
Program Bestari Saintek dirancang sebagai jembatan antara dunia akademik dengan kebutuhan industri dan masyarakat. (Foto ilustrasi: Gebrak.id/AI)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID; JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menggelontorkan pendanaan besar untuk mendorong riset perguruan tinggi agar tidak berhenti di laboratorium. Sebanyak 122 tim peneliti dari 64 kampus berhasil memperoleh pendanaan dengan total nilai mencapai Rp57 miliar.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Bestari Saintek 2026 yang diluncurkan untuk mempercepat hilirisasi hasil riset kampus menjadi produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan bahkan dikomersialkan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, mengatakan bahwa setiap proposal penelitian rata-rata memperoleh pendanaan sekitar Rp700 juta.
“Per proposal rata-rata Rp700 juta. Harapannya, hasil riset tidak hanya berhenti dipublikasi, tetapi bisa menjadi produk yang memberi dampak nyata,” ujar Brian dalam peluncuran program di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Riset tak Boleh Berhenti di Kampus
Program Bestari Saintek dirancang sebagai jembatan antara dunia akademik dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Selama ini, banyak hasil penelitian yang dinilai belum optimal dimanfaatkan karena tidak terhubung dengan dunia usaha.
Melalui konsep living lab, para peneliti didorong untuk mengembangkan inovasi langsung di tengah masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan hasil riset diuji secara nyata sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Brian menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama dalam program ini. “Kami mendorong peneliti untuk menggandeng industri agar riset yang dihasilkan bisa diimplementasikan dan memiliki nilai ekonomi,” katanya.
Libatkan 64 Kampus, Negeri dan Swasta
Sebanyak 64 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, terlibat dalam program ini. Partisipasi yang luas tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem riset yang lebih inklusif dan merata di berbagai daerah.
Tak hanya berfokus pada pengembangan teknologi tinggi, program ini juga membuka peluang bagi riset-riset yang berorientasi pada kebutuhan lokal, seperti pertanian, kesehatan, hingga pengembangan ekonomi berbasis komunitas.
Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Tantangan Hilirisasi Riset
Meski pendanaan sudah disiapkan, tantangan terbesar tetap berada pada proses hilirisasi atau komersialisasi hasil riset. Banyak inovasi yang gagal masuk ke pasar karena kurangnya dukungan industri atau minimnya kesiapan produk.
Program Bestari Saintek mencoba menjawab persoalan tersebut dengan mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses transformasi dari riset menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Dorong Ekonomi Berbasis Sains dan Teknologi
Pemerintah menilai bahwa penguatan riset dan inovasi menjadi salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan memanfaatkan hasil penelitian secara optimal, Indonesia diharapkan mampu bersaing di tingkat global.
Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi nasional, sehingga tidak selalu bergantung pada produk impor.
Melalui pendekatan kolaboratif, pemerintah berharap riset tidak lagi menjadi aktivitas eksklusif di lingkungan akademik, tetapi menjadi motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan.
Harapan ke Depan
Dengan total pendanaan Rp57 miliar dan keterlibatan ratusan peneliti, program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi di Indonesia.
Namun, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh sejauh mana hasil riset mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan dan diterima oleh pasar.
Jika berjalan sesuai harapan, bukan tidak mungkin kampus-kampus di Indonesia akan menjadi pusat lahirnya produk inovatif yang tidak hanya bermanfaat secara sosial, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.
(Sumber: Kemdiktisaintek)
Posting Komentar untuk "122 Tim Peneliti Dapat Dana Rp57 Miliar, Pemerintah Dorong Hasil Riset Kampus Tembus Pasar"