Serangan Drone di Ladang Minyak Aramco Tewaskan Dua Orang
Serangan pesawat nirawak atau drone menghantam fasilitas pengolahan minyak di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco, Provinsi Timur, Arab Saudi, Rabu (21/10) dini hari. (Foto: shafaq/dok)
GEBRAK.ID, ARAB SAUDI — Serangan pesawat nirawak atau drone menghantam fasilitas pengolahan minyak di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco, Provinsi Timur, Arab Saudi, Rabu (21/10/2026) dini hari. Insiden tersebut menewaskan dua orang warga negara Filipina dan Nepal serta melukai dua orang lainnya.
Meski menimbulkan korban jiwa, operasional ladang minyak Shaybah tidak terdampak. Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan fasilitas tersebut tetap beroperasi, sebagaimana disampaikan seorang pejabat kementerian yang identitasnya tidak diungkapkan. Ladang minyak Shaybah merupakan salah satu fasilitas energi penting Arab Saudi dengan kapasitas produksi sekitar 1 juta barel minyak mentah per hari.
Menurut Kementerian Energi Arab Saudi, drone tersebut menargetkan fasilitas pengolahan minyak dan menyebabkan sebuah kendaraan terbakar di luar batas area sasaran. Koalisi pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam konflik di Yaman pada Rabu pagi juga menyatakan telah mencegat sebuah pesawat nirawak yang ditembakkan ke arah wilayah timur kerajaan tersebut.
Kelompok Houthi yang didukung Iran belum segera mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Shaybah. Namun, insiden ini terjadi di tengah meningkatnya serangan terhadap wilayah Arab Saudi, termasuk fasilitas energi dan infrastruktur strategis lainnya.
Pada pekan sebelumnya, kelompok Houthi dilaporkan menyerang kantor pusat Aramco di Dhahran, wilayah timur Arab Saudi. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut juga melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di kerajaan itu dari wilayah Yaman.
Baca Juga
Serangan di Bandara Arab Saudi Tewaskan 19 Orang
Serangkaian serangan yang terjadi pada bulan ini turut menyasar bandara-bandara di Arab Saudi dan dilaporkan menewaskan sedikitnya 19 orang, sebagian besar di Riyadh. Situasi keamanan tersebut berdampak pada agenda ekonomi kerajaan, termasuk penundaan konferensi Future Investment Initiative hingga tahun depan.
Merespons perkembangan keamanan itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Rabu memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. Informasi tersebut disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, melalui platform X.
Sebelumnya, Kedutaan Besar AS di Riyadh juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat menggunakan bandara-bandara di Arab Saudi menyusul serangan yang dikaitkan dengan Houthi.
Houthi merupakan kelompok bersenjata yang didukung Iran dan menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa. Pada Juli, kelompok tersebut mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi dengan alasan kerajaan itu mengepung sejumlah wilayah di Yaman.
Sejak September, kelompok tersebut disebut meningkatkan intensitas serangan hampir setiap hari ke Arab Saudi dengan menyasar fasilitas energi dan sejumlah objek lainnya. Selain itu, Houthi dilaporkan bergerak ke selatan dari basis mereka di Yaman barat laut menuju Selat Bab el-Mandeb. Jalur pelayaran strategis tersebut menjadi lintasan penting bagi kapal tanker energi dan kapal kontainer yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Konflik semakin memanas pada awal Oktober setelah koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan operasi besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi dan “melenyapkan” kelompok tersebut.
Serangan terhadap ladang minyak Shaybah menambah tekanan terhadap situasi keamanan Arab Saudi di tengah eskalasi konflik regional. Meski produksi di fasilitas tersebut dilaporkan tetap berjalan, ancaman terhadap infrastruktur energi terus menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan jalur pasokan minyak global.
Operasi Fajar Yaman (Operation Dawn of Yemen) Lancarkan 835 Serangan dalam 24 Jam
Secara terpisah, pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan telah melancarkan 835 serangan dalam Operasi Fajar Yaman (Operation Dawn of Yemen) selama 24 jam terakhir, dengan menyasar posisi serta benteng pertahanan kelompok Houthi, khususnya di provinsi Marib.
Pihak militer mengeklaim bahwa 285 petempur dan komandan Houthi telah dilumpuhkan, tanpa merinci berapa jumlah yang tewas maupun terluka. Mereka juga melaporkan keberhasilan dalam memukul mundur upaya kelompok Houthi untuk merebut kembali posisi-posisi di Taiz. Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan telah mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak (drone) milik Houthi yang bergerak menuju wilayah selatan Arab Saudi. (*)
(Zaky Al Hamzah/Bloomberg/Shafaq)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID