Memaknai Keberkahan Ramadan (8)

Imam Shamsi Ali. (foto: net/rmol.id)

Oleh Imam Shamsi Ali *)

Kesempurnaan manusia hanya akan terjadi ketika menyatu tiga komposisi dalam penciptaannya. Yaitu material (fisikal), intelektual (akal) dan spiritual (ruhani). Menyatunya ketiga komponen penciptaan manusia ini menjadikannya manusia sempurna. Dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah manusia seutuhnya.

Islam sebagai petunjuk hidup (hudan) yang sempurna (kaaffah) pastinya hadir untuk memberikan acuan dalam menjaga dan menumbuhkan ketika komponen dasar kehidupan manusia itu. Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW memberikan tuntutan yang cukup tentang bagaimana menjaga dan menumbuhsuburkan ketiganya.

Intinya, Islam menghendaki ketiga komponen hidup itu sehat secara imbang. Karena sesungguhnya ketiganya adalah tiga komponen yang tak mungkin terpisahkan antara satu dan lainnya. Sehat dan kuat secara fisik, sehat dan tajam secara akal, serta sehat dan bersih secara ruh. Ketiganya mendapat porsi perhatian yang mendasar bagian dari tuntunan Islam.

Dalam perjalanannya manusia lalai. Bahkan jahil dan zholim pada diri dan kehidupannya. Kejahilan dan kezholiman manusia terwujud, salah satunya, dalam bentuk melalaikan ketiga atau sebagian komponen hidupnya itu. Pada ghalibnya manusia hanya penuh perhatian pada aspek material (fisikal) kehidupannya. Akibatnya manusia tidak menampakkan karakter manusia. Tapi lebih kepada karakter hewani. Bahkan lebih jahat dari hewan (adhollu).

Di sinilah puasa memainkan peranan signifikan dalam menjaga keseimbangan ketiga komponen hidup manusia. Benar bahwa puasa itu padat dengan nilai-nilai spiritual (ruhiyah). Dari puasa itu sendiri, Shalat-Shalat Tarawih dan Qiyamul Lail, Tilawatul Quran, hingga dzikir, tasbih dan doa-doa.

Semua akvifitas ritual di atas menjadi makanan (nourishment) terbaik spiritulitas manusia. Bahkan semua aktivitas Ramadan sesungguhnya, termasuk sahur, buka puasa, dan seterusnya semuanya memiliki nilai keberkahan yang menguatkan spiritualitas manusia.

Bulan Ramadan juga melatih manusia untuk mempertaham ketajaman intelektualnya (akal/pemikirannya). Salah satunya dengan tilawah dan mentadabburi ayat-ayat Al-Quran. Tidak ada satu bacaan apapun yang lebih efektif dalam menumbuhkan ketajaman akal pikiran manusia lebih dari mentadabburi ayat-ayat Al-Quran.

Karenanya ayat pertama yang turun adalah perintah Iqra. Yang salah satu arti terpentingnya adalah urgensi memaksimalkan akal pikiran manusia. Membaca tidak saja huruf-huruf Al-Quran. Tapi membaca makna-makna yang terkandung di dalamnya. Bahkan membaca dan memahami makna-makna yang ada di luar Al-Quran (alam semesta).

Ramadan juga menjadi salah satu cara yang efektif untuk menjaga dan menyehatkan tubuh manusia. Hadits Rasulullah SAW menjelaskan: “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”.

Menjadi kesepakatan para ahli kesehatan bahwa dengan berpuasa tubuh manusia akan mengalami rejenuvasi sel-sel baru. Sementara sel-sel yang rusak/mati akan terbuang untuk memberikan ruang kepada sel-sel baru untuk tumbuh dan berkembang. Para ahli telah banyak menguraikan manfaat puasa bagi jasad manusia.

Kesimpulannya adalah puasa Ramadan itu menjaga keseimbangan tiga komponen hidup manusia. Dengan terjaganya ketiga komponen hidup itu manusia terjaga sebagai manusia. Jika tidak, manusia boleh jadi masih berbentuk manusia. Namun realitanya tidak lagi manusia. Semoga kita terjaga!

Jamaica Hills, Amerika Serikat, 3 April 2023 



*) Presiden Nusantara Foundation


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.