Perubahan itu terjadi setelah sekolah menerima dukungan perangkat digital berupa Papan Interaktif Digital (PID), akses internet berbasis satelit Starlink, serta Super Aplikasi Rumah Pendidikan sejak awal 2026.
Guru IPS SMPN Wederok, Theobaldus Banafanu, mengakui kehadiran perangkat tersebut membawa suasana belajar yang jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
“Sebelumnya buku ajar sangat terbatas. Anak-anak kurang fokus karena harus bergantian melihat materi. Sekarang, sejak ada papan interaktif digital, guru bisa langsung menampilkan visual materi yang dibahas. Kami dimudahkan dalam proses belajar mengajar,” ujar Theobaldus saat ditemui, Rabu (18/3/2026).
Dari Kelas Konvensional ke Kelas Interaktif
SMPN Wederok yang berada di Kecamatan Weliman melayani 139 siswa, mayoritas berasal dari keluarga petani jagung, padi, dan kopra. Meski berada di wilayah 3T, para siswa ternyata cukup akrab dengan teknologi ponsel pintar.
Menurut Theobaldus, pendekatan visual dan interaktif membuat siswa lebih fokus dan tidak mudah mengantuk di kelas. Guru kini dapat menampilkan video pembelajaran, ilustrasi visual, hingga melakukan ice breaking berbasis konten digital secara langsung tanpa harus mengunduh materi terlebih dahulu.
“Sekarang kalau perlu ice breaking, tinggal akses YouTube dan ikuti gerakannya bersama. Anak-anak lebih bersemangat. Guru juga tidak lagi sekadar mengajar teori di atas kertas, tapi bisa memperlihatkan langsung lewat papan digital,” kata Theobaldus.
Kehadiran Super Aplikasi Rumah Pendidikan yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikdasmen juga memperkaya sumber belajar. Sementara pengadaan PID dan akses internet difasilitasi Direktorat SMP pada Ditjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.
Nilai Ujian Meningkat Signifikan
Dampak digitalisasi tak hanya terasa dari sisi suasana kelas, tetapi juga hasil akademik. Theobaldus menyebutkan, rerata nilai ujian mingguan siswa kini stabil di angka 75–80.
“Anak-anak lebih memahami materi karena bisa melihat visualisasinya langsung. Pemahaman mereka meningkat, itu terlihat dari hasil evaluasi,” ujarnya.
Theobaldus juga mengikuti pelatihan Training of Trainer (ToT) terkait presentasi berbasis Canva dari rekan sejawatnya. Bekal tersebut, menurutnya, membuka peluang pembelajaran kreatif yang bisa diterapkan lintas mata pelajaran.
Namun, keterbatasan perangkat masih menjadi tantangan. Saat ini, satu PID digunakan secara bergantian sehingga rata-rata satu kelas baru bisa memanfaatkan fasilitas tersebut sekali dalam sepekan.
“Harapannya tentu sarana ini bisa ditambah. Supaya pemanfaatannya lebih optimal dan tidak terbatas,” kata Theobaldus.
Paradigma “Schooling” ke “Learning”
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menilai praktik baik di NTT menjadi bukti bahwa transformasi digital bukan sekadar proyek pengadaan perangkat, melainkan perubahan paradigma belajar.
“Kita sedang menggeser konsep schooling menjadi learning. Pembelajaran tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Dengan pendekatan learning, siswa bisa belajar di mana saja dan kapan saja,” jelas Yudhistira.
Yudhistira menambahkan, penguatan ekosistem teknologi pendidikan menjadi kunci keberlanjutan transformasi. Saat ini, terdapat hampir 3.000 pengembang teknologi pembelajaran yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga. “Ekosistem ini harus saling mengenal, berkolaborasi, dan saling menguatkan agar inovasi pendidikan benar-benar berdampak,” ujarnya.
Digitalisasi dan Masa Depan Pendidikan 3T
Sejumlah kajian nasional menunjukkan bahwa akses internet dan perangkat digital berkontribusi terhadap peningkatan literasi dan numerasi siswa, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber belajar. Data berbagai survei pendidikan juga menegaskan pentingnya penguatan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi agar transformasi digital tidak berhenti pada aspek infrastruktur.
Praktik di SMPN Wederok menjadi contoh bahwa ketika infrastruktur, aplikasi pembelajaran, dan peningkatan kapasitas guru berjalan beriringan, dampaknya bisa langsung dirasakan siswa.
Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas, sekolah di pelosok Nusa Tenggara Timur kini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar wacana. Ia telah menjadi jembatan yang memperpendek jarak kualitas pendidikan antara pusat dan daerah.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Sekolah 3T di NTT Naik Kelas: Digitalisasi Pembelajaran Dongkrak Nilai Rata-rata Siswa hingga 75-80"