Canva Benahi Strategi Bisnis di Tengah Perlambatan Pertumbuhan dan Ancaman AI

Foto Kantor Canva - 2

Ruang penerima tamu di kantor pusat Canva, Sydney, Australia. (Foto: prosple/dok)

GEBRAK.ID, SYDNEY – Canva Inc. merombak struktur organisasi dan strategi pengembangan produknya setelah pertumbuhan bisnis perusahaan melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Perusahaan platform desain digital asal Australia itu akan menyatukan tim Product, Growth, dan Platform dalam satu organisasi produk, sekaligus mengurangi lapisan manajemen dan tanggung jawab yang tumpang tindih.

Langkah tersebut diumumkan CEO Canva Melanie Perkins melalui pernyataan resmi perusahaan pada awal November 2026. Restrukturisasi itu berdampak terhadap 1.271 pekerja atau sekitar 22% dari total tenaga kerja, termasuk karyawan yang mengalami PHK, perubahan peran, maupun relokasi.

Perkins menyatakan Canva perlu kembali mengembangkan tim-tim kecil yang memiliki kewenangan lebih besar dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan pekerjaan. “Teknologi baru sedang mengubah apa yang dapat diciptakan orang, bagaimana mereka menciptakannya, dan apa yang mereka harapkan dari produk yang mereka gunakan. Saya sampai pada kesimpulan yang sulit bahwa perubahan kecil saja tidak akan cukup,” tulis Perkins dalam pesan kepada karyawan.

Meskipun perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu faktor yang membentuk persaingan industri perangkat lunak, Canva tidak secara eksplisit menyebut AI sebagai penyebab tunggal restrukturisasi. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menekankan perlambatan pertumbuhan, perubahan teknologi, fragmentasi pekerjaan, dan kebutuhan menyederhanakan organisasi.

AI Mengubah Persaingan Bisnis Perangkat Lunak
Perkembangan AI generatif memungkinkan pengguna menyelesaikan berbagai pekerjaan kreatif melalui perintah berbasis teks, mulai dari pembuatan gambar hingga penyusunan materi visual. Kemampuan tersebut berpotensi mengubah cara masyarakat menggunakan aplikasi desain dan layanan perangkat lunak lainnya.

Dalam laporan News.com.au pada 4 November 2026, Adam Barty, direktur pelaksana perusahaan konsultan digital Revium, menilai perkembangan AI dapat memberikan tekanan serius terhadap model bisnis inti Canva.

“Jika Anda melihat apa yang saat ini dapat dilakukan model AI dalam hal video dan desain visual, dan kemudian mempertimbangkan bagaimana kemampuan tersebut kemungkinan akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan, sangat sulit untuk tidak memandang AI sebagai ancaman eksistensial terhadap model bisnis inti Canva,” ujar Barty, sebagaimana dikutip News.com.au.

Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan Canva mempertahankan pengguna di tengah persaingan dari laboratorium AI dan perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi serupa.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan analis industri, bukan pernyataan resmi Canva mengenai penyebab restrukturisasi. Namun, pandangan itu menggambarkan tekanan kompetitif yang dihadapi perusahaan penyedia perangkat lunak ketika kemampuan AI semakin luas dan mudah diakses.

Bagi perusahaan seperti Canva, tantangannya bukan hanya mengembangkan fitur berbasis AI, tetapi juga memastikan produk tetap relevan, efisien untuk dioperasikan, dan memiliki nilai tambah yang membedakannya dari layanan alternatif.

Tim Lebih Kecil dan Struktur Lebih Sederhana
Dalam pengumuman resminya, Perkins menjelaskan bahwa struktur organisasi Canva selama bertahun-tahun berkembang menjadi semakin terfragmentasi. Pengembangan satu bagian produk terkadang memerlukan koordinasi antartim dan serah terima pekerjaan yang dinilai terlalu panjang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Canva akan menggabungkan Product, Growth, dan Platform dalam satu organisasi produk. Perusahaan juga akan memperluas cakupan tanggung jawab sejumlah peran, menyederhanakan jenjang manajemen, dan mengonsolidasikan pekerjaan yang tumpang tindih.

Manajemen berharap perubahan itu membuat tim dapat mengambil tanggung jawab lebih menyeluruh, mempercepat pengembangan produk, dan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk koordinasi internal.

Selain itu, Sydney akan menjadi pusat utama bagi lebih banyak tim produk Canva. Perusahaan juga akan memperkuat kolaborasi tatap muka, dengan sebagian besar karyawan hybrid diperkirakan bekerja dari kantor dua hingga tiga hari setiap pekan mulai Januari 2027.

Tantangan Menjaga Pertumbuhan
Perlambatan pertumbuhan menjadi latar belakang penting bagi keputusan Canva untuk menata ulang operasionalnya. Perusahaan yang didirikan oleh Melanie Perkins, Cliff Obrecht, dan Cameron Adams tersebut telah berkembang menjadi platform desain digital yang digunakan ratusan juta orang di seluruh dunia.

Namun, besarnya basis pengguna tidak dengan sendirinya menjamin pertumbuhan bisnis pada masa mendatang. Perusahaan perlu terus berinovasi, mempertahankan pengguna, dan menyesuaikan struktur biaya dengan perubahan pasar.

Restrukturisasi ini memperlihatkan bahwa respons perusahaan teknologi terhadap perkembangan AI dapat berlangsung melalui dua jalur sekaligus: pengembangan produk yang semakin canggih dan perubahan organisasi agar lebih efisien.

Meski demikian, keberhasilan strategi tersebut belum dapat dipastikan hanya dari pengumuman restrukturisasi. Dampaknya akan bergantung pada kemampuan Canva mempertahankan daya saing produk, menjalankan inovasi, serta mengelola transisi organisasi tanpa mengganggu kualitas layanan bagi pengguna. (*)

(Zaky Al Hamzah/Canva/News)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID