Sport Tourism Jadi Mesin Baru Ekonomi RI: Event Sumbang Rp 23,76 Triliun, Pemerintah Genjot Dukungan

1790776469829

Kemenpar tegaskan dukungan tanpa ambil alih kepemilikan event, sport tourism dinilai kunci pemasukan negara di tengah target pertumbuhan 8 persen. (Foto: BTN)

GEBRAK.ID,JAKARTA — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus memperkuat dukungan terhadap penyelenggaraan event, termasuk event olahraga, sebagai bagian dari strategi mengembangkan sport tourism di Indonesia. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan dukungan tersebut dirancang untuk memperkuat dampak event sekaligus meringankan beban penyelenggaraan bagi pemilik event tanpa mengambil alih kepemilikan event dari penyelenggara.

“Kemenpar hadir sebagai mitra yang memperkuat, bukan mengambil alih. Kami ingin event-event ini tumbuh berkelanjutan dengan ekosistem yang sehat,” ujar Widiyanti. Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Data Kemenpar menunjukkan 194 event yang didukung sepanjang 2025 berhasil menarik 12,2 juta pengunjung, melibatkan 20.877 pelaku UMKM, dan diproyeksikan menghasilkan perputaran ekonomi mencapai Rp 23,76 triliun.

Potensi Global Rp 9.500 Triliun, RI Baru Raih 0,5 Persen

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengungkapkan besarnya peluang yang belum tergarap. Dalam peluncuran buku terbarunya, ia menyebut nilai industri olahraga global mencapai sekitar Rp 8.000 triliun, sementara pasar sport tourism jauh lebih besar sekitar Rp 9.500 triliun. “Dari pasar sebesar itu, Indonesia baru mengambil sekitar 0,5 persen. Ini potensi yang terlalu besar untuk terus kita abaikan,” kata Erick.

Ia menempatkan sport tourism sebagai salah satu sektor “ekonomi baru” yang dapat menopang target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, paradigma harus diubah: “Olahraga harus dilihat sebagai sumber pendapatan negara, bukan sekadar pos belanja”.

Dari sisi permintaan, Menpar Widiyanti merujuk survei Expedia yang menemukan 44 persen wisatawan global bersedia bepergian ke luar negeri demi menonton event olahraga favorit. Wisatawan jenis ini rata-rata membelanjakan US$ 1.500 per kunjungan jauh di atas rata-rata belanja wisatawan mancanegara ke Indonesia. Data UN Tourism juga mencatat sport tourism menyumbang 10 persen dari total konsumsi pariwisata global, dengan proyeksi pertumbuhan 17,5 persen hingga 2030.

MotoGP Mandalika hingga Marathon: Bukti Dampak Nyata

Dampak ekonomi sport tourism sudah terlihat pada sejumlah event. MotoGP Mandalika menjadi contoh utama. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat event ini menghasilkan dampak ekonomi hingga Rp 4,96 triliun pada 2025, meliputi sektor transportasi, akomodasi, perdagangan, dan aktivitas UMKM.

Lebih dari 600 UMKM terlibat dalam kegiatan ekonomi pendukung, sementara kawasan sekitar Mandalika mencatat investasi villa dan pembukaan restoran baru. Event lari atau marathon juga menunjukkan daya dorong konsumsi yang signifikan. Erick Thohir menyebut saat ini ada sekitar 104 event marathon di Indonesia dengan total partisipasi mencapai 10,4 juta orang.

“Satu marathon di Bandung saja pesertanya bisa 15.000 sampai 20.000 orang. Hotel-hotel di kota non-wisata pun bisa penuh saat akhir pekan,” ujarnya. Cabang akuatik menawarkan jalur diferensiasi. Kejuaraan Renang Perairan Terbuka Asia (12th Asian OWS Championship) dijadwalkan berlangsung Juni 2026 di Jimbaran, Bali.

Menpar Widiyanti menyatakan event ini “tidak hanya menampilkan kompetisi akuatik kelas internasional, tetapi juga membawa dampak berkelanjutan bagi pariwisata nasional.”

Kemenpar turut mendorong perluasan event serupa ke destinasi seperti Lombok dan Labuan Bajo.

Logika Kebijakan: Mendukung, Bukan Mengambil Alih

Yang menarik, Kemenpar menegaskan posisinya sebagai fasilitator. Widiyanti menjelaskan dukungan diberikan dalam bentuk promosi, penguatan publikasi, serta bantuan sarana dan prasarana. “Dukungan ini tidak mengambil alih kepemilikan event dari penyelenggara,” tegasnya. Dengan kata lain, pemerintah berperan sebagai amplifying partner yakni memperbesar gaung dan dampak event, sementara penyelenggara tetap memegang kendali penuh atas eventnya.

Erick Thohir menambahkan Kemenpora tengah mendorong reformasi kemudahan visa, investasi, dan tiket untuk membuka potensi ekonomi sport tourism secara lebih luas.

Prospek dan TantanganTren sport tourism sejalan dengan pemulihan ekonomi Indonesia. Pada kuartal I 2026, ekonomi tumbuh 5,61 persen, dengan pariwisata disebut sebagai “mesin pertumbuhan domestik dan sumber devisa”. Pemerintah menargetkan devisa pariwisata 2026 sebesar US$ 22–24,7 miliar, dengan kontribusi terhadap PDB 4,5–4,7 persen.

Namun, dari pangsa 0,5 persen pasar global menuju destinasi sport tourism yang berpengaruh, jalan masih panjang. Widiyanti sendiri menyoroti empat kendala utama: ketimpangan pembangunan antarwilayah, standar layanan yang belum seragam, keberlanjutan lama tinggal wisatawan, dan perlindungan daya dukung destinasi.

Satu tren yang patut dicermati: basis penonton sport tourism bergeser dari “penonton event profesional” ke “pelaku olahraga partisipatif.” Survei menunjukkan 86 persen masyarakat Indonesia mengaku lebih aktif menjaga kesehatan dibanding rata-rata global (70 persen). Data ini menjadi fondasi permintaan domestik bagi event partisipatif seperti marathon, renang, dan bersepeda.

Ketika sport tourism memiliki daya tarik event internasional sekaligus basis partisipasi domestik, keberlanjutan dan ketahanan dampak ekonominya akan jauh lebih kuat.

(Dinar K/ berbagai sumber)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID