Banjir Bandang Nepal-Tibet: 538 Tewas, Ribuan Hilang, Bantuan Internasional Mulai Mengalir
Jumlah korban terus bertambah seiring proses evakuasi. Longsor gletser berubah menjadi tragedi kemanusiaan terbesar di kawasan Himalaya. ( Foto: ist)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID,JAKARTA—Tragedi kemanusiaan akibat banjir bandang dan longsor di perbatasan Nepal dan Tibet, wilayah otonomi China, terus memakan korban. Hingga Jumat (28/8), jumlah korban tewas mencapai 538 orang, sementara lebih dari 1.400 orang masih dinyatakan hilang.
Bencana yang terjadi pada Rabu (26/8) ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa dekade terakhir. Longsoran besar yang terdiri dari es, batu, dan material gletser jatuh ke sistem Sungai Lhende di Tibet, sekitar 20 km dari perbatasan Nepal-China, memicu gelombang air dan lumpur yang menghantam permukiman dan infrastruktur di sepanjang aliran sungai.
Korban jiwa terbanyak tercatat di Nepal. Polisi Nepal melaporkan 475 orang tewas di sisi Nepal, sementara China mengonfirmasi tiga kematian di wilayah Tibet. Angka korban tewas gabungan mencapai 478 jiwa, namun data PBB pada hari yang sama menyebutkan 538 jenazah telah ditemukan.
Perbedaan data ini disebabkan proses pencarian, identifikasi jenazah, dan verifikasi yang masih berlangsung.
Ribuan Wisatawan dan Pekerja Proyek Masih Hilang
Situasi paling mengkhawatirkan adalah jumlah korban hilang yang didominasi wisatawan asing. Di Nepal, tercatat 596 orang dari 33 negara masih hilang, sementara 127 lainnya adalah warga Nepal yang belum diketahui keberadaannya. Di sisi Tibet, otoritas China melaporkan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing. Warga negara India menjadi kelompok terbesar yang terdampak, dengan 288 orang tidak bisa dikontak.
Sebagian besar dari mereka adalah pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli-1 dan peziarah yang menuju kawasan suci Kailash Mansarovar.
Amerika Serikat melaporkan sekitar 90 warganya hilang. Negara-negara lain yang warganya masuk daftar hilang antara lain Australia, Inggris, Kanada, Malaysia, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa seperti Jerman, Italia, dan Swiss.
Longsor Gletser Picu Gelombang Setinggi 48 Meter
Pakar geofisika mengungkapkan skala dahsyat bencana ini. Longsoran gletser terjadi di ketinggian sekitar 5.200 meter dan meluncur sekitar 1.200 meter ke dasar lembah. Energi yang dihasilkan begitu besar hingga tercatat sebagai gempa berkekuatan magnitudo 5,2 pada seismograf di berbagai belahan dunia.
Profesor Goran Ekstrom dari Earth Observatory Universitas Columbia memperkirakan ketinggian air banjir mencapai 39 hingga 48 meter dengan kecepatan aliran sekitar 71 kilometer per jam. “Ini merupakan peristiwa geofisika berskala masif yang memicu banjir bandang sangat mematikan,” ujarnya.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memastikan bahwa sinyal seismik yang awalnya diidentifikasi sebagai gempa M4,4 sebenarnya adalah energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhnya es dan batuan gletser itu sendiri, bukan gempa tektonik.
Kerusakan Infrastruktur Parah dan Risiko Banjir Susulan
Banjir bandang menyapu habis permukiman, jalan, jembatan, dan proyek pembangunan di sepanjang aliran Sungai Lhende Khola, Bhote Koshi, hingga Trishuli. Distrik Rasuwa di Nepal menjadi wilayah paling parah terdampak.
Menteri Infrastruktur Nepal, Sunil Lamsal memperkirakan kerusakan infrastruktur mencapai 200 miliar rupee Nepal (sekitar Rp31 triliun). Sedikitnya 22 jembatan beton dan 5 jembatan baja hanyut, serta sekitar 40 kilometer badan jalan rusak parah. Ancaman baru muncul setelah analisis citra satelit menunjukkan terbentuknya bendungan alami dan danau di hulu Sungai Bhotekoshi.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal memperingatkan potensi banjir susulan jika danau tersebut jebol, dan mengimbau warga di sepanjang bantaran sungai untuk pindah ke tempat lebih aman.
Pemerintah Nepal mengerahkan lebih dari 5.000 tentara dan aparat kepolisian dengan bantuan helikopter untuk operasi pencarian dan penyelamatan. China juga mengirim 1.500 personel untuk membantu evakuasi di wilayah perbatasan.
Bantuan Internasional Mulai Mengalir
Uni Emirat Arab mengumumkan bantuan US$10 juta (sekitar Rp152 miliar) untuk korban bencana. Amerika Serikat mengirimkan penasihat respons bencana dan bantuan US$500.000, sementara India memasok tenda, makanan, dan bantuan darurat lainnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mendukung operasi bantuan dengan makanan darurat, kit medis untuk 10.000 orang, tenda, dan bantuan logistik. WHO memperingatkan risiko penyakit menular akibat kepadatan pengungsi dan terganggunya akses air bersih dan sanitasi.
UNICEF melaporkan 18 sekolah hancur total dan 20 lainnya rusak, membuat sekitar 10.000 anak usia sekolah kehilangan akses pendidikan. Kepala UNDRR Kamal Kishore menyatakan, “Dalam ingatan kita, kita belum pernah melihat peristiwa bahaya gunung seperti ini untuk waktu yang sangat lama.”
Perubahan Iklim Perparah Risiko
Para ahli menilai perubahan iklim turut memperparah bencana. Pencairan gletser yang semakin cepat di Himalaya meningkatkan risiko longsoran es dan banjir bandang. Menurut laporan PBB 2023, pegunungan bersalju di Nepal telah kehilangan hampir sepertiga esnya dalam tiga dekade terakhir akibat pemanasan global .”Tanah longsor di wilayah pegunungan ini semakin sering terjadi, dan kejadian tersebut berkaitan dengan mencairnya gletser,” kata Ekstrom. Operasi pencarian masih berlanjut, namun medan sulit dan kerusakan infrastruktur parah menjadi tantangan besar. Pemerintah Nepal menyatakan akan meminta bantuan internasional lebih lanjut setelah proses penilaian kerusakan selesai.
( berbagai sumber)
