Musim Hujan Segera Datang, El Nino akan Berakhir di Bulan Oktober
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi dampak kekeringan akibat El Nino yang melanda Indonesia akan segera berakhir. (Foto: Freepik)
GEBRAK. ID, JAKARTA— Fenomena El Nino yang telah memicu musim kemarau panjang dan kering di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masih akan berlangsung hingga awal tahun 2027. Namun, kabar baiknya, dampak buruknya terhadap kondisi kering di tanah air diperkirakan segera mereda.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa meskipun El Nino secara ilmiah masih aktif, efeknya terhadap curah hujan di Indonesia akan berkurang drastis ketika musim hujan tiba. Hal ini disampaikannya dalam acara Insight with Desi Anwar, Jumat (29/8) lalu. “Jadi, nanti pengaruh El Nino akan berkurang tidak signifikan ketika minggu masuk pertengahan dari Oktober.
Ketika musim hujan telah datang, maka El Nino relatif tidak memiliki pengaruh,” ujar Faisal. BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026. Setelah periode tersebut, pengaruh El Nino terhadap curah hujan di Indonesia akan berangsur melemah dan tidak lagi signifikan.
Faisal menjelaskan bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua fenomena yang berbeda. Musim kemarau adalah siklus tahunan, sedangkan El Nino adalah anomali iklim yang memperparah kondisi kekeringan jika terjadi bersamaan. “El Nino berpotensi bertahan 9-12 bulan. Tapi yang mempengaruhi Indonesia adalah ketika kita di musim kemarau saja,” jelasnya.
Puncak musim kemarau sendiri diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026. Saat ini, sekitar 80 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau dengan intensitas yang lebih kering dan durasi yang lebih panjang dari rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.
Dampak El Nino tahun ini juga tercatat tidak merata. Wilayah di selatan garis khatulistiwa seperti Nusa Tenggara, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatra bagian selatan diperkirakan merasakan dampak paling signifikan. Sementara itu, beberapa wilayah seperti pantai barat Sumatra dan Kalimantan bagian utara diprediksi tidak mengalami penurunan curah hujan yang terlalu ekstrem.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG bersama instansi terkait telah melakukan berbagai upaya, termasuk operasi modifikasi cuaca untuk mengisi bendungan dan mencegah kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat dan petani diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG guna menyesuaikan jadwal tanam dan mengantisipasi dampak kekeringan
( Dinar K/ berbagai sumber)
