Jangan Dibiarkan Lama, Ini Alasan Mobil Hybrid Sebaiknya Dipakai Rutin
Mobil hybrid tidak cukup hanya dipanaskan sesekali. Pemilik perlu memperhatikan kondisi baterai, sistem pendingin, dan baterai 12 volt agar kendaraan tetap optimal. (Foto:toyota)
Editor: A. Rayyan K
GEBRAK.ID, JAKARTA—Mobil hybrid memiliki sistem penggerak yang memadukan mesin bensin dengan motor listrik. Teknologi tersebut membuat kendaraan mampu memanfaatkan tenaga listrik untuk membantu menggerakkan mobil sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar. Namun, berbeda dari mobil konvensional, mobil hybrid memiliki baterai bertegangan tinggi yang menjadi bagian penting dari sistem penggeraknya. Karena itu, mobil hybrid yang terlalu lama dibiarkan terparkir juga membutuhkan perhatian khusus.
Salah satu langkah yang dianjurkan adalah menggunakan kendaraan secara rutin. Toyota Astra, misalnya, menyarankan mobil hybrid digunakan sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan serta menghindari kendaraan tidak dinyalakan selama lebih dari dua minggu.
Mengapa mobil hybrid perlu dipakai rutin?
Baterai pada mobil hybrid bekerja melalui proses pengisian dan penggunaan energi secara berulang. Saat kendaraan berjalan, sistem hybrid secara otomatis mengatur kapan energi dari baterai digunakan dan kapan baterai mendapatkan pengisian kembali. Pengisian baterai hybrid umumnya tidak dilakukan seperti mobil listrik murni yang harus terhubung ke charger. Energi dapat diperoleh dari mesin bensin dan sistem pengereman regeneratif, bergantung pada teknologi yang digunakan kendaraan.
Karena itu, penggunaan kendaraan secara berkala membantu sistem hybrid tetap bekerja sebagaimana mestinya. Honda juga menyarankan pemilik mobil hybrid yang jarang menggunakan kendaraannya untuk menyalakan kendaraan secara berkala.
Pemeriksaan sistem hybrid, termasuk baterai, kabel dan konektor, sistem pendingin, inverter, serta motor listrik, juga penting dilakukan di bengkel yang memahami teknologi hybrid.
Bukan sekadar menyalakan mesin
Meski demikian, menyalakan mobil di tempat selama beberapa menit bukan selalu solusi terbaik. Jika kendaraan jarang digunakan, membawanya berkendara secara berkala lebih membantu mengaktifkan berbagai sistem kendaraan. Toyota Inggris, misalnya, merekomendasikan perjalanan sekitar 30 menit setidaknya sekali dalam sepekan apabila memungkinkan. Untuk kendaraan yang harus disimpan dalam waktu lama, pemilik dapat berkonsultasi mengenai penggunaan battery maintainer yang sesuai. Hal ini juga penting karena mobil hybrid tidak hanya memiliki baterai bertegangan tinggi. Ada pula baterai 12 volt yang menjalankan berbagai perangkat kelistrikan pendukung kendaraan.
Jika mobil terlalu lama tidak digunakan, baterai 12 volt justru dapat kehilangan daya lebih cepat. Kondisi tersebut berpotensi membuat mobil sulit diaktifkan meskipun baterai hybrid bertegangan tinggi masih memiliki energi.
Perhatikan sistem pendingin baterai
Selain frekuensi penggunaan, pemilik mobil hybrid perlu memperhatikan sistem pendingin baterai. Baterai bekerja pada kondisi suhu tertentu dan sistem pendingin berfungsi menjaga temperatur agar tetap berada dalam rentang yang sesuai. Debu yang menumpuk pada ventilasi atau saluran pendinginan dapat mengganggu sirkulasi udara.
Astra menjelaskan, sistem pendingin baterai perlu dirawat dan ventilasi udara di area kabin harus dijaga agar tidak tersumbat. Untuk kendaraan tertentu, penggantian cairan pendingin sistem hybrid juga mengikuti jadwal yang ditentukan pabrikan.
Panas berlebih menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat penurunan kualitas baterai. Karena itu, kendaraan sebaiknya tidak terlalu lama dibiarkan terpapar panas ekstrem apabila memang harus disimpan dalam waktu panjang.
Jangan lupakan servis berkala
Mobil hybrid tetap membutuhkan perawatan mesin bensin seperti kendaraan konvensional. Oli mesin, sistem pendingin, rem, ban, dan komponen lainnya tetap harus diperiksa sesuai jadwal. Bedanya, mobil hybrid memiliki komponen tambahan seperti baterai tegangan tinggi, inverter, motor listrik, dan perangkat pengendali sistem hybrid. Karena itu, pemeriksaan berkala di bengkel resmi atau bengkel yang memiliki teknisi dan peralatan khusus hybrid menjadi penting.
Honda, misalnya, merekomendasikan pemeriksaan komponen kelistrikan hybrid secara berkala untuk mendeteksi potensi masalah lebih awal. Dengan perawatan yang tepat, pemilik tidak perlu khawatir bahwa baterai hybrid akan cepat rusak hanya karena kendaraan menggunakan teknologi elektrifikasi.
Yang lebih penting adalah mengikuti petunjuk perawatan sesuai merek dan model kendaraan.
Berapa sering mobil hybrid harus digunakan?
Tidak ada satu angka yang berlaku mutlak untuk semua mobil hybrid karena rekomendasi dapat berbeda berdasarkan model, jenis baterai, sistem hybrid, serta kondisi kendaraan. Namun, sejumlah produsen memberikan panduan agar kendaraan tidak dibiarkan terlalu lama tanpa digunakan. Toyota Astra menyebut penggunaan dua hingga tiga kali seminggu sebagai salah satu langkah menjaga kondisi baterai, sementara Honda Outside Java menyarankan kendaraan yang jarang dipakai dinyalakan satu hingga dua kali seminggu selama sekitar 10–15 menit dan, bila memungkinkan, dibawa berkendara.
Pemilik tetap perlu menjadikan buku manual kendaraan sebagai acuan utama, terutama apabila mobil akan disimpan dalam jangka waktu lama. Dengan demikian, anggapan bahwa mobil hybrid boleh dibiarkan berbulan-bulan tanpa digunakan sebaiknya dihindari. Penggunaan rutin, perawatan baterai dan sistem pendingin, serta pemeriksaan berkala menjadi bagian penting untuk menjaga performa sistem hybrid dalam jangka panjang.
(berbagai sumber)
