Mendikdasmen Ungkap Tantangan Literasi di Era AI, Ini Konsep 3S untuk Indonesia Emas 2045
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti membuka Peringatan Hari Aksara Internasional secara daring melalui Youtube Kemendikdasmen di Jakarta pada Selasa (8/9/2026). (Foto: Tangkapan layar Youtube)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai penguatan literasi dengan konsep Sesama, Semesta, dan Sejahtera atau 3S menjadi salah satu fondasi penting untuk menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut saat membuka Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 secara daring melalui kanal YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, konsep 3S yang diadaptasi dari tema literasi global UNESCO sejalan dengan Astacita Presiden RI Prabowo Subianto, terutama dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
“Penguatan literasi ini sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Literasi adalah fondasi bagi Indonesia Emas 2045, bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, peduli lingkungan, dan sejahtera,” kata Abdul Mu’ti.
Mendikdasmen menilai tantangan literasi kini semakin kompleks seiring perubahan sosial, krisis lingkungan, perkembangan teknologi digital, dan kemunculan kecerdasan artifisial (AI). Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca dan menerima informasi.
Kemampuan berpikir kritis, memeriksa informasi, memahami konteks, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan menjadi bagian penting dari literasi masa kini.
Abdul Mu’ti menjelaskan, unsur Sesama dalam konsep 3S menekankan pentingnya memastikan setiap orang memperoleh kesempatan belajar. Sementara Semesta mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan melalui literasi iklim, konservasi, dan aksi keberlanjutan.
Adapun Sejahtera berkaitan dengan kecakapan hidup, literasi finansial, kewirausahaan, serta keterampilan digital agar masyarakat mampu bekerja, berkarya, dan meningkatkan kualitas hidup.
“Belajar yang reflektif, belajar yang kontekstual, dan belajar yang menggembirakan. Kita tentu saja berusaha menjadi pembaca yang baik, menjadi pendengar yang baik, sekaligus menjadi penulis yang baik,” ujar Abdul Mu’ti.
Selain memperkuat konsep 3S, Abdul Mu’ti mengajak masyarakat menghidupkan kembali Bulan Literasi. Momentum Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap 8 September dinilai tepat untuk mendorong kegiatan literasi yang dekat dengan persoalan sehari-hari dan melibatkan keluarga serta komunitas.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menerima informasi di tengah derasnya arus digital dan perkembangan AI. Setiap informasi perlu dibaca secara kritis, ditelaah, dipertanyakan, dan diverifikasi sebelum dipercaya atau disebarluaskan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menegaskan keberhasilan gerakan literasi tidak diukur dari kemeriahan peringatan, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
“Mari jadikan September 2026 sebagai momentum, dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan,” kata Tatang.
Tatang menekankan, peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional harus menjadi momentum untuk memperluas kemampuan masyarakat dalam membaca dunia, memahami perubahan zaman, dan menentukan masa depannya sendiri.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
