TKA SD 2026 di Bantul Tetap Lancar Meski Serba Terbatas, Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Jadi Kunci

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SD/MI di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berjalan tertib dan lancar. Di tengah keterbatasan sarana, keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi erat antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; BANTUL -- Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SD/MI di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berjalan tertib dan lancar. Di tengah keterbatasan sarana, keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi erat antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua.

Sejak tahap persiapan, satuan pendidikan telah melakukan berbagai langkah sistematis, mulai dari pendataan peserta, sosialisasi kepada wali murid, hingga simulasi dan gladi bersih. Upaya ini dilakukan untuk memastikan siswa siap, baik secara teknis maupun mental, dalam menghadapi asesmen.

Kepala SD Negeri Jaranan, Yanuarita Widi Astuti, menegaskan bahwa kesiapan siswa menjadi prioritas utama.

“Persiapan kami lakukan secara terstruktur, mulai dari pendataan melalui Dapodik hingga simulasi. Kami juga menanamkan kepada siswa bahwa TKA bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan bagian dari proses belajar,” ujar Yanuarita.

Yanuarita menambahkan, komunikasi dengan orang tua menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan diri siswa. Dengan dukungan keluarga, peserta didik diharapkan tidak merasa tertekan saat mengikuti ujian.

Di SD Negeri Jaranan sendiri, sebanyak 24 siswa kelas VI mengikuti TKA dengan antusias. Mereka terlihat percaya diri setelah melalui berbagai tahapan persiapan.

Keterbatasan tak Hambat Pelaksanaan

Hal serupa juga terlihat di SD Negeri 1 Bantul. Meski menghadapi keterbatasan fasilitas, pelaksanaan TKA tetap berjalan optimal. Kepala sekolah, Parjiyatmi, menjelaskan bahwa pihaknya membagi pelaksanaan dalam dua sesi untuk mengakomodasi jumlah siswa.

“Total siswa kelas VI ada 113 orang yang terbagi dalam empat kelas. Pelaksanaan TKA kami lakukan dalam dua sesi agar semua peserta dapat terlayani dengan baik,” jelas Parjiyatmi.

Selain kesiapan teknis, sekolah juga memperkuat aspek mental dan spiritual siswa. Pembiasaan ibadah serta kegiatan motivasi seperti Achievement Motivation Training (AMT) menjadi bagian dari strategi meningkatkan kesiapan peserta.

“Kami tidak hanya menyiapkan secara lahiriah, tetapi juga batiniah. Motivasi menjadi kunci agar siswa lebih siap menghadapi TKA,” tambah Parjiyatmi.

Namun demikian, Parjiyatmi mengakui masih adanya kendala, terutama terkait keterbatasan ruang dan perangkat teknologi informasi. Dukungan sarana ke depan dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Peran Guru dan Pengalaman Jadi Modal


Guru juga memegang peran penting dalam menyukseskan pelaksanaan TKA. Guru kelas VI SD Negeri 1 Bantul, Bayu, menyebut pengalaman sebelumnya dalam asesmen berbasis komputer sangat membantu proses pendampingan siswa.

“Kami sudah punya pengalaman dari asesmen sebelumnya, jadi bisa melakukan evaluasi dan pendampingan lebih optimal,” ujar Bayu.

Bayu mengakui tantangan tetap ada, terutama terkait keberagaman kemampuan siswa dan keterbatasan perangkat. Bahkan, beberapa perangkat tambahan berasal dari guru untuk menunjang pelaksanaan.

Siswa Antusias, Pembelajaran Digital Jadi Daya Tarik


Dari sisi siswa, pelaksanaan TKA justru disambut dengan semangat. Salah satu peserta, Revinta Yuniar Putri, mengaku pengalaman mengikuti TKA terasa menyenangkan.

“TKA itu menyenangkan. Memang ada soal yang sulit, tapi banyak juga yang bisa dikerjakan. Kami belajar bersama dan dibantu guru,” katanya.

Revinta juga menilai penggunaan media digital dalam pembelajaran membuat materi lebih mudah dipahami dan menarik, sehingga meningkatkan motivasi belajar.

Animo Tinggi, Pemerintah Perkuat Layanan


Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap TKA 2026 sangat tinggi.

“Kami menyadari animo masyarakat yang besar, sehingga kesiapan layanan menjadi prioritas utama,” ujar Toni.

Pelaksanaan TKA di Bantul menjadi gambaran bahwa keberhasilan asesmen tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga semangat kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan. Sinergi antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua terbukti mampu mengatasi berbagai keterbatasan.

Ke depan, penguatan sarana dan integrasi kebijakan pendidikan diharapkan terus ditingkatkan demi mendukung kualitas pembelajaran yang lebih merata di seluruh Indonesia.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)


Posting Komentar untuk "TKA SD 2026 di Bantul Tetap Lancar Meski Serba Terbatas, Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Jadi Kunci"