JAKARTA -- Dunia pendidikan tinggi kembali mencatat pencapaian baru. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, resmi dikukuhkan sebagai Profesor Kehormatan bidang Ilmu Politik dan Kebudayaan oleh Universitas Nasional (Unas), Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni akademik biasa, melainkan pengakuan atas konsistensi intelektual dan dedikasi panjang di dunia kebudayaan.
Rektor Unas, El Amry Bermawi Putera, menyatakan bahwa gelar kehormatan ini diberikan berdasarkan rekam jejak akademik yang solid, bukan karena faktor jabatan politik.
"Karya intelektual dan pengabdian kebudayaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan menjadi pertimbangan utama," ujar El Amry di kampus Unas, Pejaten, Jakarta Selatan.
Fadli Zon memang bukan nama baru di lingkungan kampus. Sejak 2018, ia tercatat sebagai pengajar di Unas. Sebelumnya, ia juga mengabdi selama lima tahun di almamaternya, Universitas Indonesia (UI). Latar belakang pendidikannya pun mumpuni: meraih gelar Master of Science dari London School of Economics (LSE) dan doktor Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya UI pada 2016.
Yang menarik, Unas secara khusus menyoroti keselarasan pemikiran Fadli dengan salah satu pendiri kampus, Sutan Takdir Alisjahbana. STA, sapaan akrabnya, meyakini kebudayaan sebagai daya cipta dan kekuatan kemajuan bangsa. Fadli dinilai berhasil menerjemahkan gagasan itu ke dalam aksi nyata.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk "Politik Kebudayaan Mega-Diversity: Indonesia sebagai Pusat Peradaban Dunia", Fadli membeberkan bukti-bukti arkeologis yang menempatkan Indonesia sebagai pusat peradaban tertua. Ia menunjuk lukisan cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna, yang berusia 67.800 tahun—jauh lebih tua dari seni cadas di Eropa.
"Indonesia bukan bangsa yang baru lahir, melainkan salah satu pusat peradaban tertua umat manusia," tegas Fadli di hadapan senat universitas.
Di luar capaian akademik, pengukuhan ini juga mengapresiasi kerja nyata Fadli di bidang pelestarian budaya. Ia aktif mendirikan museum, mengoleksi ribuan artefak, hingga mencatatkan rekor MURI. Dedikasinya menjadikan museum bukan sekadar tempat penyimpanan, tetapi pusat edukasi dan riset yang hidup.
Bagi civitas academica, pengukuhan ini menjadi pengingat bahwa intelektualitas tidak hanya diukur dari jabatan struktural, tetapi dari konsistensi berkarya dan kontribusi nyata bagi bangsa. Fadli Zon, dengan segala pro dan kontranya, telah membuktikan bahwa politisi pun bisa merawat tradisi keilmuan.
(Humas Kementerian Kebudayaan RI dan Orasi Ilmiah Megadiversitas Budaya Indonesia)

Posting Komentar untuk "Dari Dosen Tamu ke Guru Besar: Fadli Zon Resmi Sandang Profesor Kehormatan Unas Jakarta"