141 Ribu Siswa Terdampak Gempa NTT, Kemendikdasmen Libatkan Banyak Pihak Percepat Pemulihan

partisipasi semesta pemulihan bencana

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan setelah gempa bumi melanda Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah menggandeng perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat untuk memastikan proses belajar kembali berjalan. (Foto: Humas Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan setelah gempa bumi melanda Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah menggandeng perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat untuk memastikan proses belajar kembali berjalan.

Data per 23 Agustus 2026 mencatat 1.918 satuan pendidikan di tujuh kabupaten dan 97 kecamatan terdampak bencana. Sebanyak 665 sekolah mengalami kerusakan berat dengan 6.927 ruang kelas ikut terdampak.

Gempa tersebut juga membuat 141.207 siswa terhenti mengikuti pembelajaran. Selain itu, sebanyak 48.164 warga sekolah harus mengungsi.

Kemendikdasmen mencatat 1.221 sekolah masih meliburkan kegiatan belajar. Baru 37 sekolah yang menjalankan pembelajaran darurat, sementara 295 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kondisi paling berat terlihat di Kabupaten Manggarai dengan 381 sekolah dan 1.887 ruang kelas rusak. Berikutnya Nagekeo dengan 1.487 ruang kelas terdampak serta Manggarai Timur sebanyak 1.200 ruang kelas.

Untuk memenuhi kebutuhan ruang belajar sementara, sebanyak 785 sekolah telah mengusulkan 2.908 unit Ruang Kelas Darurat (RKD). Hingga Minggu (30/8/2026), Kemendikdasmen telah memasang 89 tenda. Sebanyak 11 tenda lainnya masih dalam proses pengiriman dari pos logistik pendidikan di Manggarai Timur dan Labuan Bajo.

Pemulihan juga menyasar kondisi psikologis siswa. Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) Universitas Diponegoro (Undip) memberikan pendampingan psikososial di Kabupaten Ngada, termasuk di SD Woe Natarandang, Bejawa.

Kemendikdasmen selanjutnya menyiapkan perbaikan sanitasi dan asesmen teknis bangunan selama masa transisi pembelajaran dua minggu hingga tiga bulan. Data Tim Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menunjukkan kerusakan juga terjadi pada 418 laboratorium, 1.928 toilet, dan 370 rumah dinas guru.

Dukungan turut datang dari Yayasan Plan Indonesia. Organisasi tersebut menyalurkan terpal dan bantuan logistik, mendistribusikan 300 ribu liter air melalui layanan water trucking di Lambaleda Utara, Manggarai Timur, serta membantu pemeriksaan kesehatan penyintas.

Di sektor pendidikan, Plan Indonesia juga mulai membangun ruang belajar sementara di Nagekeo dan menyiapkan pelatihan pendidikan dalam situasi darurat.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menilai keterlibatan berbagai pihak menjadi kekuatan penting dalam mempercepat pemulihan.

“Bencana ini mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Partisipasi semesta bukan sekadar slogan, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata,” kata Abdul Mu’ti.

Abdul Mu’ti mengapresiasi perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat yang ikut bergerak membantu pemulihan pendidikan di Flores. “Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah hadir dan bergerak bersama untuk membantu pemulihan pendidikan di Flores,” ujarnya menandaskan.

Editor: Devona R
(Sumber: Kemendikdasmen)