STY dan Mundari Karya Jadi Pelatih Asia di Tengah Dominasi Juru Taktik Eropa di Super League

Mudari-Karya-Isenmulang-Kalteng-FC

Pelatih anyar Isenmulang Kalteng FC, Mundari Karya, yang menjadi satu-satunya juru taktik lokal di Super League 2026/2027. (Foto: Instagram @insenmulangkaltengfc)

GEBRAK.ID — Kompetisi Super League 2026/2027 menghadirkan peta persaingan menarik di kursi pelatih. Dari 18 tim yang berlaga musim ini, hanya dua pelatih asal Asia yang dipercaya menangani klub, yakni Shin Tae Yong dan Mundari Karya.

Keduanya menjadi wakil Asia di tengah kuatnya dominasi pelatih Eropa dan Amerika Latin. Dari total 18 pelatih, 13 di antaranya berasal dari Eropa. Spanyol menyumbang empat pelatih, sedangkan Portugal dan Belanda masing-masing mengirim tiga pelatih.

Selain itu, terdapat satu pelatih dari Kroasia, Serbia, serta Bosnia dan Herzegovina. Sementara tiga pelatih lainnya berasal dari Brasil yang mewakili kawasan Amerika Latin.

Kondisi tersebut membuat Shin Tae Yong dan Mundari Karya menghadapi tantangan besar untuk membuktikan kualitas pelatih Asia di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.

Mundari mendapat kesempatan memimpin Isenmulang Kalteng FC pada musim ini. Ia menggantikan Ade Suhendra yang masih mengantongi lisensi A AFC dan tengah menjalani proses untuk mendapatkan lisensi Pro AFC.

Penunjukan Mundari menjadi perhatian karena ia sudah cukup lama tidak menangani klub secara langsung. Mantan pelatih timnas U-16 Indonesia tersebut terakhir kali melatih klub pada 2016 dan dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak menjalankan peran di balik layar sebagai bagian dari technical study group kompetisi I.League atau PSSI.

Tantangan Mundari semakin besar karena Isenmulang merupakan klub promosi. Materi pemain mereka juga belum dianggap sebagai salah satu yang paling kuat dalam bursa transfer musim panas.

Kini, kemampuan Mundari meracik tim dan menghadapi persaingan ketat Super League menjadi ujian penting. Performa Isenmulang akan menentukan sejauh mana ia mampu kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih klub.

Sementara itu, Shin Tae Yong dipercaya menangani Persija Jakarta. Pelatih asal Korea Selatan tersebut memiliki modal kuat berupa pengalaman bersama Timnas Indonesia.

Selama menangani skuad Garuda, Shin berhasil membawa Indonesia semakin diperhitungkan di level internasional sebelum PSSI mengakhiri kerja sama dengannya pada 2025.

Persija berharap pengalaman tersebut dapat membantu klub kembali bersaing di papan atas. Namun, Shin juga menghadapi tantangan tersendiri karena kiprah terakhirnya di level klub bersama Ulsan Hyundai berlangsung singkat setelah meninggalkan Timnas Indonesia.

Shin memang pernah meraih gelar Liga Champions Asia bersama Seongnam Ilhwa Chunma pada 2010. Namun, Persija akan menjadi panggung baru baginya untuk membuktikan kemampuan di kompetisi klub Indonesia.

Dalam empat musim terakhir, pelatih asal Eropa mendominasi persaingan di kasta tertinggi Indonesia. Kehadiran Shin dan Mundari kini menjadi kesempatan bagi pelatih Asia untuk mematahkan dominasi tersebut.

(Damar Pratama/Berbagai Sumber)