![]() |
| Haidar Bagir. (Foto: Mizan) |
Sejak konflik di kawasan Teluk memanas, harga minyak dunia—baik Brent maupun WTI—berulang kali terdorong naik ke kisaran USD 85–100 per barel, bahkan sempat melampaui level itu pada puncak eskalasi Perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran. Dampaknya langsung terasa: inflasi harga energi yang terus meningkat, biaya logistik melonjak, dan banyak negara—termasuk di Asia dan Eropa—harus menambah subsidi atau menahan konsumsi.
Di AS, tekanan eksternal itu berkelindan dengan dinamika politik domestik menjelang pemilihan sela. Popularitas Presiden Donald Trump terus tergerus oleh membengkaknya biaya perang dan ketidakpastian hasil.
Anggaran pertahanan AS sudah berada di atas USD 800 miliar per tahun, dan operasi militer besar dapat menghabiskan puluhan hingga ratusan miliar dolar tambahan dalam waktu relatif singkat.
Iran, di pihak lain, terbukti sejauh ini mampu menyerap kerugian-kerugian akibat perang dalam keadaan masih tegak. Yang muncul kemudian bagi AS adalah situasi yang nyaris mendekati quagmire: keterlibatan yang makin dalam tanpa bayangan mereka mencapai hasil yang diharapkan.
Di sisi lain, kalkulasi militer Israel juga menemui kenyataan yang berbeda di lapangan. Selain menanggung kerugian amat besar akibat serangan balasan Iran, dalam petualangannya di Lebanon Hezbollah terbukti tetap menjadi kekuatan yang masih harus diperhitungkan. Ada estimasi bahwa Hizbullah masih memiliki puluhan ribu roket, di samping masih menyimpan kemampuan perang daratnya yang telah teruji sejak perang 2006.
Lebih jauh, bayang-bayang keterlibatan Ansarullah di Yaman—dan juga milisi dukungan Iran di Irak–menambah kompleksitas perang bagi AS dan Israel.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Ansarullah ini telah menunjukkan kemampuan menyerang target jarak jauh, termasuk fasilitas energi strategis di kawasan Teluk. Jika mereka masuk secara penuh dalam konflik terbuka, jalur perdagangan vital—terutama di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb—bisa terganggu hebat, dengan dampak langsung pada makin parahnya harga energi dan perdagangan global.
Dalam keadaan seperti ini, perundingan perdamaian menjadi nyaris tak terhindarkan. Namun, kini, perimbangan posisi tawar juga telah berubah.
Iran pasti akan menuntut harga tinggi bagi konsesi apa pun yang akan diberikannya. Iran hampir pasti akan menjadikan isu hak pengembangan program nuklir (terutama pengayaan uranium hingga tingkat yang dibutuhkan) untuk tujian damai, di samping pencairan asetnya yang dibekukan AS sejak puluhan tahun lalu—yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar—serta komitmen penghentian agresi total atas negeri mereka. Meski jalannya akan berliku, kompromi bukan sama sekali mustahil, jika Trump masih memiliki sisa-sisa kewarasannya.
Betapa pun juga, kalau pun kesepakatan perdamaian bisa dicapai, keadaannya akan tetap rapuh dan berisiko berantakan lagi. Bisa jadi akan ada periode ketenangan relatif, tetapi tetap saja bukan penyelesaian final.
Permusuhan antara Iran dan Israel, dan AS yang adigang-adigung-adiguna menopang Israel nyaris tanpa batas, tampaknya akan tetap mewarnai geopolitik Timur Tengah. Kecuali ada tatanan baru di kawasan ini, perlawanan terhadap Islam boleh dibilang merupakan salah satu pilar utama ideologi Republik Islam Iran ini.
Tak kurang dari melenyapkan negara Israel sebagai suatu entitas politik sudah menjadi tujuan Iran. Dengan cara apa pun, meski mungkin melalui proksi-proksinya, dan harapan akan perlawanan dari dalam wilayah Palestina sendiri.
Alhasil, kekhawatiran bahwa konflik Iran-Israel akan berlarut bukanlah spekulasi yang tidak berdasar. Dunia, khususnya kawasan Timur Tengah, tampaknya masih harus terus bersiap hidup dalam bayang-bayang ketegangan ini untuk waktu yang tidak singkat. Apa boleh buat...
26 April 2026
*) Cendekiawan, filantropis, dan penulis.

Posting Komentar untuk "Api Perang Berkecamuk Lagi, atau Tersuruk dalam Sekam: Menduga-duga Prospek Perang Iran Vs AS-Israel"