50 Anak Muda Lintas Iman Menyapa Damai di Kuil Khas Jepang: Bukan Sekadar Toleransi, tapi Menyentuh Jiwa

Hang Out Kebinekaan ke-30, sebuah program rutin yang digagas Generasi Literat, kali ini digelar di Kuil Hoseiji-Nichiren Shoshu, Jakarta Selatan, Sabtu (25/4/2026). (Foto: Generasi Literat)

Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang kerapkali menimbulkan kegaduhan, Sabtu (25/4/2026) pagi, suasana berbeda tercipta di Kuil Hoseiji-Nichiren Shoshu, Jakarta Selatan. Perlahan, sekitar 50 anak muda dari beragam agama dan komunitas memasuki ruang tenang itu. Bukan untuk berdebat, melainkan untuk merenung, bertanya, dan belajar merayakan damai.

Mereka berkumpul dalam rangka Hang Out Kebinekaan ke-30, sebuah program rutin yang digagas Generasi Literat sebagai ruang perjumpaan lintas iman yang hangat. Acara yang dikemas sederhana ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tak perlu menjadi tembok penghalang.

Doa Bersama dan Satu Tanah Air

Kegiatan diawali dengan doa menurut tradisi Buddha yang dipimpin Biksu Shinken Basuki. Lalu, tanpa canggung, seluruh peserta berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebuah simbol penting: meskipun berbeda jalan spiritual, mereka tetap berpijak pada satu tanah air.

Kepala Kuil, Biksu Ryosho Tozawa, dalam sambutannya mengaku terharu. Sebagian besar peserta, katanya, baru pertama kali menginjakkan kaki di kuil Buddha aliran Nichiren Shoshu.

"Perbedaan yang kalian temui di sini bukanlah jarak yang memisahkan. Itu adalah jendela untuk belajar dan memperluas pemahaman," ujar Biksu Ryosho.

"Perdamaian Dimulai dari dalam Diri"

Mila Muzakkar, founder sekaligus Direktur Generasi Literat, mengajak para peserta merenungkan kondisi dunia yang belakangan dipenuhi konflik dan kebencian. Dalam pesannya, Mila mengungkapkan sekilas ajaran Buddhisme Nichiren yang menegaskan bahwa kondisi dunia adalah cermin dari batin manusia.

"Pencerahan tidak berhenti pada meditasi atau sembahyang. Tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari," pesan Mila.

Menurut Mila, anak muda tidak bisa hanya menjadi penonton atas kegaduhan global. Mereka harus menjadi aktor perubahan, dimulai dari langkah kecil: membuka hati terhadap sesama yang berbeda keyakinan.


Mila Muzakkar, founder sekaligus Direktur Generasi Literat (kiri), dan Kepala Kuil Hoseiji-Nichiren Shoshu, Biksu Ryosho Tozawa. (Foto: Generasi Literat)

Bukan Menyembah Patung, tapi Mengamalkan Hukum Universal

Memasuki sesi inti, peserta diajak masuk ke ruang ibadah. Biksu Ryosho, ditemani penerjemahan oleh Biksu Shinken, menjelaskan sejarah panjang Buddhisme dari India hingga ke Indonesia, khususnya aliran Mahayana dan Nichiren Shoshu.

Satu fakta mengejutkan banyak peserta: dalam ajaran Nichiren Shoshu, umat tidak menyembah patung. Fokus utama justru pada dharma—hukum universal yang diyakini membimbing manusia mencapai tingkat kebuddhaan tertinggi.

Diskusi pun berlangsung hidup. Pertanyaan mengalir deras, dari asal-usul ajaran Buddha di Lumbini, aturan makanan, hingga makna pencerahan dalam rutinitas harian. Jawaban yang diberikan bukan sekadar doktrin, melainkan refleksi bahwa kehidupan batin manusia terus berubah, dan pencerahan adalah proses yang harus diupayakan berulang kali.

'Doa Mereka Masuk ke dalam Jiwa'

Namun, momen paling kuat justru terjadi dalam sesi Lihat, Dengar, dan Rasakan (LDR). Di sinilah pengalaman personal para peserta menjadi cerita utama.

Bram, mahasiswa dari Universitas Paramadina, mengaku terkesan dengan estetika ruang ibadah dan suasana doa yang menyentuh batin. "Ada kedalaman dalam cara mereka berdoa," ujarnya.

Lain lagi cerita Wilu. Ia menggambarkan lantunan doa tersebut seperti "masuk ke dalam jiwa", menghadirkan sensasi merinding sekaligus rasa kagum yang mendalam. "Rasanya bukan hanya mendengar, tapi ikut terhanyut dalam ketenangan," katanya.

Maria merasakan kenyamanan sejak pertama kaki melangkah masuk. "Penjelasannya jelas, suasananya menenangkan. Saya tidak merasa asing meskipun ini pertama kali ke kuil," jelasnya.

Ridwan, dari komunitas ICRP, menilai kegiatan ini bukan hanya tentang toleransi, melainkan belajar kasih sayang lintas iman. "Ini penting. Kita sering mendengar istilah toleransi, tapi jarang merasakannya secara langsung seperti ini," ujarnya.

Sementara Grace dari PPIM Jakarta berharap kegiatan serupa terus berlanjut. "Acara ini membuka wawasan baru yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah," katanya.

Menjaga Api Keberagaman agar tak Padam

Di tengah segala perbedaan yang hadir, satu benang merah terasa kuat: para anak muda ini membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan. Mereka membawa pengalaman bahwa dialog lintas iman bukan hanya mungkin, tetapi juga perlu terus dirawat.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata dan foto bersama—momen sederhana yang merekam lebih dari sekadar kebersamaan. Senyum dan tawa menghiasi wajah-wajah dari berbagai latar belakang, seolah berkata, "Damai itu nyata, dan ia bisa dimulai hari ini".

Semangat itulah yang mengantarkan Generasi Literat untuk terus mengupayakan ruang perjumpaan lintas iman melalui program Hang Out Kebinekaan. Di dunia yang kerapkali dipenuhi prasangka dan konflik, pertemuan kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa perdamaian bisa dimulai dari hal yang paling sederhana: datang, mendengar, dan membuka diri untuk saling memahami.

"Doakan kami panjang umur, panjang usaha, untuk terus mengajak teman-teman berkenalan dengan keberagaman di Indonesia," tutup Mila Muzakkar dengan haru.

(Penulis: Catherine Natalia, Relawan Generasi Literat)

Posting Komentar untuk "50 Anak Muda Lintas Iman Menyapa Damai di Kuil Khas Jepang: Bukan Sekadar Toleransi, tapi Menyentuh Jiwa"