720 Ribu Pelajar Palestina Kehilangan Akses Pendidikan, Sekolah dan Kampus Gaza Hancur

anak palestina belajar di tenda

Para siswa mengikuti pelajaran di Sekolah Al-Shamal yang terletak hanya 100 meter dari "Garis Kuning" di Kamp Pengungsi Jabalia di sisi utara Jalur Gaza, Senin (12/1/2026). (Foto: Xinhua/Rizek Abdeljawad)

GEBRAK.ID — Lebih dari 720.000 pelajar Palestina disebut kehilangan akses terhadap pendidikan dasar di tengah konflik yang terus berlangsung. Krisis tersebut semakin parah setelah sebagian besar fasilitas pendidikan di Jalur Gaza mengalami kerusakan berat.

Menteri Pendidikan Palestina Amjad Barham menyampaikan kondisi itu dalam konferensi tentang anak-anak Palestina yang digelar di Tunis, Tunisia, Senin (14/9/2026). Forum tersebut diselenggarakan Organisasi Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Liga Arab (ALECSO).

“Lebih dari 90 persen gedung sekolah dan 82 persen universitas di Jalur Gaza telah hancur,” ujar Barham seperti dikutip harian Tunisia, La Presse.

Menurut Barham, kerusakan fasilitas pendidikan telah menciptakan krisis serius bagi anak-anak Palestina, terutama mereka yang berada di Jalur Gaza. Selain kehilangan ruang belajar, para pelajar juga menghadapi hambatan untuk bergerak akibat keberadaan pos pemeriksaan militer.

Barham menilai kondisi tersebut semakin membatasi kesempatan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan dasar secara aman dan berkelanjutan.

Data lembaga internasional turut menggambarkan beratnya situasi tersebut. UNICEF dalam pembaruan situasi pendidikan Palestina menyebut sekitar 700.000 anak usia 4 hingga 17 tahun di Gaza telah kehilangan pembelajaran tatap muka formal selama hampir tiga tahun berturut-turut. Sekitar 98 persen bangunan sekolah dilaporkan mengalami kerusakan.

UNICEF juga mencatat sekitar 420.000 anak di Gaza belum memperoleh pembelajaran tatap muka sama sekali. Kondisi itu tidak hanya disebabkan kerusakan gedung sekolah, tetapi juga keterbatasan ruang belajar sementara, perlengkapan pendidikan, guru, serta persoalan keamanan di sekitar fasilitas pendidikan.

Krisis pendidikan juga terjadi di Tepi Barat. UNICEF pada September 2026 menyebut sedikitnya 224 insiden terkait pendidikan tercatat sepanjang paruh pertama tahun ini. Insiden tersebut berdampak langsung terhadap 152 sekolah, lebih dari 20.000 siswa, dan 859 tenaga pendidikan.

Direktur Jenderal ALECSO Mohamed Ould Amar menegaskan perlunya kerja sama regional untuk merespons keadaan tersebut. Ia mengumumkan rencana pembentukan aksi bersama negara-negara Arab yang dilengkapi mekanisme perlindungan darurat bagi pendidikan.

UNESCO sebelumnya juga memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas pendidikan terus menjadi persoalan global. Organisasi tersebut mencatat 1.680 serangan terhadap sekolah di berbagai negara sepanjang 2025, meningkat 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. UNESCO menyerukan agar sekolah dan universitas mendapat perlindungan dalam situasi konflik.

Kondisi pendidikan Palestina kini bukan sekadar persoalan kehilangan gedung sekolah. Jutaan anak menghadapi risiko kehilangan waktu belajar, lingkungan yang aman, serta kesempatan membangun masa depan melalui pendidikan.

(A. Rayyan K/Berbagai Sumber)