![]() |
| Tarif Transjakarta berpotensi naik dalam waktu dekat. (Foto: Gebrak.id) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Wacana kenaikan tarif TransJakarta kian menguat setelah jajaran direksi bertemu dengan Komisi B DPRD DKI Jakarta dalam rapat yang digelar pada Kamis, 23 April 2026. Pertemuan tersebut membuka fakta baru: beban subsidi yang terus membengkak membuat tarif Rp3.500 dinilai umum realistis untuk dipertahankan.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Welfizon Yuza, dalam rapat kerja bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta di Gedung DPRD, Jakarta, Kamis (23/4/2026), menegaskan bahwa kondisi keuangan operasional semakin tertekan.
“Dengan tarif Rp3.500 yang tidak berubah selama lebih dari 20 tahun, kemampuan pendapatan tiket masih jauh dari cukup untuk menutup biaya operasional,” ujar Welfizon dalam forum resmi tersebut.
Ia mengungkapkan, rasio cost recovery TransJakarta masih sangat rendah, sehingga sebagian besar biaya operasional harus ditutup melalui subsidi APBD. Kondisi ini dinilai tidak sehat dalam jangka panjang.
DPRD Soroti Beban Subsidi yang Membengkak
Dalam rapat yang berlangsung cukup alot itu, sejumlah anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta menyoroti besarnya subsidi yang terus meningkat setiap tahun. Mereka menilai, tanpa penyesuaian tarif, beban fiskal daerah akan semakin berat.
Salah satu anggota Komisi B dalam rapat tersebut menyatakan bahwa subsidi per penumpang saat ini sudah melampaui batas wajar.
“Setiap penumpang masih disubsidi cukup besar. Ini tidak bisa terus dibiarkan karena akan membebani APBD,” ujar anggota dewan dalam rapat kerja di DPRD DKI Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Namun demikian, DPRD juga mengingatkan agar rencana kenaikan tarif tidak dilakukan secara terburu-buru tanpa perbaikan layanan yang signifikan.
Pelayanan Jadi Sorotan, Publik Mulai Gerah
Selain soal tarif, rapat tersebut juga menyoroti kualitas layanan TransJakarta yang dinilai belum optimal. Beberapa anggota dewan mempertanyakan konsistensi waktu tunggu, kepadatan penumpang, hingga kondisi halte.
“Jangan sampai tarif naik, tapi pelayanan masih seperti sekarang. Itu akan menimbulkan resistensi dari masyarakat,” tegas salah satu anggota Komisi B dalam forum tersebut.
Kritik ini mempertegas keresahan publik yang selama ini mengeluhkan layanan yang belum sepenuhnya sebanding dengan kebutuhan mobilitas warga ibu kota.
Pemprov DKI: Kenaikan Tarif Tinggal Tunggu Momentum
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah mengakui bahwa secara kajian, penyesuaian tarif memang diperlukan. Namun, implementasinya masih menunggu kondisi ekonomi yang dianggap tepat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut subsidi per tiket sudah terlalu besar untuk dipertahankan.
“Kami sudah mensubsidi hampir Rp10 ribu per tiket. Ini tentu menjadi beban berat bagi APBD,” ujarnya usai rapat koordinasi di Balai Kota Jakarta, beberapa waktu lalu.
Warga Berpotensi Jadi Korban Kebijakan
Dengan hasil rapat terbaru antara direksi TransJakarta dan DPRD, sinyal kenaikan tarif kini semakin jelas. Di satu sisi, pemerintah menghadapi tekanan fiskal yang nyata. Di sisi lain, masyarakat berpotensi menanggung dampaknya.
Kondisi ini menempatkan warga Jakarta dalam posisi sulit: menghadapi kemungkinan kenaikan biaya transportasi, di tengah layanan yang belum sepenuhnya memuaskan.
Jika keputusan kenaikan benar-benar diambil dalam waktu dekat, maka era tarif Rp3.500 yang bertahan selama lebih dari dua dekade akan berakhir—dan publik harus bersiap menghadapi lonjakan biaya mobilitas harian
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Tarif TransJakarta di Ujung Tanduk: Usai Rapat Panas DPRD, Kenaikan Harga Kian tak Terhindarkan"