![]() |
| Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. (Foto: metrotvnews.com) |
Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 23.37 WIB, tepat setelah Andrie selesai mengikuti rekaman podcast bertajuk "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia" di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Saat tengah mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I, dua pelaku yang berboncengan dengan sepeda motor tiba-tiba mendekat dan menyiramkan cairan keras ke arahnya.
"Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen," ujar Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/3/2026).
Terindikasi Terorganisir dan Sudah Dikuntit
Investigasi awal yang dilakukan oleh rekan-rekan sipil mengungkap fakta yang lebih mencemaskan. Ketua Umum YLBHI, M. Isnur, mengungkapkan bahwa berdasarkan bukti rekaman kamera pengawas (CCTV), Andrie diduga sudah dalam pengawasan atau dikuntit selama beberapa hari sebelum kejadian.
"Kami punya bukti, kami menelusuri Andrie diintai beberapa hari ini, dari rumah, tempat-tempat berkunjungnya, kemarin seharian dari Celios, kemudian dari YLBHI sudah diikuti. Orang-orangnya jelas semua terekam di CCTV," ujar Isnur dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Rekaman CCTV yang diputar di hadapan media juga menunjukkan kejanggalan lainnya. Dalam video, jalanan yang sebelumnya ramai tiba-tiba menjadi sepi saat detik-detik penyerangan berlangsung. Aktivis HAM Fatia Maulidiyanti yang memandu pemutaran video menduga adanya pihak lain yang mengamankan perimeter di lokasi kejadian.
"Itu adalah ketika berpapasan antara motor pelaku dan juga motor korban. Dan setelah itu jalanan sepi sama sekali," jelas Fatia, mengindikasikan bahwa penyerangan ini diduga merupakan operasi terencana, bukan aksi kriminal biasa .
Hal ini diamini oleh mantan penyidik KPK, Novel Baswedan, yang turut hadir dalam konferensi pers. Setelah melihat rekaman, ia meyakini bahwa para pelaku terorganisir dan niat mereka sangat kuat.
"Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan, sehingga saat menyerang terorganisir," ujar Novel.
Kecaman dan Desakan Pengusutan Tuntas Datang dari Berbagai Pihak
KontraS dengan tegas menyatakan bahwa peristiwa ini adalah upaya sistematis untuk membungkam suara-suara kritis, khususnya para pembela HAM. Serangan ini pun langsung menuai kecaman luas dari berbagai elemen bangsa, mulai dari pemerintah hingga anggota dewan.
Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, dengan tegas mengutuk aksi premanisme tersebut dan mendesak polisi untuk mengusut tuntas pelakunya. "Negara ini adalah negara damai aman dan tidak boleh pernah melakukan kekerasan apalagi menyiram air keras kepada seluruh rakyat Indonesia," tegas Pigai di Kompleks Istana Kepresidenan.
Kementerian HAM juga memastikan akan memberikan pendampingan kepada korban.
Dari parlemen, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdullah (Gus Abduh), bahkan menyebut tindakan ini sebagai percobaan pembunuhan. "Ini bukan sekadar kriminal biasa, tetapi diduga upaya percobaan pembunuhan terhadap aktivis yang vokal menyuarakan HAM," ujarnya.
Gus Abduh menyoroti fakta tidak ada barang korban yang hilang, memperkuat dugaan motif di balik serangan ini.
Anggota DPR lainnya, seperti Andreas Hugo Pareira (PDIP) dan Ahmad Sahroni (NasDem), juga kompak mengutuk keras teror ini dan meminta agar motif serta dalang di baliknya diungkap secara terbuka dan transparan.
Polisi Bergerak, Kapolri Beri Atensi Khusus
Pihak kepolisian sendiri memastikan sedang melakukan penyelidikan intensif. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyatakan pihaknya mengecam kejadian tersebut dan berharap pelaku segera tertangkap.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, membenarkan adanya kejadian tersebut dan menyatakan penyidikan sedang dilakukan melalui metode scientific investigation, termasuk memeriksa rekaman CCTV. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga dikabarkan telah memberikan atensi khusus terhadap kasus ini.
Hingga berita ini diturunkan, identitas dan motif pelaku masih dalam penyelidikan, sementara Andrie Yunus masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
(Siaran Pers KontraS)

Posting Komentar untuk "Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Luka 24 Persen di Seluruh Tubuh, Dikuntit Sejak Beberapa Hari"