Puasa Bukan Sekadar Ritual: Buku Baru Abdul Mu’ti Ajak Jadikan Momentum Ramadan Motor Perubahan Sosial

Buku terbaru karya Prof Abdul Mu'ti, "Puasa Sebagai Gerakan Sosial" yang terbit pada Februari 2026. (Foto: penerbitirfani.com)
JAKARTA -- Bulan Suci Ramadan kerapkali hadir sebagai perayaan religius yang meriah—dipenuhi ragam ibadah, tradisi, dan simbol spiritual. Namun, di balik semarak itu, ada pertanyaan mendasar: apakah puasa benar-benar mengubah diri dan lingkungan, atau sekadar menambah daftar ritual tahunan?

Pertanyaan itulah yang menjadi napas utama buku terbaru karya Prof Abdul Mu'ti, "Puasa Sebagai Gerakan Sosial" yang terbit pada Februari 2026. Melalui buku ini, penulis yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) mengajak pembaca memandang puasa bukan hanya sebagai kewajiban individual, melainkan sebagai sarana transformasi batin yang berdampak luas pada kehidupan sosial.

Menurut Mu’ti, problem sosial di masyarakat seringkali bukan semata karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena lemahnya pengendalian diri. Puasa, jika dimaknai secara mendalam, justru menjadi latihan spiritual yang mampu memperkuat kontrol diri sekaligus menumbuhkan empati sosial.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa ringan namun tetap reflektif. Terdiri dari 44 bab pendek—masing-masing sekitar tiga halaman—setiap bagian menghadirkan fragmen pemikiran yang saling terhubung. Struktur tersebut membuat buku ini mudah dibaca secara bertahap, sangat cocok menemani momen Ramadan yang padat aktivitas ibadah.

Lebih dari sekadar panduan spiritual, "Puasa Sebagai Gerakan Sosial" menawarkan perspektif bahwa tujuan puasa bukanlah menumpuk ritual, melainkan membentuk pribadi yang bertakwa sekaligus peka terhadap ketidakadilan dan penderitaan di sekitar. Puasa diharapkan melahirkan manusia yang lebih adil, berempati, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Mu’ti menekankan bahwa keberagamaan yang autentik tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Dengan demikian, puasa menjadi energi moral untuk memperbaiki relasi sosial—mulai dari keluarga, lingkungan kerja, hingga kehidupan berbangsa.

Bahasa yang renyah dan mudah dipahami membuat buku ini terasa akrab bagi pembaca dari berbagai kalangan. Tidak menggurui, tetapi mengajak merenung. Karena itu, buku ini dinilai tepat dijadikan bacaan reflektif selama bulan suci, ketika umat Muslim sedang berupaya meningkatkan kualitas iman sekaligus memperbaiki diri.

Pada akhirnya, kehadiran "Puasa Sebagai Gerakan Sosial" diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan keagamaan, tetapi juga menggugah kesadaran bahwa ibadah memiliki dimensi sosial yang tak kalah penting. Ramadan pun diharapkan tidak berhenti sebagai tradisi tahunan, melainkan menjadi momentum perubahan nyata menuju kehidupan yang lebih manusiawi dan berkeadilan.

Identitas Buku
Judul: Puasa Sebagai Gerakan Sosial
Penulis: Abdul Mu’ti
Editor: Azaki Khoirudin dan Yahya Fathur Razi
Penata Letak: Burhan Ramadhani
Desain Sampul: Ahmad Soleh
Penerbit: Irfani
Cetakan: I, Februari 2026
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: viii + 135 halaman

(ark)

Posting Komentar untuk "Puasa Bukan Sekadar Ritual: Buku Baru Abdul Mu’ti Ajak Jadikan Momentum Ramadan Motor Perubahan Sosial"