Memaknai Keberkahan Ramadan (12)

Imam Shamsi Ali. (foto: muhammadiyah.or.id)

Oleh Imam Shamsi Ali *)

Manusia itu makhluk Allah yang misterius. Salah seorang seorang penulis terkemuka, Alexis Carrel, menyebut manusia sebagai “the unknown” (makhluk yang tidak diketahui). Buku yang pernah jadi the best selling di tahun 1935 itu membentangkan secara komprehensif apa yang diketahui dan tidak diketahui tentang manusia dan kehidupannya.

Ragam misteri tentang manusia dan kehidupannya tidak akan terjawab bahkan oleh dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan mendasar sekalipun manusia seringkali gagal meresponsnya jika bersandar pada dirinya sendiri.

Ada dua hal mendasar kenapa manusia gagal mengenal diri dan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidupnya.

Pertama, karena walaupun manusia memiliki potensi besar untuk tahu namun manusia sangat terbatas. Dan karenanya cerita tentang “Allah mengajarkan Adam nama-nama” menggambarkan di satu sisi potensi manusia untuk tahu. Namun di sisi lain juga menggambarkan ketidaktahuan tanpa diajarkan “allama Aadama”.

Kedua, karena realita dunia yang memang deras dan penuh tipu daya. Manusia tanpa pegangan samawi (heavenly guidance) rentan menjadi korban dunia dengan segala tipu dayanya. Dan tipu daya dunia ini dari masa ke masa semakin dahsyat.

Karena realita tersebut di atas Allah Yang Maha Mengetahui dan Kasih Sayang mengutus hamba-hamba istimewa-Nya (pilihan) untuk mengingatkan manusia. Rujukan atau referensi peringatan itu terangkum dalam Kitab Suci-Nya. Muhammad adalah utusan terakhir (khatamun nabiyyin). Dan Kitab Suci yang merangkum petunjuk Ilahi yang diberikan kepada Muhammad SAW bernama Al-Quran. Kitab suci yang merangkum semuanya untuk semua manusia di semua zaman.

Di sinilah bentuk keberkahan terbesar Ramadan. Bulan di mana Al-Qur’an, petunjuk hidup yang sempurna untuk seluruh manusia dan zaman diturunkan. Petunjuk yang sangat mendesak (crucially urgent) untuk memastikan manusia tetap berada di jalan yang benar, yaitu jalan kefitrahan dan kemanusiaannya yang hakiki.

Kita harus akui bahwa dalam dunia yang disebut dunia modern saat ini, salah satu ancaman terbesar yang dihadapi manusia adalah ketidakpastian (uncertainty). Ketidakpastian sejatinya memang itulah tabiat kehidupan. Segala yang belum nyata dalam hidup ini masuk dalam kategori “uncertainty”. Dan karenanya Allah mengingatkan: “Dan seseorang tidak tahu apa yang akan dilakukan di esok harinya”.

Ketidakmenentuan ini menjadikan manusia mengalami kebingungan (confusion) dalam hidupnya. Bingung akan asal usul (dari mana), bingung akan masa kini (untuk apa dan bagaimana menjalani hidupnya, dan bingung akan masa depan (ke mana arah hidupnya).

Situasi seperti itulah sesungguhnya yang disebut dalam bahasa agama dengan “dholaalah”. Berbagai penyelewengan dan dosa-dosa, bahkan kerusakan yang manusia lakukan adalah akibat dari kebingungan itu. Manusia mengalami kesesatan yang sangat akibat kelemahan dirinya dan dahsyatnya tipu daya kehidupan dunia. Dan lebih runyam lagi ketika kesesatan ini mendapat justifikasi-justifikasi slogan keilmuan dan kemajuan.

Persis untuk tujuan inilah Al-Quran diturunkan. Untuk membawa manusia kembali ke jalan kehidupan yang jelas. Kehidupan yang memiliki arah yang jelas. Dari mana, di mana dan ke mana. Petunjuk itulah esensi Al-Quran (hudan linnas) yang jelas dan tegas (bayyinaat) dan meluruskan kebingungan tadi sehingga jelas mana yang benar dan salah atau mana manfaat dan mudhorat (furqan).

Sungguh bulan Ramadan menjadi bulan yang penuh keberkahan dan hidayah. Dengan Al-Quran kehidupan manusia tersinari (nuur) di tengah gelapnya dan dahsyatnya gelombang kehidupan yang tidak menentu.

Selamat memasuki malam-malam penuh kemuliaan. Semoga Allah karuniakan kita Laelatul Qadar. Amin!

Manhattan City, Amerika Serikat, 12 April 2023



*) Presiden Nusantara Foundation

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.