Dari Pelosok NTT untuk Indonesia: Kisah Ibu-Ibu yang Menyalakan Lentera Literasi Anak Bangsa

Gelar Wicara bertajuk “Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi” yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), di Jakarta, Selasa (21/4/2026). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; JAKARTA – Di sejumlah desa di Nusa Tenggara Timur (NTT), buku bacaan berwarna masih menjadi barang yang dinanti anak-anak seperti hadiah istimewa. Namun di balik keterbatasan itu, lahir gerakan sunyi yang pelan tapi pasti menyalakan lentera literasi—dipelopori para perempuan.

Kisah inilah yang mengemuka dalam Gelar Wicara bertajuk “Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi” yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Acara yang bertepatan dengan momentum Hari Kartini 21 April ini menghadirkan para pegiat literasi dari NTT, yang selama beberapa tahun terakhir konsisten membangun budaya baca dari rumah, sekolah, hingga komunitas.

Literasi Dimulai dari Rumah

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan bahwa peningkatan literasi tidak bisa dibebankan semata kepada guru.

“Literasi bukan hanya urusan sekolah. Ia dimulai dari rumah. Dari ibu yang membacakan cerita sebelum anak tidur, dari keluarga yang menghadirkan buku sebagai teman bermain,” ujar Hafidz.

Hafidz menyebut praktik kolaborasi di NTT sebagai contoh nyata bagaimana ekosistem pendidikan bergerak bersama—mulai dari Bunda Literasi, kepala sekolah, guru, hingga forum taman bacaan masyarakat.

Menurut Hafidz, penguatan literasi harus menyentuh tiga ranah sekaligus: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tanpa keterlibatan perempuan, terutama ibu, fondasi itu akan timpang.

Buku Berwarna adalah Kemewahan

Bunda Literasi Provinsi NTT periode 2025–2030, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, berbagi cerita yang menggugah. Di banyak wilayah NTT, anak-anak masih jarang bersentuhan dengan buku bacaan bermutu dan menarik.

“Di NTT, buku bacaan yang berwarna dan bergambar itu adalah kemewahan yang sangat dinantikan anak-anak,” tutur Mindriyati.

Karena itu, Mindriyati aktif mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan dana BOS untuk pengadaan buku yang telah dikurasi Badan Bahasa. Ia juga menggagas gerakan “Satu ASN, Satu Buku Layak Baca” serta membawa Pojok Baca sebagai “oleh-oleh” setiap kunjungan kerja ke desa-desa.

Tak hanya soal buku, Mindriyati juga menaruh perhatian besar pada cara mengajar membaca di kelas awal. Ia ingin proses belajar tidak menjadi pengalaman yang menakutkan.

“Kami ingin anak yang belum lancar membaca tidak merasa minder. Belajar harus menyenangkan, bukan membuat trauma,” tegas Mindriyati.

Kolaborasi ini diperkuat oleh Kelompok Kerja Literasi dan Forum Taman Bacaan Masyarakat yang membantu menyortir buku sesuai usia, agar distribusi bacaan lebih tepat sasaran.

Perempuan sebagai Tiang Literasi

Bagi Mindriyati, semangat Kartini hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan aksi nyata. “Perempuan adalah tiang keluarga. Kalau perempuannya berdaya, keluarganya maju. Kalau keluarga maju, daerah dan negara ikut maju,” ujarnya.

Mindriyati memperluas makna literasi tak hanya pada baca-tulis, tetapi juga literasi digital dan finansial. Menurutnya, perempuan perlu dibekali kemampuan menyaring informasi dan mengelola keuangan agar keluarga tidak terjerat pinjaman ilegal maupun judi daring.

Gerakan literasi di NTT juga menggandeng kader PKK dan Posyandu. Para ibu diajak menjadi teladan dengan membiasakan membaca di rumah. “Jika ibunya suka membaca, ruang bagi anak untuk mencintai buku akan terbuka lebar,” cetus Mindriyati.

Kolaborasi Lintas Negara dan Daerah

Upaya peningkatan literasi di NTT turut diperkuat melalui Program Inovasi (Inovasi Anak Sekolah Indonesia), kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia. Pendekatan kontekstual yang diterapkan membantu meningkatkan kemampuan baca-tulis siswa sekolah dasar di wilayah terpencil.

Wakil Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen, Neni Ruhaeni, mengapresiasi perempuan-perempuan daerah yang telah menjadi agen perubahan.

“Perempuan yang berpendidikan akan mampu memaksimalkan potensinya dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” ujar Neni.

Lentera Kecil, Dampak Besar

Kisah dari NTT menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak selalu lahir dari kebijakan besar semata. Ia tumbuh dari ruang-ruang kecil: sudut baca sederhana, buku yang dibagikan dengan tulus, dan ibu yang setia mendampingi anak mengeja kata demi kata.

Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, komunitas, dan mitra pembangunan menjadi fondasi penting dalam memperkuat literasi nasional. Namun pada akhirnya, perubahan itu tetap berakar pada sosok perempuan—ibu dan guru—yang setiap hari menanam benih kecintaan pada ilmu.

Dari pelosok Flobamora, semangat itu kini menginspirasi Indonesia.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)


Posting Komentar untuk "Dari Pelosok NTT untuk Indonesia: Kisah Ibu-Ibu yang Menyalakan Lentera Literasi Anak Bangsa"