![]() |
| Sejumlah murid sekolah dasar (SD) di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, rela menempuh perjalanan berjam-jam demi mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD 2026. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen) |
GEBRAK.ID; KEPULAUAN YAPEN – Semangat belajar tak pernah surut, bahkan ketika harus melawan ganasnya ombak laut. Itulah potret nyata perjuangan murid sekolah dasar di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, yang rela menempuh perjalanan berjam-jam demi mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Pelaksanaan TKA tingkat SD yang digelar serentak secara nasional pada April 2026 ini bukan sekadar ujian biasa. Di wilayah timur Indonesia, terutama Papua, TKA menjadi simbol tekad kuat untuk meraih masa depan melalui pendidikan.
Hasil pemantauan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Papua menunjukkan pelaksanaan TKA di Kepulauan Yapen berlangsung tertib, jujur, dan penuh semangat. Di balik itu, tersimpan kisah inspiratif tentang kolaborasi sekolah, dukungan orang tua, serta kegigihan para murid.
Perjalanan 6 Jam demi Ujian
Kepala SD Negeri Awado, Muhajir, mengungkapkan bahwa sekolahnya harus menumpang lokasi ujian di SD Integral Lukman Al Hakim Serui. Untuk mencapainya, guru dan murid harus menyeberangi laut menggunakan perahu.
“Kalau laut tenang, perjalanan bisa sekitar empat jam. Tapi kalau ombak besar, bisa sampai enam jam. Setibanya di Serui, kami juga harus mencari tempat menginap untuk anak-anak,” ujar Muhajir.
Meski perjalanan berat, semangat para siswa tak luntur. Mereka tetap antusias mengikuti ujian yang dianggap penting untuk masa depan mereka.
Salah satu siswa, Andai Darling Woraba, mengaku TKA menjadi motivasi besar baginya. “Kami tetap semangat karena ini membantu kami mengetahui kemampuan dan jadi bekal ke jenjang berikutnya,” katanya.
Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua
Di sisi lain, kesiapan matang juga terlihat di SD Integral Lukman Al Hakim Serui. Kepala sekolah, Mahfud Fauzi, menyebut pihaknya telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari koordinasi dengan dinas pendidikan hingga memastikan ketersediaan listrik dan internet.
Tak hanya itu, peran orang tua juga sangat terasa. Mereka turut membantu menyediakan perangkat komputer dan laptop untuk menunjang pelaksanaan TKA.
“Bahkan ada orang tua yang rela meminjamkan perangkatnya jika sekolah mengalami keterbatasan,” ungkap Mahfud.
Hal serupa disampaikan Kepala SD Inpres 1 Serui, Herdelina Sembay. Ia mengatakan, para guru rutin memberikan latihan soal sebelum ujian, sementara orang tua setia mendampingi anak-anak hingga sore hari.
Dari Gugup Jadi Percaya Diri
Bagi para murid, pengalaman mengikuti TKA juga membawa kesan tersendiri. Nur Aisyah mengaku sempat merasa cemas sebelum ujian dimulai. “Awalnya takut, tapi ternyata soalnya mudah karena sudah dipelajari sebelumnya,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Julio Iwanggin. Rasa gugup perlahan hilang setelah ia fokus membaca soal dan menjawab dengan tenang.
Bukti Nyata Pendidikan untuk Semua
Kisah dari Kepulauan Yapen menjadi gambaran kuat bahwa pemerataan pendidikan bukan sekadar wacana. Sinergi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, sebelumnya menegaskan pentingnya peran “Catur Pusat Pendidikan” dalam mewujudkan pendidikan berkualitas.
“Kolaborasi antarsekolah, dukungan orang tua, dan kegigihan murid menjadi bukti bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” ujar Mendikdasmen Mu'ti.
Pelaksanaan TKA di wilayah ini sekaligus menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan yang layak. Dari seberang lautan, harapan itu terus dijaga—demi masa depan generasi Indonesia yang lebih baik.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Menembus Ombak demi Masa Depan: Kisah Murid Papua Rela Berjam-jam Naik Perahu Ikuti TKA SD 2026"