Gunung Anak Krakatau Erupsi 11 Kali dalam Sehari, Kolom Abu Capai 400 Meter
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih fluktuatif. PVMBG meminta masyarakat, wisatawan, dan nelayan mematuhi radius aman serta mengikuti informasi resmi.(Foto: tangkapan layar).
Editor: Devona R
GEBRAK.ID,LAMPUNG SELATAN – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, masih tinggi. Gunung api tersebut tercatat mengalami 11 kali erupsi sepanjang Senin (24/8/2026) hingga pukul 17.09 WIB. Rangkaian erupsi terjadi sejak pagi hingga sore.
Pada sore hari, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami empat kali gempa letusan dalam rentang enam jam terakhir. Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan empat erupsi terbaru memiliki amplitudo maksimum 58-67 milimeter dengan durasi 30-54 detik.
“Sebanyak empat kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 58-67 mm, dan lama gempa 30-54 detik,” kata Suwarno, Senin(24/82026).
Kolom Abu Mencapai 400 Meter
Dari pengamatan visual, Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami perubahan kondisi dari terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan ketinggian sekitar 100-400 meter dari puncak. Angin di sekitar gunung api dilaporkan bertiup lemah ke arah utara, timur laut, barat, dan barat laut. Kondisi cuaca secara umum cerah hingga berawan.
Sebelumnya, pada erupsi pagi hari, Gunung Anak Krakatau melontarkan kolom abu setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau mencapai 407 meter di atas permukaan laut. Erupsi tersebut terjadi pada pukul 09.41 WIB dan terekam dengan amplitudo maksimum 52 milimeter serta durasi sekitar 1 menit 17 detik.
Aktivitas Vulkanik Masih Fluktuatif
Berdasarkan pemantauan Badan Geologi melalui Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, aktivitas vulkanik gunung tersebut masih berlangsung dan dipantau secara intensif melalui pengamatan visual serta instrumen kegempaan. Selain empat gempa letusan, pemantauan dalam enam jam terakhir juga merekam sejumlah aktivitas kegempaan lain, antara lain gempa vulkanik, gempa hembusan, gempa harmonik, gempa low frequency, gempa hybrid/fase banyak, hingga tremor menerus.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau diketahui masih fluktuatif. Pada 17 Agustus 2026, PVMBG mencatat gunung tersebut mengalami 20 kali erupsi dalam satu hari. Saat itu status Gunung Anak Krakatau juga berada pada Level III atau Siaga.Status tersebut ditetapkan setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik sejak awal Juli 2026. Badan Geologi kemudian menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Diminta Tidak Mendekati Gunung Anak Krakatau
Dengan kondisi aktivitas yang masih fluktuatif, masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk radius bahaya Gunung Anak Krakatau.Imbauan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.
Nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta memantau perkembangan aktivitas gunung serta kondisi cuaca sebelum melaut.Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengacu pada informasi resmi dari lembaga berwenang.
(berbagai sumber)
