Wisatawan Mancanegara ke Indonesia Tembus 8,98 Juta, Tertinggi Sejak 2020
Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana. (Foto: Istimewa)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Indonesia mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI mencatat 8,98 juta kunjungan wisman pada Januari-Juli 2026, tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, capaian tersebut menunjukkan sektor pariwisata masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik global.
“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun pada saat yang sama, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisman pada Juli 2026 mencapai 1,53 juta. Angka tersebut naik 2,95 persen dibandingkan Juli 2025. Sepanjang Januari-Juli, total kunjungan mencapai sekitar 8,98 juta.
Pertumbuhan kunjungan datang dari sejumlah pasar utama. Kawasan Asia lainnya tumbuh 8,69 persen, Asia Tenggara 7,32 persen, sedangkan Oseania meningkat 7,26 persen. Kementerian Pariwisata juga melihat adanya pemulihan kunjungan dari kawasan Timur Tengah seiring membaiknya situasi di kawasan tersebut.
Sementara pasar Eropa masih mengalami kontraksi, tetapi trennya mulai membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi itu menjadi sinyal bahwa strategi diversifikasi pasar yang dilakukan pemerintah bersama pelaku industri mulai memberikan hasil.
Dari sisi ekonomi, kontribusi wisman juga terlihat dari penerimaan devisa pariwisata. Pada semester I 2026, devisa pariwisata mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp145,13 triliun. Nilai tersebut tumbuh 2,88 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 8,20 miliar dolar AS.
“Artinya, di tengah dinamika geopolitik, ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ujar Widiyanti.
Pada saat yang sama, aktivitas wisata domestik ikut menopang sektor tersebut. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyebut perjalanan wisatawan nusantara sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 737,85 juta perjalanan, naik 3,34 persen secara tahunan.
Jumlah perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri justru turun 3,25 persen menjadi 5,26 juta perjalanan. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus 3,71 juta perjalanan.
Dampaknya juga terasa pada industri akomodasi. Tingkat okupansi hotel sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 49,13 persen atau meningkat 2,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus Juli, BPS mencatat tingkat penghunian kamar hotel berbintang mencapai 54,54 persen.
Ni Luh menegaskan pemerintah tidak hanya mengejar jumlah wisatawan. Lama tinggal, belanja, aktivitas usaha, serta manfaat ekonomi yang diterima masyarakat di destinasi juga menjadi ukuran penting.
“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana perjalanan tersebut menghasilkan lama tinggal, belanja wisatawan, aktivitas usaha, serta manfaat ekonomi di destinasi,” kata Ni Luh.
Dengan tren tersebut, tantangan berikutnya bagi pemerintah adalah menjaga pertumbuhan kunjungan hingga akhir 2026 sekaligus memastikan uang yang dibelanjakan wisatawan benar-benar mengalir ke pelaku usaha dan masyarakat di berbagai daerah.
(Devona R/Sumber: Kemenpar RI)
