Perundingan Damai AS-Israel Vs Iran Menuntut Kewarasan Politik

Haidar Bagir. (Foto: Mizan)
Oleh Haidar Bagir *)

Banyak orang bertanya, akan seperti apakah akhir Perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran? Saya telah menyinggung sedikit jawaban terhadap pertanyaan ini pada tulisan saya sebelumnya. Tapi, pertanyaan yang lebih mungkin disampaikan adalah bagaimana cara agar perundingan damai yang sekarang sedang diupayakan antara AS dan Iran bisa mencapai hasil? 

Inilah yang harus disampaikan pertama kali. Perundingan hanya akan menemukan jalan jika pihak yang paling menentukan arah eskalasi bersedia kembali kepada kewarasan politik. Dalam konteks ini, banyak pengamat menilai bahwa ruang itu sangat ditentukan oleh sikap waras—atau tidak— Presiden AS Donald Trump. Kenyataannya, sejauh ini, gertakan terhadap Iran tidak efektif. Alih-alih melumpuhkan, tekanan maksimal justru memperlihatkan sikap melawan oleh Iran. 

Salah satu contoh nyata adalah kebijakan pengetatan dan blokade terhadap ekspor minyak Iran. Dalam praktiknya, kebijakan ini tidak sepenuhnya berhasil menghentikan aliran minyak Iran ke pasar global. 

Iran menggunakan berbagai cara untuk tetap menyalurkan ekspornya: mulai dari jaringan perantara dan perusahaan “front”, pengalihan kapal (ship-to-ship transfer) di laut lepas, hingga praktik pelacakan yang disamarkan melalui pemadaman sinyal identifikasi kapal (AIS). Minyak kemudian dijual melalui jalur tidak langsung, terutama ke pasar yang tetap bersedia membeli dengan diskon. Dengan cara-cara ini, Iran masih mampu mempertahankan sebagian besar ekspor energinya.

Lebih jauh, asumsi dasar bahwa Iran akan tunduk di bawah tekanan militer sejauh ini juga terbukti keliru. Bukan saja Iran tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah, struktur pemerintahannya tampak tetap stabil. Bahkan, dalam sejumlah skenario, Iran menunjukkan kemampuan untuk membalas serangan—baik dari AS maupun Israel—secara terukur. 

Laporan-laporan menyebutkan bahwa sebagian besar sisa sistem rudal balistik Iran tetap utuh, dan kapasitas militernya belum mengalami degradasi yang membahayakan sistem pertahanan mereka.

Dalam perkembangan teknologi militer, Iran juga memperlihatkan adaptasi. Mereka memanfaatkan berbagai sistem pemandu—termasuk sensor panas (infrared tracking)—yang dirancang untuk mendeteksi dan menargetkan aset yang selama ini dianggap sulit dijangkau, termasuk pesawat siluman (stealth) AS. Ini menunjukkan bahwa keunggulan teknologi tidak lagi sepenuhnya asimetris seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Di tengah realitas seperti itu, kengototatn Trump pada tuntutan-tuntutan maksimal yang tidak masuk akal mempersempit—kalau tidak malah memustahilkan— tersisanya ruang untuk diplomasi. Salah satu yang paling problematik adalah tuntutan agar Iran menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya. Padahal, isu inilah yang sejak awal menjadi pemicu konflik. Jika pendekatan militer gagal memaksakan tujuan tersebut, bagaimana Trump kemudian menjadikannya prasyarat utama dalam perundingan? 

Hal yang sama berlaku untuk tuntutan lain AS, seperti pembatasan atau bahkan pembongkaran program rudal balistik Iran, pengurangan pengaruh regionalnya, serta berbagai syarat tambahan yang pada dasarnya menyasar pilar-pilar utama strategi pertahanan Iran. Dari perspektif Teheran, menerima syarat-syarat tersebut berarti menyerah—sesuatu yang hampir pasti tidak akan dilakukan oleh negara mana pun dalam posisi serupa.

Di sinilah letak kebuntuan utama: perang AS-Israel terhadap Iran tidak mencapai tujuan, tetapi perundingan tetap menuntut hasil yang sama seperti sebelum perang. 

Logika seperti ini bukan membuka jalan damai, melainkan justru menutupnya rapat-rapat. Karena itu, jika ada peluang bagi perundingan untuk menghasilkan sesuatu yang konkret, maka pendekatan harus bergeser. 

Tuntutan harus kembali ke wilayah yang lebih realistis: pembatasan terukur pengayaan uranium sesuai kesepakatan internasional, mekanisme verifikasi yang dapat diterima semua pihak, jaminan keamanan timbal balik, syarat-syarat yang seimbang bagi semua pihak yang terlibat beserta insentif-insentif yang adil sebagai imbalan konsesi, serta langkah-langkah bertahap lain yang memungkinkan kepercayaan dibangun kembali.

Dalam skenario seperti itu, respons Iran kemungkinan juga akan berubah. Dengan ruang yang lebih memungkinkan kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal seperti ini, Teheran dapat menunjukkan fleksibilitas—bukan karena tekanan untuk menyerah, melainkan berkat adanya pemberian keseimbangan yang masuk akal bagi pemeliharaan kepentingan-kepentingannya—yang tentu harus masuk akal pula. 

Pada akhirnya, perdamaian bukan hanya soal menghentikan tembakan, melainkan soal memelihara kewarasan. Tanpanya, tidak ada perundingan yang benar-benar dapat berjalan, alih-alih mencapai hasil yang diharapkan.

28 April 2026

*) Cendekiawan, filantropis, dan penulis.

Posting Komentar untuk "Perundingan Damai AS-Israel Vs Iran Menuntut Kewarasan Politik "