Luis Figo Geleng-Geleng Lihat Harga Pemain, Rp2,3 Triliun Kini Bukan Lagi Angka Fantastis
Mantan bintang Barcelona, Real Madrid, dan Inter Milan, sekaligus legenda sepak bola Portugal, Luis Figo. (Foto: Antara)
GEBRAK.ID — Mantan bintang Barcelona, Real Madrid, dan Inter Milan, Luis Figo, dibuat heran dengan gila-gilaan harga pemain di bursa transfer sepak bola modern. Menurutnya, nilai transfer yang kini menembus triliunan rupiah sudah terlalu tinggi.
Liga Inggris menjadi salah satu contoh paling mencolok. Pada bursa transfer musim panas ini, sedikitnya lima pemain berpindah klub dengan nilai transfer mencapai 100 juta poundsterling atau sekitar Rp2,3 triliun.
Manchester City menjadi klub yang paling banyak mengeluarkan uang untuk dua transfer besar. The Citizens mendatangkan Enzo Fernandez dari Chelsea dengan nilai 125 juta poundsterling atau sekitar Rp2,9 triliun, serta Elliot Anderson dari Nottingham Forest seharga 116 juta pound sterling atau sekitar Rp2,7 triliun.
Liverpool juga mengeluarkan dana besar untuk Bradley Barcola. Pemain Paris Saint-Germain (PSG) itu ditebus dengan nilai 123 juta poundsterling atau sekitar Rp2,8 triliun.
Chelsea kemudian membayar 117 juta pound sterling atau sekitar Rp2,7 triliun kepada Aston Villa untuk mendapatkan Morgan Rogers. Sementara itu, Tottenham Hotspur mendatangkan Sandro Tonali dari Newcastle United dengan mahar 100 juta pound sterling atau sekitar Rp2,3 triliun.
Besarnya angka tersebut membuat Figo mempertanyakan bagaimana klub-klub mampu menjaga keseimbangan keuangan mereka.
“Pada titik tertentu, hal ini harus berhenti. Memang benar semuanya bergantung pada anggaran klub, aturan financial fair play… tetapi angka-angka ini sangatlah tinggi,” ujar Figo seperti dilansir Tribuna.
Legenda Portugal itu membandingkan situasi sekarang dengan era ketika dirinya masih aktif bermain. Menurut Figo, harga pemain saat ini jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan.
“Sudah hampir 30 tahun berlalu sejak masa saya. Dulu, saya menganggap harga yang dibayarkan untuk banyak perekrutan pemain itu gila. Namun, evolusi pasar membuat angka yang dibayarkan untuk beberapa transfer saat ini jauh lebih gila lagi,” katanya.
Figo juga menyoroti kemampuan klub dalam menyeimbangkan neraca keuangan setelah mengeluarkan dana fantastis untuk satu pemain.
Pada masa lalu, pemasukan dari penjualan jersey pemain bintang masih dianggap mampu membantu menutup biaya transfer. Namun, menurut Figo, kondisi pasar sekarang membuat skema tersebut semakin sulit diterapkan.
Lonjakan harga transfer akhirnya bukan hanya soal kemampuan sebuah klub membeli pemain. Bagi Figo, angka triliunan rupiah juga menjadi pertanyaan besar mengenai bagaimana klub menjaga kesehatan keuangan di tengah aturan financial fair play.
(A. Rayyan K/Sumber: Tribuna)
