Dari Kelas Bocor ke Sekolah Layak: Revitalisasi Pendidikan di Gorontalo Dikebut, Libatkan Warga

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat (tengah) meresmikan revitalisasi 30 sekolah dari berbagai jenjang, mulai dari SD hingga SMA di Gorontalo, Selasa (28/4/2026). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; GORONTALO – Upaya pemerintah memperbaiki kualitas pendidikan terus bergerak cepat. Di Provinsi Gorontalo, program revitalisasi satuan pendidikan mulai menunjukkan hasil nyata, mengubah sekolah dengan kondisi memprihatinkan menjadi ruang belajar yang lebih aman dan nyaman.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat meresmikan revitalisasi 30 sekolah dari berbagai jenjang, mulai dari SD hingga SMA. Program ini menjadi bagian dari prioritas nasional untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia.

“Banyak sekolah sebelumnya belum tersentuh perbaikan. Mulai dari atap bocor, dinding retak, hingga sanitasi yang tidak layak. Ini yang sekarang kita perbaiki secara bertahap dan masif,” ujar Atip dalam peresmian di Gorontalo, Selasa (28/4/2026).

Perbaikan Fisik Jadi Prioritas

Program revitalisasi ini menyasar berbagai aspek penting, mulai dari ruang kelas, laboratorium, hingga fasilitas sanitasi. Pemerintah menilai kondisi fisik sekolah memiliki pengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran.

Dalam banyak kasus, siswa harus belajar di ruang kelas yang tidak layak, bahkan berisiko terhadap keselamatan. Oleh karena itu, perbaikan sarana prasarana menjadi langkah awal yang dinilai krusial.

Program ini juga merupakan bagian dari agenda besar pemerintahan Prabowo Subianto dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Libatkan Sekolah dan Masyarakat

Yang membedakan program ini dari sebelumnya adalah pendekatan pelaksanaannya. Pemerintah menggunakan skema swakelola, di mana sekolah dan masyarakat dilibatkan langsung dalam proses pembangunan.

Kepala sekolah bertindak sebagai penanggung jawab, sementara warga sekitar turut berkontribusi dalam pengadaan material hingga pengerjaan fisik.

“Ketika masyarakat ikut terlibat, ada rasa memiliki yang tumbuh. Ini penting agar fasilitas yang dibangun bisa dirawat bersama,” kata Atip.

Pendekatan ini tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

Sasar Daerah 3T dan Wilayah Tertinggal

Revitalisasi di Gorontalo juga menyasar daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang selama ini kerap mengalami keterbatasan fasilitas pendidikan.

Pemerintah menargetkan ribuan sekolah di seluruh Indonesia dapat diperbaiki sepanjang tahun 2026, dengan prioritas pada wilayah yang membutuhkan penanganan cepat.

Langkah ini diharapkan mampu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.

Perubahan Nyata di Sekolah

Dampak revitalisasi mulai dirasakan langsung oleh sekolah penerima manfaat. Kepala SMP Negeri 4 Telaga, Aysa Utiarahman, menyebut perubahan yang terjadi sangat signifikan.

“Kami mendapatkan lima paket revitalisasi, mulai dari laboratorium komputer, toilet baru, hingga rehabilitasi ruang kelas. Dampaknya luar biasa bagi proses belajar,” ujarnya.

Sebelum perbaikan dilakukan, fasilitas sanitasi di sekolah tersebut sangat terbatas. Bahkan, siswa harus menggunakan fasilitas milik warga sekitar.

Kini, kondisi tersebut telah berubah. Fasilitas yang lebih layak membuat siswa dapat belajar dengan lebih nyaman dan aman.

Suara Siswa: Lebih Nyaman dan Fokus Belajar

Perubahan ini juga dirasakan langsung oleh para siswa. Salah satunya Ismail Husein, siswa kelas VIII, yang mengaku lebih semangat belajar setelah ruang kelasnya direnovasi.

“Dulu dindingnya retak dan ada yang berlubang. Sekarang sudah rapi dan bagus. Kami jadi lebih nyaman dan bisa belajar lebih fokus,” katanya.

Ismail juga mengapresiasi penambahan fasilitas seperti laboratorium dan toilet yang mendukung kegiatan belajar sehari-hari.

Tidak Berhenti di Pembangunan

Meski pembangunan fisik menjadi fokus utama, pemerintah menekankan bahwa revitalisasi tidak berhenti pada tahap tersebut. Pemeliharaan fasilitas menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan masyarakat.

Selain itu, perhatian juga diberikan pada aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah, termasuk fasilitas sanitasi yang layak.

“Sekolah yang baik bukan hanya dibangun, tetapi juga harus dirawat,” tegas Atip.

Dorong Gerakan Bersama

Pemerintah juga membuka ruang partisipasi publik dalam program ini. Masyarakat didorong untuk melaporkan kondisi sekolah yang membutuhkan perbaikan, bahkan ikut berkontribusi dalam pemenuhan fasilitas tambahan.

Dengan pendekatan kolaboratif ini, revitalisasi pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi program pemerintah semata, tetapi gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Dari Kelas Bocor ke Sekolah Layak: Revitalisasi Pendidikan di Gorontalo Dikebut, Libatkan Warga"