Gempa Susulan di NTT Tembus 7.492 Kali, 103 Orang Meninggal Dunia
Aktivitas gempa susulan masih mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Rabu (26/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 7.492 gempa susulan (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Saeful Imam
GEBRAK.ID — Aktivitas gempa susulan masih mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Rabu (26/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 7.492 gempa susulan.
BMKG menyampaikan, gempa susulan tersebut memiliki magnitudo yang beragam. Gempa terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,0.
“Total gempa bumi susulan: 7492,” tulis BMKG dalam siaran pers yang dirilis Rabu (26/8/2026).
Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 33 kejadian tercatat memiliki magnitudo di atas 5. Sementara itu, warga merasakan getaran dari 143 kejadian gempa.
Aktivitas gempa yang terus berlangsung menambah kewaspadaan masyarakat di sejumlah daerah terdampak. Pemerintah bersama lembaga terkait masih melakukan penanganan terhadap dampak bencana.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga saat ini, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di NTT mencapai 103 orang.
Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban meninggal terbanyak dengan 41 orang. Berikutnya Manggarai Timur 34 orang, Nagekeo 13 orang, Sikka enam orang, Ngada lima orang, Ende tiga orang, serta Manggarai Barat satu orang.
Selain korban meninggal, jumlah warga yang mengalami luka-luka juga terus diperbarui.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Suar Pelita Panjaitan, mengatakan pihaknya menerima tambahan data korban luka sebanyak 63 orang.
“Kami mendapat tambahan angka sebanyak 63 orang yang luka-luka sehingga total yang kami catat adalah sebesar 1.666 orang,” ujar Berton dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Selasa (25/8/2026).
Dengan demikian, total korban luka akibat rangkaian gempa tersebut mencapai 1.666 orang.
Tingginya aktivitas gempa susulan membuat pemantauan terus dilakukan oleh BMKG. Masyarakat di wilayah terdampak juga perlu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Gempa susulan dapat terjadi setelah gempa utama karena proses penyesuaian atau pelepasan energi di dalam kerak bumi. Karena itu, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika terjadi kembali getaran yang cukup kuat.
(Sumber: BMKG)
