Stan Wawrinka Pensiun Usai 24 Tahun Berkarier dan Tinggalkan Warisan 3 Gelar Grand Slam
Petenis Swiss Stan Wawrinka mengakhiri karir profesionalnya dengan meninggalkan tiga gelar Grand Slam, 16 gelar turnamen level tur, serta warisan semangat juang dan kerendahan hati yang menginspirasi generasi berikutnya. (Foto: X/atptour)
GEBRAK.ID — Dunia tenis resmi melepas salah satu petarung terbaiknya. Petenis Swiss, Stan Wawrinka, mengakhiri karier profesionalnya pada usia 41 tahun setelah menjalani pertandingan terakhir di Swiss Indoors Basel, Selasa (27/10/2026).
Wawrinka menutup perjalanan panjangnya dengan tiga gelar Grand Slam, 16 gelar tunggal level tur, serta pencapaian tertinggi di peringkat ketiga dunia. Ia mengakhiri karier setelah kalah dari petenis Ceko, Jiri Lehecka, dengan skor 5-7, 6-7(2) pada babak pertama turnamen di Basel.
Kekalahan tersebut tidak mengurangi arti perjalanan Wawrinka selama lebih dari dua dekade. Para penggemar di negara asalnya memberikan penghormatan kepada sang juara yang sejak awal musim 2026 telah mengumumkan tahun ini sebagai musim terakhirnya di dunia tenis profesional.
“Sepanjang karier, yang saya inginkan hanyalah memberikan segalanya, tidak memiliki penyesalan, selalu berjuang, dan memberikan 100 persen dalam setiap pertandingan,” kata Wawrinka, dikutip dari ATP Tour.
Wawrinka juga menegaskan bahwa usaha maksimal merupakan bentuk penghormatan kepada diri sendiri, lawan, turnamen, penggemar, dan semua orang yang mendukung perjalanan kariernya.
Baca Juga
Tiga Gelar Grand Slam yang Bersejarah
Nama Wawrinka melekat dalam sejarah tenis berkat tiga gelar Grand Slam yang diraihnya pada masa persaingan ketat dengan para pemain elite dunia.
Ia merebut gelar Australian Open 2014 setelah mengalahkan Rafael Nadal di final. Setahun kemudian, Wawrinka menaklukkan Novak Djokovic untuk menjadi juara French Open 2015. Pencapaian serupa kembali ia raih di US Open 2016 setelah mengalahkan petenis Serbia tersebut dalam empat set.
Ketiga gelar itu memiliki keistimewaan tersendiri karena semuanya diraih dengan menundukkan petenis yang saat itu menduduki peringkat satu dunia.
Wawrinka dikenal memiliki pukulan backhand satu tangan yang kuat dan khas. Ia juga memperlihatkan ketangguhan mental ketika menghadapi tekanan, termasuk saat tampil di partai-partai besar.
Pelatihnya, Magnus Norman, turut berperan dalam keberhasilan tersebut. Wawrinka pernah mengakui bahwa dirinya sangat gugup menjelang final US Open 2016, tetapi Norman membantunya tetap fokus pada permainan dan tidak terbebani oleh hasil akhir.
Menginspirasi Generasi Berikutnya
Pengaruh Wawrinka tidak berhenti pada deretan trofi. Sikap rendah hati dan kepeduliannya terhadap sesama pemain membuatnya dihormati di lingkungan tenis profesional.
Petenis Italia Matteo Berrettini, misalnya, mendapat dukungan dari Wawrinka ketika menghadapi masa sulit akibat cedera dan performa yang tidak konsisten. Pengalaman Wawrinka juga memberi keyakinan bahwa pemain masih bisa bersaing pada usia 30-an.
Petenis Italia Lorenzo Musetti menganggapnya sebagai salah satu idolanya. Sementara itu, petenis muda Swiss Henry Bernet, juara tunggal putra junior Australian Open 2025, menilai kesempatan berlatih bersama Wawrinka sebagai pengalaman berharga.
Menurut catatan ATP, Wawrinka juga mencapai peringkat tertinggi dunia, yakni nomor tiga, pada 2014. Ia turut meraih medali emas ganda Olimpiade Beijing 2008 bersama Roger Federer dan membantu Swiss menjuarai Davis Cup pada 2014.
Kepergian Wawrinka dari lapangan profesional menandai berakhirnya sebuah era. Namun, semangat juang, pukulan khas, dan prestasinya akan tetap menjadi bagian penting dari sejarah tenis dunia.
(A. Rayyan K/Sumber: ATP)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID