Parodi Politik Swara SeadaNya dalam Riset Alih Wahana Kakawin Sutasoma, Sentil Kekuasaan Masa Kini
Gunawan Wicaksono, memerankan sosok Purusada, raksasa pemangsa manusia dalam epik klasik Kakawin Sutasoma di atas panggung Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin 26 Oktober 2026. (Foto: istimewa)
Oleh Sano Rizal *)
Di atas panggung Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin 26 Oktober 2026, Gunawan Wicaksono membiarkan wajahnya terlipat dalam riasan tebal. Garis-garis tegas merah dan hitam menggambar sosok Purusada, raksasa pemangsa manusia dalam epik klasik Kakawin Sutasoma. Matanya melotot, suaranya menggelegar menembus deru musik dari Swara SeadaNya, memancarkan aura angkara murka yang mencekam.
Namun, pertunjukan seni dan diseminasi riset bertajuk “SUTASOMA VS PURUSADA” pada 26 Oktober 2026 itu seketika pecah ketika Gunawan melepas ketegangan. Di tengah amuk karakternya, ia tiba-tiba berjoget gemoy, menekuk siku, dan melompat kecil secara jenaka, menirukan joget khas Prabowo Subianto saat kampanye presiden.
Tak berhenti di situ, gerak-geriknya berganti meniru gestur emosional sang Presiden RI saat menyaksikan laga Final FIFA ASEAN Cup 2026 di Gelora Bung Karno. Parodi bernas itu menyengat kesadaran penonton: Purusada tak sekadar mitos kuno, melainkan cermin kekuasaan hari ini.
Bagi Gunawan, yang akrab disapa Guntje, pilihan menyisipkan parodi politik bukan sekadar lelucon picisan. Ini adalah puncak artikulasi dari kerja sunyi yang dilakoni kelompok Swara SeadaNya.
Baca Juga
Sejak Oktober 2025, Swara SeadaNya dengan dipimpin oleh pakar kebudayaan Jawa Dr. Turita Indah Setyani menggelar riset mendalam untuk menggali kembali Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Mereka tak cuma membaca teks, tetapi membongkar ulang struktur sastra Jawa Kuno itu untuk menemukan relevansinya dengan masa kini.
Riset setahun penuh tersebut melahirkan kesadaran bahwa benturan antara Sutasoma dan Purusada adalah metafora abadi antara kebajikan kolektif dan kerakusan kekuasaan yang rakus memakan bangsanya sendiri.
Guntje dan Swara SeadaNya membedah karakter Purusada tidak dengan kacamata hitam-putih. “Purusada itu cermin dari nafsu kekuasaan yang sering kali dibungkus oleh kejenakaan publik,” ujar sosok yang telah lama melintasi panggung kesenian dan jurnalistik tersebut ketika diwawancarai sejumlah media seusai pertunjukan.
Lewat perpaduan intonasi garang dan satire gerak, Guntje berhasil membawa hasil riset akademis menjadi seni pertunjukan yang hidup, segar, dan menggigit.
Kelihaian Guntje meramu realitas sosial ke dalam seni tidak datang dari ruang hampa. Pria yang dikenal cerdas dan humoris ini memiliki latar belakang panjang sebagai wartawan foto dan penulis budaya. Bergulat puluhan tahun di media massa mengasah kepekaannya terhadap simbol-simbol politik dan dinamika masyarakat.
Sebagai pegiat seni dan budaya, Guntje terbiasa berdiri di dua dunia: merekam fakta lapangan dengan objektif sebagai jurnalis, lalu meresahkannya kembali ke panggung pertunjukan sebagai seniman.
Dalam kelompok Swara SeadaNya, Guntje menemukan ruang inkubasi ideal. Kelompok ini konsisten mengawinkan riset kritis dengan pementasan eksperimental.
Melalui lakon Purusada, Guntje tidak hanya membuktikan kapasitasnya sebagai aktor panggung yang tangguh, tetapi juga sebagai intelektual organik yang mampu menerjemahkan warisan naskah kuno menjadi pencerahan publik. Di tangan Guntje, Purusada tak lagi berjarak, ia hadir di sekitar kita, melompat dan berjoget di panggung kekuasaan.
Selasa, 27 Oktober 2026
*) Pengamat Kebudayaan/Founder Urban Spiritual Indonesia.
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID