Salah satu contoh nyata praktik baik ini terlihat di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Jember, Jawa Timur. Setiap harinya, dapur SPPG ini memproduksi 3.000 paket MBG yang didistribusikan kepada anak usia dini, pelajar, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di wilayah Puger Kulon.
Yang menarik, dapur SPPG ini tidak berdiri sendiri. Ia terintegrasi dengan sejumlah teaching factory (Tefa) yang ada di sekolah, seperti Tefa udang vaname dan Tefa Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi). Para siswa kelas XI dan XII dilibatkan langsung dalam berbagai proses produksi, mulai dari mengolah bahan baku hingga menganalisis kelayakan ekonomi.
Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kuntjoro Basuki, menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam program MBG memberikan pengalaman berharga yang tidak bisa didapatkan di ruang kelas teoretis.
"Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat, dapur SPPG ini juga telah meningkatkan kompetensi murid dan mengenalkan budaya kerja secara langsung kepada murid karena mereka bekerja bersama para ahli," ujar Kuntjoro, Rabu (19/2/2026).
Belajar Menjadi Pengusaha Sejak Dini
Salah satu siswa kelas XI, Oktavian Ardiansyah, merasakan langsung manfaat luar biasa dari program ini. Ia dan teman-temannya menjadi pemasok produk seperti pentol, puding, udang kupas, dan telur kupas ke dapur MBG.
"Kita bisa tahu dan juga berlatih untuk analisis ekonomi mulai dari BEP (break even point) dan HPP (harga pokok penjualan). Jadi, seolah-olah kita yang memiliki usaha dan tentu membuat kita lebih siap untuk terjun ke dunia kerja nantinya," ungkap Oktavian.
Bahkan, pengalaman praktik langsung ini secara tidak ikut mengantarkan Oktavian meraih juara pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) di Kabupaten Jember.
Dari SMK hingga Lembaga Kursus
Dampak positif program MBG juga dirasakan oleh lembaga kursus. Tefa Lembaga Kursus Abdi Bangsa Institute di Cianjur, misalnya, setiap hari memproduksi 9.000 roti untuk tiga SPPG di Kabupaten Cianjur. Lembaga ini melibatkan chef pastri profesional dan memberdayakan peserta kursus dalam proses produksi.
"Lembaga kursus harus menjadi bagian penting dalam menyukseskan program MBG ini," tegas Pemimpin Lembaga Kursus Abdi Bangsa Institute, Aji Syamsurizal.
Menguatkan Pendidikan Vokasi
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyambut baik pelibatan teaching factory dalam program MBG. Ia berharap program ini dapat memberikan dampak ganda, tidak hanya untuk pemenuhan gizi, tetapi juga penguatan pendidikan vokasional.
"Jadi, bahan pangan diproduksi oleh Tefa SMK bidang perikanan, peternakan, pertanian maupun tata boga, termasuk pengembangan alat-alat pendukung dapur SPPG juga bisa diproduksi oleh anak-anak SMK," ujar Tatang.
Dengan sinergi lintas sektor ini, program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjadi solusi atas masalah gizi, tetapi juga menjadi katalisator peningkatan kompetensi dan kesiapan kerja generasi muda Indonesia. Sebuah contoh nyata bagaimana kebijakan publik dapat dirancang untuk memberikan manfaat yang berlipat ganda.
(Sumber: Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah)

Posting Komentar untuk "Bukan Cuma Makan Gratis, Program MBG Juga Jadi "Sekolah Lapangan" bagi Siswa SMK"