Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Depok, Bogor, hingga Sukabumi

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau dari BMKG

Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 pada Sabtu (5/9/2026) pukul 22.00 WIB. (Foto: BMKG)

GEBRAK.ID, DEPOK — Abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah di Jawa Barat, mulai dari Depok, Bogor, hingga Sukabumi. Fenomena tersebut dirasakan warga sejak Sabtu (5/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026) pagi WIB.

Di Kota Depok, warga Kompleks Pelita Service RW 15, Imam S, mengaku mendapati debu vulkanik telah menempel di rumah dan kendaraannya. “Ini debunya sudah di atap mobil kami,” kata Imam dalam tayangan video yang diterima Gebrak.id.

Debu vulkanik juga terlihat di teras Masjid Nururrahman, RW 15, Pancoran Mas, Kota Depok.

Sebaran abu kemudian turut dirasakan warga yang berada di wilayah Bogor. Kelik, warga Depok yang sedang berkunjung ke Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, mengaku merasakan adanya abu vulkanik di kawasan tersebut pada Minggu (6/9/2026) pagi.

Sementara itu, warga Kabupaten Sukabumi juga melaporkan kondisi serupa. Hendra mengaku merasakan perih pada wajah ketika beraktivitas di luar rumah. Setelah kembali ke rumah, ia mendapati abu menempel pada tubuh dan kendaraan yang diparkir di luar.

“Pas lari terasa agak perih. Setelah saya pegang wajah, ada seperti abu. Sesampainya di rumah, kendaraan yang terparkir di luar penuh debu, tetapi debunya tipis,” ujar Hendra, warga dalam pesan suara yang diterima Gebrak.id, Minggu (6/9/2026).

Debu abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menempel di atap mobil warga Kompleks Pelita Service, Kota Depok, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026) pagi. (Foto: Istimewa/Gebrak.Id)

Sebaran Abu Terpantau Mengarah ke Jawa Barat

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi menerima laporan mengenai abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai dirasakan warga di sejumlah kecamatan.

Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 pada Sabtu (5/9/2026) pukul 22.00 WIB, sebaran abu terpantau bergerak ke arah tenggara hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah Banten serta Jawa Barat, termasuk Sukabumi.

Perkembangan tersebut sejalan dengan pemantauan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Melalui produk citra sebaran abu vulkanik, BMKG memantau pergerakan abu Gunung Anak Krakatau berdasarkan informasi aktivitas vulkanik dari VAAC Darwin.

Pada Minggu (6/9/2026) pagi, BMKG Wilayah 2 juga melaporkan sebaran abu telah memasuki sebagian wilayah Jakarta. Berdasarkan informasi yang dirilis BMKG Wilayah 2, pada pukul 04.00 WIB terdapat dua kelompok sebaran abu berdasarkan ketinggiannya.

Kelompok pertama berada pada ketinggian sekitar 20 ribu kaki dan bergerak ke arah timur laut serta selatan. “Mencakup sebagian DK Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta perairan sekitarnya,” demikian keterangan tersebut.

Sementara itu, kelompok kedua berada pada ketinggian sekitar 50 ribu kaki dengan pergerakan menuju barat daya dan barat laut. “Mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten,” tulisnya.

Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam laporan khusus tertanggal 5 September 2026 menyebut Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali berlangsung sejak 2 Juli 2026. Sejak saat itu, status aktivitas gunung api berada pada Level III (Siaga). Pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Fenomena tersebut disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava.

Badan Geologi juga mencatat adanya laporan suara dentuman dan getaran dari sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung yang diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang bersamaan.

Dalam rekomendasinya, Badan Geologi meminta masyarakat dan pengunjung tidak memasuki wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Warga Diminta Gunakan Masker

Dengan meluasnya sebaran abu hingga sejumlah wilayah Jawa Barat, masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih.

Pengendara juga disarankan berhati-hati karena abu vulkanik dapat mengganggu kenyamanan mata dan jarak pandang. Hingga berita ini disusun, belum terdapat informasi mengenai dampak serius akibat sebaran abu vulkanik di Depok, Bogor, maupun Sukabumi.

Masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BPBD, dan instansi terkait, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui Badan Geologi Kementerian ESDM dan Citra Sebaran Abu Vulkanik BMKG.

Editor: Zaky Al Hamzah
(Sumber: BMKG, Pantauan Lapangan)