
Dua mantan kiper Juventus, Alex Manninger dan Gianluigi Buffon. (Foto: Instagram Buffon)
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID – Dunia sepak bola internasional sedang berduka. Sebuah kabar duka menyelimuti para penggemar si kulit bundar, khususnya bagi yang mengikuti kancah Eropa era 2000-an. Alex Manninger, mantan kiper asal Austria yang namanya sempat harum di Liga Inggris dan Italia, dikabarkan meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis.
Namun, yang membuat duka ini terasa begitu menusuk adalah curahan hati dari seorang legenda hidup, Gianluigi Buffon. Bagi Buffon, kepergian Manninger bukan sekadar kehilangan rekan satu tim, melainkan kehilangan seorang saudara sekaligus "orang gila" yang paling ia kagumi.
Berita duka ini langsung mengguncang jagat maya setelah Buffon mengunggah sebuah puisi perpisahan yang begitu pilu di akun Instagram pribadinya. Mari kita bedah kesedihan mendalam sang kiper legendaris dan kisah persahabatan unik di balik gawang Juventus.
Kronologi Kecelakaan Maut di Salzburg
Musibah yang merenggut nyawa Manninger terjadi pada Kamis (16/4/2026) waktu setempat di Salzburg, Austria. Menurut laporan awal dari kepolisian setempat yang dirangkum dari La Gazzetta dello Sport, mobil yang dikemudikan oleh Manninger tertabrak kereta api di sebuah perlintasan tanpa palang pintu.
Mantan kiper Arsenal dan Juventus itu dikabarkan meninggal seketika di lokasi kejadian. Kepergiannya yang mendadak di usia yang masih tergolong aktif ini meninggalkan luka mendalam, terutama bagi istri dan anak-anaknya yang masih muda.
"Kau Selalu Tersenyum Licik, Seolah Bilang Kami Semua Gila"
Dari sekian banyak belasungkawa yang membanjiri linimasa, tulisan Gianluigi Buffon adalah yang paling menyentuh hati. Bagaimana tidak, Buffon dan Manninger menghabiskan empat musim bersama di Juventus (2008-2012). Meski berstatus sebagai pelapis, Manninger tidak pernah menjadi kiper yang cemberut.
Dalam unggahan panjangnya, Buffon mengaku mengagumi prinsip hidup Manninger yang "nyleneh" di dunia sepak bola modern.
"Alex Manninger yang terkasih. Di dunia yang kejam, penuh penindasan, dan serba menuntut keuntungan ini, kamu justru memilih kebahagiaan sederhana: hidup di hutan, memancing, dan menikmati alam," tulis Buffon.
Salah satu kalimat yang paling mengena adalah ketika Buffon menyebut bahwa Manninger selalu memiliki "senyum licik" (sorriso furbo). Senyum yang seolah-olah mengatakan bahwa para pesepak bola yang sibuk mengejar ketenaran dan uang adalah orang-orang gila, sementara Manninger adalah satu-satunya yang berani "kabur" untuk mencari kedamaian.
Karier Singkat namun Berkesan
Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang ingat era Premier League 90-an, nama Alex Manninger tentu tidak asing. Pria yang kini berusia 49 tahun itu adalah kiper yang membawa Arsenal meraih gelar ganda (Premier League dan FA Cup) pada 1998, menggantikan David Seaman yang cedera.
Setelah berkelana ke Spanyol dan Jerman, Manninger mendarat di Turin. Meski hanya tampil dalam beberapa laga sebagai pelapis Buffon, ia dikenal sebagai profesional kelas kakap. Ia tidak pernah mengeluh, dan justru menjadi "teman curhat" yang baik bagi Buffon yang saat itu tengah memimpin lini belakang Si Nyonya Tua.
Pesan Terakhir: Jaga Keluarga
Di akhir tulisannya, Buffon menitipkan pesan haru. Ia berharap meski raga Manninger telah tiada, jiwanya akan terus menjaga istri dan anak-anaknya yang ditinggalkan.
"Beristirahatlah dengan tenang, Alex. Kuharap dari sana kau terus membimbing anak-anakmu yang cantik," pungkas legenda timnas Italia tersebut.
Kepergian Alex Manninger menjadi pengingat bahwa di balik gemerlapnya stadion dan gaji fantastis, para pesepak bola tetaplah manusia biasa dengan persahabatan yang tulus. Selamat jalan, kiper eksentrik dari Austria.
(Sumber: La Gazzetta dello Sport/Instagram Resmi Gianluigi Buffon/@gianluigibuffon)
Posting Komentar untuk "Bukan Hanya Rekan Setim, Buffon Kehilangan Sahabat Sejati: "Kau Satu-satunya yang Berani Kabur dari Gila-nya Sepak Bola""