS), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama SEAMEO RECFON mendorong sekolah menjadikan edukasi gizi sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari peserta didik. Tampak dalam gambar perayaan 10 tahun NGTS, Minggu (23/8/2026). (Foto: Kemendikdasmen)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID, JAKARTA — Pendidikan gizi tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Melalui program Nutrition Goes to School (NGTS), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama SEAMEO RECFON mendorong sekolah menjadikan edukasi gizi sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari peserta didik.
Program yang kini memasuki satu dekade pelaksanaan itu mengembangkan berbagai kegiatan praktis, mulai dari kebun sekolah, kantin sehat, pembiasaan pola hidup sehat, hingga kegiatan edukasi gizi. Pendekatan tersebut bertujuan agar siswa tidak sekadar memahami teori tentang gizi, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selama 10 tahun, NGTS telah memberikan pelatihan gizi dan kesehatan kepada lebih dari 3.500 guru dan tenaga kependidikan dari 2.430 sekolah. Program tersebut juga telah mendampingi 279 sekolah dan madrasah di Indonesia maupun Asia Tenggara.
Selain itu, NGTS berhasil membentuk 42 Model Sekolah/Madrasah NGTS Mandiri yang tersebar di tujuh wilayah dampingan di Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan persoalan gizi anak di Indonesia membutuhkan penanganan yang lebih luas. Menurutnya, tantangan yang dihadapi bukan hanya kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi serta masalah kekurangan zat gizi mikro.
“Yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini adalah tidak hanya kekurangan gizi pada anak-anak, ada juga yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi, ini bagian penting yang ingin kita respons melalui sekolah sebagai agen perubahan,” ujar Tatang di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada perayaan 10 tahun NGTS, Minggu (23/8/2026).
Sekolah, kata Tatang, memiliki posisi strategis untuk membangun kesadaran sekaligus membentuk kebiasaan makan dan hidup sehat pada anak. Karena itu, edukasi gizi perlu hadir melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian peserta didik.
“Dengan adanya program ini, harapannya nanti di sekolah ada perubahan terkait bagaimana anak-anak mendapatkan gizi yang terbaik, tidak kelebihan, tidak kekurangan, dan juga terkait gizi mikro,” cetus Tatang.
Tatang berharap pengalaman yang diperoleh siswa di sekolah dapat membentuk kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat di luar lingkungan pendidikan.
“Itu menjadi bagian untuk memastikan bagaimana anak-anak lebih aware, lebih paham terkait gizi, dan selanjutnya juga bagaimana mempraktikkannya dalam keseharian,” kata Tatang.
Kebun Sekolah Jadi Laboratorium Gizi
Salah satu contoh penerapan NGTS terlihat di SMA Negeri 1 Singosari, Jawa Timur. Sekolah tersebut mengintegrasikan pendidikan gizi dengan sejumlah kegiatan yang melibatkan peserta didik secara langsung.
Guru Biologi sekaligus tim NGTS SMA Negeri 1 Singosari, Zainal Fanani, mengatakan program di sekolahnya mencakup kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah, hingga kegiatan kewirausahaan.
“Implementasi NGTS yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Singosari meliputi kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah, serta kewirausahaan,” ujar Zainal saat ditemui dalam kegiatan 10 tahun NGTS, 23 Agustus 2026.
Melalui kebun sekolah, siswa tidak berhenti pada kegiatan menanam. Mereka juga belajar memanfaatkan dan mengolah hasil panen sehingga proses pembelajaran gizi berlangsung secara langsung.
“Di kebun sekolah, kita menyediakan tanaman, termasuk pengolahan pascapanennya,” kata Zainal.
Sekolah juga membangun kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan senam setiap Jumat. Sementara itu, kantin SMA Negeri 1 Singosari berhasil meraih penghargaan sebagai kantin sehat nasional juara dua untuk regional barat.
Kebiasaan Sehat Perlu Dibawa ke Rumah
Kepala SMA Negeri 1 Singosari, Sri Endang Hidajati, menilai keberhasilan pendidikan gizi tidak cukup diukur dari pemahaman siswa selama berada di sekolah.
Menurutnya, kebiasaan tersebut harus terbawa hingga ke rumah dan lingkungan tempat anak beraktivitas. Peran orang tua menjadi penting agar praktik baik yang dibangun sekolah dapat terus berlanjut.
“Harapan saya, edukasi gizi kepada murid-murid SMA Negeri 1 Singosari tidak hanya terbatas di ruang sekolah, tetapi juga bisa diimplementasikan di mana pun anak-anak berada, termasuk bekerja sama dengan orang tua untuk mendukung pelaksanaan edukasi gizi ini,” ujar Sri.
Direktur SEAMEO RECFON, Rini Sekartini, mengatakan perjalanan satu dekade NGTS menunjukkan bahwa pendidikan gizi akan lebih efektif jika sekolah menerjemahkan pengetahuan menjadi praktik yang dilakukan secara rutin.
“Hari ini adalah 10 tahun perjalanan NGTS. Tadi kita ketahui bersama bahwa programnya intinya adalah gizi pada anak sekolah, bukan hanya edukasi, tetapi juga praktik baik yang bisa dilakukan, terutama oleh sekolah,” ujar Rini.
Guru dan kepala sekolah, lanjut Rini, memiliki peran penting sebagai penggerak program karena sebagian besar praktik NGTS berlangsung langsung di lingkungan sekolah.
“Karena penggeraknya ada di sekolah dan dipelopori oleh para guru dan kepala sekolah,” katanya.
Menurut Rini, bentuk praktik NGTS sangat beragam. Sejumlah sekolah mengembangkan kebun hingga peternakan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi peserta didik.
“Jadi, semuanya bervariasi, bukan hanya edukasi tetapi juga implementasi. Seperti ada yang membuat kebun, kemudian ada peternakan yang hasilnya bisa digunakan oleh anak-anak untuk mendapatkan asupan nutrisi yang baik,” jelas dia.
Rini menegaskan, pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan saat ini. Gizi yang baik menjadi fondasi bagi tumbuh kembang sekaligus investasi sumber daya manusia Indonesia.
“Gizi itulah pondasi utama untuk tumbuh kembang anak dan menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif, dan juga memiliki jiwa besar untuk memajukan Indonesia nantinya,” ujar Rini.
Memasuki dekade kedua, Kemendikdasmen dan SEAMEO RECFON berharap NGTS dapat terus memperluas praktik baik pendidikan gizi berbasis sekolah. Pengalaman dari berbagai sekolah di Indonesia juga diharapkan menjadi bahan berbagi dengan negara-negara Asia Tenggara.
Dengan pendekatan tersebut, edukasi gizi tidak berhenti pada pengetahuan tentang makanan sehat. Sekolah didorong menjadi ruang tempat siswa belajar, mencoba, membangun kebiasaan, dan akhirnya membawa pola hidup sehat tersebut ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.
(Sumber: Kemendikdasmen)
