Jangan Asal Turun Oktan! Pakar ITB Peringatkan Risiko Rusaknya Mesin di Tengah Kenaikan Harga BBM

Mengisi BBM. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: M Zuhro AH

GEBRAK.ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi belakangan ini membuat banyak pemilik kendaraan berpikir untuk melakukan penghematan dengan cara menurunkan kualitas BBM. Misalnya, yang biasa mengisi Pertamax Turbo (RON 98) beralih ke Pertamax (RON 92) atau bahkan ke yang lebih rendah lagi.

Namun, langkah ini ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan bahwa upaya penghematan dengan cara ini justru bisa berisiko merusak mesin, terutama untuk kendaraan modern.

Menurut Yannes, kunci utamanya terletak pada satu hal yang sering diabaikan pemilik mobil: rasio kompresi mesin. Memahami angka ini adalah harga mati sebelum Anda memutuskan untuk mengganti jenis BBM.

Beda Oktan, Beda Fungsi, Beda Risiko

Yannes menjelaskan secara rinci bahwa setiap jenis BBM memiliki "pasangan" mesin yang ideal. Pertamax Turbo dengan nilai oktan 98 dirancang khusus untuk mesin berkompresi tinggi, yaitu sekitar 12,1:1 hingga 14,0:1, termasuk di dalamnya mesin-mesin yang dilengkapi turbocharger.

Sementara itu, Pertamax dengan RON 92 lebih cocok untuk mesin dengan rasio kompresi 10:1 hingga 11:1. Mencampuradukkan keduanya, kata Yannes, bukanlah ide yang baik.

"Pertamax Turbo dengan RON 98 dirancang khusus untuk mesin berkompresi tinggi, yakni sekitar 12,1:1 hingga 14,0:1, termasuk mesin turbo," kata Yannes dikutip dari Antara dari Jakarta, Senin (20/4/2026).

Tiga Dampak Buruk Jika Nekat Turun Oktan

Lantas, apa yang terjadi jika mesin berkompresi tinggi dipaksakan mengonsumsi BBM beroktan lebih rendah? Yannes memaparkan tiga dampak langsung yang akan segera terasa:

1.  Penurunan Performa: Tenaga mobil bisa turun antara 5 hingga 10 persen. Akselerasi terasa lebih berat dan kurang responsif.
2.  Boros Bahan Bakar: Ironisnya, alih-alih hemat, konsumsi BBM justru bisa naik 3 hingga 7 persen karena mesin bekerja lebih keras.
3.  Risiko Knocking: Ini adalah bahaya paling serius. Knocking atau ngelitik adalah pembakaran tidak terkendali di dalam ruang mesin yang bisa merusak piston dan komponen internal lainnya.

"Jika mesin mobil yang memiliki rasio kompresi tinggi tersebut diberikan Pertamax RON 92 yang cocok untuk mesin dengan rasio kompresi 10:1 hingga 11:1, maka bisa menyebabkan penurunan performa 5-10 persen, konsumsi BBM naik 3-7 persen, serta risiko knocking ringan dan saat akselerasi terasa berat," imbuh Yannes.

Jangan Terlena dengan Fitur Knock Sensor

Memang, sebagian besar kendaraan modern saat ini telah dibekali teknologi knock sensor. Fitur ini mampu menyesuaikan timing pengapian untuk mencegah knocking secara otomatis.

Namun, Yannes dengan tegas mengatakan bahwa itu bukanlah tiket untuk menggunakan BBM di bawah spesifikasi dalam jangka panjang. "Tetapi itu bukan pilihan optimal jangka panjang," katanya.

Menurut Yannes, risiko keausan komponen mesin tetap mengintai, terutama pada kendaraan sport atau yang menggunakan supercharger. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mempercepat kerusakan mekanis yang biaya perbaikannya jauh lebih mahal daripada selisih harga BBM.

Tips dari Pakar: Cek Manual, Rasakan Getaran

Bagi pengendara yang terpaksa harus menurunkan kualitas BBM demi efisiensi biaya, Yannes mengingatkan agar tetap mengacu pada rekomendasi pabrikan yang tertera di buku manual kendaraan.

"Jika ini terjadi maka sebaiknya segera isi tangki dengan BBM oktan tinggi sesuai anjuran buku manualnya," sarannya.

Yannes juga meminta pemilik kendaraan waspada terhadap perubahan karakteristik mesin, seperti munculnya suara menggelitik, getaran berlebih, atau penurunan performa saat akselerasi. Jika tanda-tanda itu muncul, segera kembalikan ke BBM dengan oktan yang sesuai.

Sebagai pengetahuan tambahan, rasio kompresi adalah perbandingan antara volume ruang bakar saat piston di titik paling bawah dan saat di titik paling atas. Semakin tinggi rasionya, semakin besar tekanan dan suhu yang dihasilkan, sehingga membutuhkan oktan yang lebih tinggi.

Intinya, memahami spesifikasi mesin sendiri adalah bentuk perawatan paling dasar sekaligus paling penting. Jangan sampai niat menghemat beberapa ribu rupiah per liter, malah berakhir dengan mengeluarkan puluhan juta untuk turun mesin.

(Sumber: Antara News)

Artikel Terkait:

- Harga BBM Non-Subsidi di Pertamina dan BP-AKR Naik Drastis: Ada Diesel Tembus Rp25.560/Liter!

- Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi: Dorong Konsumen Kelas Atas Beralih ke Mobil Listrik?

- Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Melonjak Mulai 18 April 2026, Ini Dampaknya bagi Konsumen 

Posting Komentar untuk "Jangan Asal Turun Oktan! Pakar ITB Peringatkan Risiko Rusaknya Mesin di Tengah Kenaikan Harga BBM"